*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
Warning: getimagesize(news/attachements/4thgolfturnamenrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Alternative content

TAMBANG, 26 Juni 2012 | 19.14
Demi Domestik, PGN Tidak Soalkan Harga Gas Di Hulu
Subkhan AS
subkhan@tambang.co.id
Jakarta-TAMBANG. Sekertaris Perusahaan Gas Negara (PGN) Heri Yusup, mengaku kalau selama ini pihaknya berani membeli harga gas di hulu dengan harga keekonomiannya. Hal tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pasokan gas hilir domestik. Karena itu, dirinya membantah kalau selama ini pihaknya tidak mau membeli gas di hulu dengan harga yang lebih tinggi.
“Kami selalu kejar gas, karena kami perusahaan gas. Berapa pun harganya kami berani, asal saja harganya sesuai dengan nilai keekonomiannya,” tegas Heri kepada Majalah TAMBANG, Selasa 26 Juni 2012, di Jakarta.
Tak hanya itu saja, Heri mengaku, kalau saat ini pihaknya sedang menjalin kerjasama untuk mendapatkan pasokan gas dari Qatar, tentunya dengan harga yang jauh berbeda dengan harga jual gas di domestik.
“Ini kami lakukan guna memenuhi pasokan gas domestik yang telah menjadi komitmen kami,” cetusnya.
Heri menilai, kelangkaan pasokan gas untuk industri yang belakangan ini ramai dibicarakan dikarenakan tidak adanya jaminan pasokan gas di hulu untuk PGN. Sebab selama ini, PGN belum mendapatkan prioritas utama untuk mendapatkan kepastian pasokan gas di hulu.
Hal ini dapat dilihat dari Peraturan Menteri ESDM nomer 03 tahun 2010, dimana alokasi gas diprioritaskan berurutan untuk lifting, PLN, sektor pupuk, dan industri manufaktur.
“Untuk memenuhi pasokan gas sektor industri ada ditangan kita, artinya kita berada di bawah PLN. Bagaimana bisa kita mendapatkan prioritas pasokan gas kalau kita di bawah PLN. Padahalkan PLN bisa gunakan energi lain, seperti air untuk sumber pembangkit listrik,” jelasnya.
Terkait dengan prioritas yang diberikan oleh BP Migas kepada PGN untuk mendapatkan pasokan gas di hulu, Heri mengaku belum mendapatkan komitmen tersebut. Pasalnya, selama ini PGN tidak merasakan hal tersebut.
“Sebab selama ini, tender pasokan gas yang ditawarkan BP Migas dimenangkan oleh trader-trader lainnya, padahal PGN memiliki infrastruktur jaringan pipa gas 40% ketimbang trader. Akibatnya banyak trader yang malah menjual gas ke PGN karena bingung tidak bisa diapa-apain,” ungkapnya.
Akibatnya, lanjut Heri, PGN harus membeli gas dengan harga yang jauh dari nilai keekonomian yang telah dirancang oleh PGN.
Sebab itu, Heri berharap, kedepan pemerintah dapat memberikan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ini.
Seperti yang diketahui sebelumnya, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BPMIGAS, Gde Pradnyana, mengatakan permasalahan utama kelangkaan pasokan gas di hilir disebabkan karena komitmen PGN dalam menjalankan sebuah industri. Pasalnya untuk mendapatkan pasokan gas dari hulu, maka PGN harus berani memberikan harga yang lebih baik sesuai dengan keekonomian harga gas di hulu.
Dimana, lanjut Gde, pihaknya selalu saja memberikan prioritas kepada PGN untuk mendapatkan sumber gas. Namun saja, PGN menolak tawaran BPMIGAS dengan alasan harga yang ditawarkan BPMIGAS masih tinggi.
Seperti saat BPMIGAS menawarkan Blok Tangguh kepada PGN, dimana BPMIGAS membuka harga USD 3 per mmbtu. Sedangkan PGN membuka harga dibawah USD 2 per mmbtu.
