*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 21 Juni 2010 | 19.54
Asmin Koalindo Tuhup Digugat Mantan Kontraktornya

Abraham Lagaligo
abraham@tambang.co.id

Jakarta – TAMBANG. PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), sebuah perusahaan tambang batubara berkalori tinggi (coking coal), digugat oleh PT Asiamindo Nusa Minerals (ANM). Menariknya, ANM sebelumnya merupakan kontraktor AKT untuk proyek pertambangan di Tuhup, Kalimantan Tengah (Kalteng). Dalam gugatannya, ANM mempersoalkan pengambilalihan alat-alat berat yang akan digunakan dalam proyek pertambangan AKT di Tuhup.

Kuasa hukum ANM, Bimo Prasetio mengatakan, kliennya telah mendaftarkan gugatan tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel), pada Rabu, 9 Juni 2010. Gugatan itu terdaftar dengan nomor: No. 423/Pdt.G/2010/PN. Jkt Sel.

“Selain menggugat AKT sebagai Tergugat I, ANM juga menggugat Peter Stregas sebagai Tergugat II, dan Borneo Mining Services (BMS) sebagai Tergugat III,” tutur Bimo kepada Majalah TAMBANG, akhir pekan lalu.

Dalam gugatannya, ANM mempersoalkan pengambilalihan alat-alat berat yang akan digunakan dalam proyek pertambangan AKT di Tuhup. Sejatinya, ANM diminta oleh AKT untuk menyediakan 34 alat-alat berat bukan baru (used heavy equipment), serta menjadi kontraktor untuk proyek AKT di Tuhup.

Berdasarkan kesepakatan awal, ANM membeli alat-alat berat tersebut dari Groundhog Sales and Rentals (GHSR). Yakni perusahaan penyedia alat-alat berat dari Australia. Sedangkan untuk pembiayaan, ANM didukung oleh BMS.

Namun dalam proses pengurusan izin impor, Kementerian Perdagangan hanya memberikan izin atas 25 unit alat-alat berat. Sedangkan sembilan unit lainnya, masuk kategori “negative list” alias barang yang tidak dapat diimpor ke Indonesia. Mengingat barang sejenis sudah diproduksi di Indonesia.

“Atas dasar hal tersebut maka sembilan unit alat berat yang dipesan tidak dapat masuk ke Indonesia. Akibatnya, 10 unit terakhir yang akan dikirim oleh GHSR pun batal dikirim ke Indonesia,” tambah Bimo.

Ketika ANM sudah melakukan persiapan pekerjaan sesuai kontrak dengan AKT, seluruh equipment milik ANM diambilalih secara paksa oleh AKT. Akibatnya ANM tidak dapat melaksanakan pekerjaan. Belakangan diketahui, AKT ternyata mengoperasikan sendiri equipment milik ANM tersebut di proyek pertambangannya.

Akibat pengambilalihan tersebut, ANM menderita kerugian materiil sebesar USD 23,699,418.03 dan Rp. 910.766.454,20, serta kerugian immateriil sebesar Rp. 10.000.000.000,-. Kerugian itu terdiri dari biaya yang telah dikeluarkan untuk persiapan pekerjaan di site Tuhup, biaya sewa alat-alat berat, serta kehilangan penghasilan atas pelaksanaan Kontrak Kerjasama.

“Klien kami menilai pengambilalihan dan penggunaan Equipment oleh Para Tergugat merupakan perbuatan melawan hukum. Karena berdasarkan izin dari Depdag, equipment tersebut masih dimiliki secara sah oleh Klien kami,” ujar Bimo Prasetio dari kantor hukum Adisuryo & Co.

Menurut Bimo, berdasarkan izin dari Kementerian Perdagangan, equipment tersebut hanya boleh dimiliki dan digunakan oleh ANM sendiri selama kurun waktu minimal dua tahun pertama. Setelah itu barulah equipment dapat dialihkan kepada pihak lain.

“Artinya, equipment tidak bisa digunakan atau dimiliki oleh pihak lain sebelum dimiliki dan digunakan oleh ANM sendiri selama kurun waktu tersebut,” tandasnya.

“Ketentuan itu bersifat kumulatif bukan alternatif, jadi tidak boleh disimpangi. Peraturan dari Depdag itu kan bertujuan untuk melindungi produk dalam negeri. Dan pengajuan gugatan ini juga untuk melindungi hak dan kepentingan Klien kami karena Klien kami bukan supplier alat-alat berat, namun ingin bekerja sebagai kontraktor dalam proyek itu,” tambah Bimo.

PT Asmin Koalindo Tuhup merupakan anak perusahaan dari PT Borneo Lumbung Energi (Borneo Energi). Borneo sendiri berencana IPO pada semester I tahun ini, dengan target perolehan dana US$500 juta-US$700 juta. Borneo Energi merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Renaissance Capital.

Borneo Energi, yang memiliki 100% saham PT Asmin Koalindo Tuhup, akan melepas 20%-25% saham ke pasar (Initial Public Offering). PT Asmin Koalindo Tuhup kini menghasilkan batubara dengan kapasitas terpasang 2,4 juta ton per tahun. Perusahaan itu juga sedang dalam proses pembelian peralatan tambahan dan peningkatan infrastruktur, guna mengejar kapasitas 3,6 juta per tahun sebelum Agustus 2010.

icon