*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 17 Maret 2011 | 06.19
JATAM-WALHI: Tambang Pasir Besi, Monster Di Kawasan Pesisir

Seorang demonstran dari Jatam dan Walhi me-
lakukan aksi teatrikal "Gurita" di depan Istana
Negara, Kamis, 17 Maret 2011.

Taufiequrrohman
taufieq@tambang.co.id

Jakarta-TAMBANG. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Bengkulu mendesak kepada pemerintah untuk menghentikan seluruh aktivitas pertambangan khususnya pasir besi di pesisir pantai Indonesia.

Dalam aksi demonstasi yang digelar di depan Istana Negara hari ini, Jatam dan Walhi juga meminta pelaku pelanggaran HAM dan UU disektor pertambangan ditindak tegas.

“Kami menyerukan kepada seluruh elemen bangsa; hentikan seluruh aktivitas pertambangan khususnya pasir besi di pesisir pantai Indonesia dan menindak tegas pelaku pelanggaran HAM maupun UU terkait di Indonesia, serta membongkar gurita tambang pasir besi yang telah merugikan bangsa dan rakyat Indonesia”Ujar Direktur Walhi Zenzi Suhadi di Jakarta, Kamis, 17 Maret 2011.

Zenzi menambahkan, dalam kurun 5 tahun terkahir penambangan pasir besi di Indonesia terus meningkat. Daya rusak tambang pasir besi tak beda dengan tambang mineral lainnya.

Bahkan, tambang pasir besi ini bak monster yang dapat mendatangkan bencana secara langsung. Monster ini bila dibiarkan menggurita dipesisir pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa, NTT, NTB dan Sulawesi oleh pemerintahan SBY.

Jatam dan Walhi mencatat, banyak izin pertambangan pasir besi yang berlokasi di pesisir pantai dikeluarkan begitu saja oleh pemerintah.

Misalnya saja PT. Lhoong Setia Mining (Aceh), PT. Citra Trahindo Pratama (Sumut), PT. Minang Pangeran (Sumbar), PT. Selomoro Banyu Artha dan PT. Famiartadio Nagara (Bengkulu), PT. Asgarindo Prima Utama (Jawa Barat), PT. Aneka Tambang (Jawa tengah/Cilacap), PT. Jogja Mangasa Iron (Yogyakarta), PT. Aneka Tambang (Jawa Timur/Lumajang) dan PT. Anugrah Mitra Graha (NTB).

Kejadian Tsunami di Jepang dan tsunami 3 kali yang terjadi di Indonesia dalam kurun 5 tahun terakhir, seharusnya menjadi peringatan keras bagi bangsa ini untuk tidak lagi menghancurkan kawasan pesisir pantai.

Karena kawasan pesisir adalah benteng pertama menghadapi ancaman tsunami, ombak besar dan angin laut bagi warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai.

"Saat ini, Provinsi Aceh, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kulonprogo, Blitar. Lumajang, Manggarai dan Bima merupakan wilayah yang kondisi kawasan hutan pantainya rusak parah karena dikeruk oleh pertambangan pasir besi," pungkasnya.

icon