Demi Domestik, PGN Tidak Soalkan Harga Gas Di Hulu
Subkhan AS
subkhan@tambang.co.id
Jakarta-TAMBANG. Sekertaris Perusahaan Gas Negara (PGN) Heri Yusup, mengaku kalau selama ini pihaknya berani membeli harga gas di hulu dengan harga keekonomiannya. Hal tersebut dilakukan guna memenuhi kebutuhan pasokan gas hilir domestik. Karena itu, dirinya membantah kalau selama ini pihaknya tidak mau membeli gas di hulu dengan harga yang lebih tinggi.
“Kami selalu kejar gas, karena kami perusahaan gas. Berapa pun harganya kami berani, asal saja harganya sesuai dengan nilai keekonomiannya,” tegas Heri kepada Majalah TAMBANG, Selasa 26 Juni 2012, di Jakarta.
Tak hanya itu saja, Heri mengaku, kalau saat ini pihaknya sedang menjalin kerjasama untuk mendapatkan pasokan gas dari Qatar, tentunya dengan harga yang jauh berbeda dengan harga jual gas di domestik.
“Ini kami lakukan guna memenuhi pasokan gas domestik yang telah menjadi komitmen kami,” cetusnya.
Heri menilai, kelangkaan pasokan gas untuk industri yang belakangan ini ramai dibicarakan dikarenakan tidak adanya jaminan pasokan gas di hulu untuk PGN. Sebab selama ini, PGN belum mendapatkan prioritas utama untuk mendapatkan kepastian pasokan gas di hulu.
Hal ini dapat dilihat dari Peraturan Menteri ESDM nomer 03 tahun 2010, dimana alokasi gas diprioritaskan berurutan untuk lifting, PLN, sektor pupuk, dan industri manufaktur.
“Untuk memenuhi pasokan gas sektor industri ada ditangan kita, artinya kita berada di bawah PLN. Bagaimana bisa kita mendapatkan prioritas pasokan gas kalau kita di bawah PLN. Padahalkan PLN bisa gunakan energi lain, seperti air untuk sumber pembangkit listrik,” jelasnya.
Terkait dengan prioritas yang diberikan oleh BP Migas kepada PGN untuk mendapatkan pasokan gas di hulu, Heri mengaku belum mendapatkan komitmen tersebut. Pasalnya, selama ini PGN tidak merasakan hal tersebut.
“Sebab selama ini, tender pasokan gas yang ditawarkan BP Migas dimenangkan oleh trader-trader lainnya, padahal PGN memiliki infrastruktur jaringan pipa gas 40% ketimbang trader. Akibatnya banyak trader yang malah menjual gas ke PGN karena bingung tidak bisa diapa-apain,” ungkapnya.
Akibatnya, lanjut Heri, PGN harus membeli gas dengan harga yang jauh dari nilai keekonomian yang telah dirancang oleh PGN.
Sebab itu, Heri berharap, kedepan pemerintah dapat memberikan jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan ini.
Seperti yang diketahui sebelumnya, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas, BPMIGAS, Gde Pradnyana, mengatakan permasalahan utama kelangkaan pasokan gas di hilir disebabkan karena komitmen PGN dalam menjalankan sebuah industri. Pasalnya untuk mendapatkan pasokan gas dari hulu, maka PGN harus berani memberikan harga yang lebih baik sesuai dengan keekonomian harga gas di hulu.
Dimana, lanjut Gde, pihaknya selalu saja memberikan prioritas kepada PGN untuk mendapatkan sumber gas. Namun saja, PGN menolak tawaran BPMIGAS dengan alasan harga yang ditawarkan BPMIGAS masih tinggi.
Seperti saat BPMIGAS menawarkan Blok Tangguh kepada PGN, dimana BPMIGAS membuka harga USD 3 per mmbtu. Sedangkan PGN membuka harga dibawah USD 2 per mmbtu.

(0) komentar
Berita Lain





