*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 06 Februari 2012 | 16.25
Kembangkan Shale Gas, Indonesia Asup Ilmu Amerika

Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo
(tengah), Wakil Menteri Energi Untuk Kebijakan
dan Hubungan Internasional - Amerika Serikat,
David Sandalow (kiri) dan Direktur Jenderal
Minyak dan Gas Bumi KESDM, Evita H. Legowo
berdialog usai membuka acara United States–
Indonesia Energy Policy Dialogue di Jakarta,
Senin 6 Februari 2011.

Saifudin
saifudin@tambang.co.id

Jakarta – TAMBANG. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan pertemuan dengan delegasi Amerika Serikat untuk sharing pengalaman seputar pengembangan sumber gas non-konvensional, khususnya shale gas. Tidak hanya terkait investasi, kesediaan teknologi juga menjadi poin utama pembicaraan. Untuk pengembangan shale gas, pemerintah menetapkan tahun ini sebagai awal pelaksanaan.

“Untuk Shale gas peraturannya kita sudah persiapkan sejak tahun lalu dan bisa dimulai tahun ini. Sekarang ini kita sedang berbicara dengan pihak Amerika untuk mereka sharing pengalaman mereka dalam mengembangkan gas non-konvensional,” ucap Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi KESDM, Evita H. Legowo di acara United States – Indonesia Energy Policy Dialogue di Jakarta, Senin 6 Februari 2011.

Diakui Evita belum ada kata final terkait kerjasama dengan pihak Amerika untuk mengembangkan gas non-konvensional ini. Semua masih dalam pembicaraan dan sekadar berbagai pengalaman. “Setidaknya mereka bantu pengalaman. Mungkin kita juga akan kirim orang ke sana (Amerika) untuk belajar tentang shale gas ini. Jadi kita akan arah ke sana, seperti tahun sebelumnya di mana kita kirim orang untuk belajar panas bumi di sana,” ungkapnya.

Dikatakan Evita setidaknya ada 15 perusahaan termasuk di dalamnya Exxon Mobile yang tertarik berinvestasi di Indonesia untuk mengembangkan proyek shale gas.

"Dari 15 perusahaan yang mengajukan joint study shale gas di Indonesia, salah satunya adalah Exxon Mobile. Exxon nantinya akan bekerjasama dengan partner lokal dalam bentuk konsorsium,” jelasnya.

Mengenai investasi yang akan dikeluarkan, Evita masih belum tahu. "Kita akan lihat hasil joint studinya dulu," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo mengatakan butuh investasi yang lebih besar untuk mengembangkan gas non-konvensional dibanding gas konvensional. Oleh karena itu pemerintah harus menyiapkan insentif-insentif tertentu agar iklim investasi gas non-konvensional ini bisa terbangun dan tumbuh.

“Insentif bisa berupa pengurangan pajak atau kebijakan fiskal lainnya. Selama ini produksi turun karena iklim investasi yang tidak bagus,” ucap Widjajono di kesempatan yang sama.

Kondisi inilah yang kemudian mendorong KESDM melakukan kajian dengan pihak Amerika. Di mana Amerika sendiri telah membuktikan keberhasilannya dalam mengembangkan shale gas. Wakil Menteri Energi Untuk Kebijakan dan Hubungan Internasional - Amerika Serikat, David Sandalow mengungkapkan lima tahun lalu produksi shale gas Amerika tidak berkontibusi banyak sedangkan saat ini sudah berkontribusi 30 persen atas produksi gas Amerika.

“Dulu kita impor (gas) sekarang kita bisa ekspor. Revolusi ini selain karena kita punya resource shale gas yang banyak, juga karena teknologi dan iklim investasi yang baik sehingga bisa memberi pemasukan yang baik juga,” katanya.

“Perusahaan tahu bahwa peraturan yang dibuat pemerintah Amerika sudah stabil dan dapat diprediksi. Sehingga mereka tahu bahwa mereka dapat membuat keuntungan di pasar kita dan bahwa kontrak mereka akan dihormati,” tambahnya.

Diketahui, shale gas merupakan salah satu gas unconventional yang tengah dikembangkan di Indonesia. Selain shale gas ada juga Coal Bed Methane (CBM) dan Tight Gas. Shale gas sendiri diperoleh dari serpihan batuan shale atau tempat terbentuknya gas bumi. Proses yang diperlukan untuk mengubah batuan shale menjadi gas membutuhkan waktu sekitar 5 tahun.

Evita mengungkapkan, potensi Shale Gas masih banyak terdapat di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. “Di Papua juga ada, tapi belum banyak yang berminat untuk kembangkan,” pungkasnya.

icon