*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 21 Oktober 2011 | 19.21
MPI: Jero Wacik Yang Paling Tepat Memimpin ESDM Saat Ini

Herman Afif Kusumo

Abraham Lagaligo
abraham@tambang.co.id

Jakarta – TAMBANG. Ditengah banyak pihak meragukan kemampuan Jero Wacik memimpin Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini, Masyarakat Pertambangan Indonesia (MPI) punya pendapat lain.

Ketua Presidium MPI, Herman Afif Kusumo mengatakan, alumni Teknik Mesin ITB angkatan 1970 itu, adalah figur yang paling tepat memimpin Kementerian ESDM, ditengah kondisinya yang sedang terjepit saat ini. Apalagi pria asal Bali itu dikenal sebagai sosok yang bersih, bersahaja, berjiwa nasionalisme kuat, dan tidak bisa “dibeli”.

Herman menjelaskan, Kementerian ESDM saat ini sedang terjepit oleh tuntutan peningkatan lifting minyak dan gas (migas) nasional. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) pun sudah “lempar handuk”, pesimis produksi migas nasional tahun ini bisa mencapai target.

Disaat yang sama, ada juga desakan merevisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang migas. Ditambah lagi agenda renegosiasi kontrak-kontrak pertambangan asing, yang semasa kepemimpinan Darwin Zahedy Saleh “jalan ditempat”.

“Paling tidak Jero Wacik bisa menggelitik solidaritas almamater adik-adik kelasnya di ITB, untuk bersama-sama bekerja keras membangun sektor ESDM yang tangguh. Kalau Jero Wacik memimpin dengan kasih, saya yakin akan berhasil,” ujar Herman di Jakarta, Jumat, 21 Oktober 2011.

Hal pertama yang harus dilakukan Jero Wacik saat ini, lanjutnya, membenahi organisasi di Kementerian ESDM. Dia harus memperbaiki kesenjangan antara atasan dan bawahan, memulihkan harga diri orang-orang ESDM yang carut-marut selama dipimpin Menteri ESDM sebelumnya.

“Berbagai jabatan staf khusus Menteri yang sebelumnya berentet, dihapuskan saja. Dorong pejabat Eselon I, II, dan III bekerja lebih baik. Dari situ, dalam seratus hari pertama pilih pejabat-pejabat terbaik untuk membentuk tim yang solid,” tambahnya.

Herman mengakui, banyak orang yang tidak mengenal Jero Wacik, sehingga meragukannya. Mereka mengatakan, selama di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tidak memberi kemajuan. “Pertanyaannya, latar belakangnya teknik kok disuruh menangani pariwisata?,” tukasnya.

Herman yang juga senior Jero Wacik di ITB menuturkan, Wacik (sapaannya, red) dulu menerima jabatan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, karena tidak mau rewel. Sebagai orang baru di Partai Demokrat waktu itu, dia tidak ingin banyak menuntut, hanya berusaha melaksanakan tugas.

Di ITB, Jero Wacik juga menempuh pendidikan di jurusan yang cukup prestisius, Teknik Mesin. Dia juga dikenal sebagai aktivis, dan pernah menjabat Ketua Jurusan. “Lulusnya juga cepat, empat tahun. Suatu hal yang langka di ITB saat itu, banyak yang sampai sepuluh tahun,” tandas Herman.

Lulus dari ITB, Jero Wacik bekerja di perusahaan kontraktor pertambangan dan migas terkenal. Sampai kemudian memutuskan jadi pengusaha, dan sukses. Setelah itu baru masuk partai politik. Di kantor DPR, Senayan, banyak orang yang sebel karena Jero Wacik dikenal tidak bisa “dibeli”.

“Saya pikir Pak Priyono (Kepala BP Migas) akan respect pada Pak Jero Wacik, dan mendukung habis-habisan. Begitu pun Dirjen Migas, Bu Evita. Mereka semua dari ITB. Ditambah lagi Wakil Menterinya Prof Widjajono Partowidagdo, satu angkatan tapi beda jurusan dengan Pak Wacik, makin klop,” tandasnya lagi.

Untuk mengatasi berbagai problem di ESDM, Herman yang alumni Teknik Pertambangan ITB angkatan 1968 mengatakan, Jero Wacik tidak akan kesulitan. “Orangnya fighter, tapi supel dan tidak segan meminta bantuan. Tinggal ajak pejabat-pejabat ESDM main golf, persoalan akan terurai,” sambungnya.

Soal kekhawatiran bakal menjadi “mesin uang” Partai Demokrat, Herman ganti bertanya, Menteri mana dari partai politik yang steril dari urusan itu? Namun yang jelas, pengangkatan Jero Wacik disambut “pesta” oleh karyawan Direktorat Jenderal Minerba. “Jadi dari sisi mental, Jero Wacik sudah menang,” pungkasnya.

icon