*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 22 November 2010 | 21.18
Penambangan Emas Ilegal Di Sumbawa Sulit Ditertibkan

Salah satu lokasi tambang rakyat di
Pondok Ganjar Kabupaten Lombok
Barat. (Dok.Dinas Pertambangan NTB)
(ilustrasi)

Abraham Lagaligo
abraham@tambang.co.id

Sumbawa – TAMBANG. Sampai hari ini, penambangan emas secara ilegal di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus berlangsung, bahkan semakin marak. Para penambangan liar yang banyak datang dari luar daerah, menjarah lahan-lahan yang tak kunjung dikerjakan oleh pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan).

Sejauh ini, pemerintah daerah (pemda) setempat kesulitan menghentikan aktivitas yang merusak lingkungan itu. Bahkan wakil rakyat menilai ada semacam proses pembiaran dari aparat yang berwenang.

Wakil Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbawa, Fitrarino mengungkapkan, daerahnya sangat kaya akan cadangan emas. Di Sumbawa yang terdiri dari 24 kecamatan, hanya dua kecamatan saja yang tidak memiliki potensi cadangan emas.

Selebihnya, sebanyak 22 kecamatan di Sumbawa sangat kaya akan potensi emas. “Namun karena tidak dikelola dengan baik, akhirnya banyak ditambang secara tradisional oleh masyarakat, dan tidak memberikan hasil apa-apa bagi keuangan daerah,” ujarnya kepada Majalah TAMBANG, awal November 2010.

Ke depan, lanjutnya, Pemda Sumbawa dalam hal ini pihak eksekutif dan legislatif, akan membenahi itu semua. Pemda akan melakukan penataan, dan mempersiapkan mulai dari regulasinya, hingga sumber daya manusianya.

“Potensi ini harus digarap dengan baik sehingga ada hasilnya untuk daerah,” tegas Fitrarino. Pemda Sumbawa juga akan menyiapkan dari sisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), agar nantinya pertambangan tidak tumpang tindih dengan pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

“Kita sedang berpikir bagaimana menggeser konsentrasi (kegiatan perekonomian, red) dari pertanian dan peternakan ke pertambangan,” jelasnya.

Fitrarino mengatakan, sebenarnya saat ini sudah ada 24 IUP tambang emas yang dikeluarkan oleh Pemda Sumbawa. Namun herannya, semua IUP masih dalam tahap eksplorasi, meski izinnya sudah diberikan delapan tahun lalu.

Entah mengapa IUP-IUP itu tidak kunjung dieksploitasi. Padahal dalam dua tahun saja kalau serius sudah bisa berproduksi. “Sepertinya yang memegang IUP bukan penambang, tapi hanya calo. Karena seolah-olah lahan IUP-nya dibiarkan begitu saja tidak kunjung digarap,” urainya.

Akibatnya, lahan-lahan IUP yang tidak dikerjakan itu sekarang dijarah oleh masyarakat. Seperti yang terjadi pada lahan milik PT Ayubi di Gunung Olat Labaong, Kecamatan Lati, Dusun Hijrah, Sumbawa. Lahan tersebut banyak dijarah orang dari luar Sumbawa, yang justru menikmati kekayaan dari mengeduk emas di Bumi Samawa.

“Ada sekitar 15.000 unit peralatan tambang tradisional yang tersebar. Aktivitas para penambang liar ini mencemari lingkungan, sungai, sawah, sarana irigasi, dan sebagainya, yang tercemari oleh merkuri,” sambung Fitrarino lagi.

Gunung-gunung dan perbukitan di Sumbawa saat ini sudah tak nampak keindahannya. Sejauh mata memandang, hanya warna-warni tenda penambang tradisional yang terlihat. “Karena tidak memenuhi kaidah lingkungan, akhirnya banyak tambang itu yang ambruk, dan sudah puluhan orang mati,” ujarnya.

Sumber Majalah TAMBANG menyebutkan, penambangan liar emas di Sumbawa juga berlangsung di daerah Lape. Bahkan pada Agustus 2010 lalu, terhitung sudah 150 orang tewas akibat tertimpa longsoran terowongan tambang yang ambruk, dank arena sebab-sebab lainnya.

Selain di Sumbawa, penambangan liar emas juga terjadi di Sekotong, Lombok Barat. Ditengarai banyak juga penambang dari Sekotong yang kini ikut pindah mengais rezeki di Sumbawa. Pulau Sumbawa mengandung emas kadar tinggi sehingga orang banyak berebut.

Dalam kasus ini, kata Fitrarino, aparat seolah tak sanggup menertibkan. Padahal mereka mempunyai personel dan perangkat yang bisa digerakkan. “Kami menduga ada proses pembiaran, dan oknum pemda juga oknum DPRD ada yang bermain di sana,” tandasnya.

Tarikan retribusi tidak resmi sudah menjadi rahasia umum di Sumbawa. Banyak orang yang mengais rezeki di dalam situasi ini. Kondisi ini mengingatkan pada penambangan emas liar di Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra). “Mungkin karena mereka merasa kok orang luar bisa kaya, mereka juga ingin ikut kenikmati,” ungkap Fitrarino lagi.

icon