*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Warning: getimagesize(news/attachements/4thgolfturnamenrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player


Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 19 Juli 2012 | 14.56
Kebijakan Formula Harga Biofuel Akan Direvisi

Heriyono
heriyono@tambang.co.id

Jakarta-TAMBANG. Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) akan merevisi kebijakan formula harga biofuel. Saat ini, harga untuk produk energi terbarukan dinilai masih murah, sehingga tidak ada investor yang berminat untuk mengembangkan energi biofuel di Indonesia.

Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Maritje Hutapea mengatakan, pasokan energi terbarukan ke dalam negeri sangat kurang, karena masalah harga. Kondisi sekarang menunjukkan harga jual energy terbarukan tidak sesuai dengan harga produksi.

“Padahal, komponen biaya produsen itu sekitar 70-80% untuk bahan baku. Harga bahan baku saat ini sangat fluktuatif. Misalnya, harga untuk CPO yang digunakan bahan baku biodiesel dan Molases untuk bahan baku bioethanol, lebih mahal karena mengikuti harga ekspor,” kata dia, di Jakarta, hari ini.

Maritje menjelaskan, Kementerian Keuangan mesti memutuskan hal tersebut, karena terkait biaya subsidi. Usulan indeks harga yang baru nantinya akan diskusikan dengan para produsen yang kemudian akan diajukan kepada Kementerian Keuangan.

Harga indeks biofuel sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 0219 Tahun 2010 ditentukan mengacu pada harga patokan ekspor minyak sawit untuk jenis biodiesel yang setiap bulan ditetapkan oleh menteri Perdagangan dengan faktor konversi 870 kilogram per meter kubik. Sedangkan harga indeks bioethanol berpatokan pada harga publikasi Argus untuk ethanol FOB Thailand.

Saat ini, indeks formula harga biofuel untuk biodiesel adalah harga patokan ekspor (HPE) dikalikan rata-rata harga pasaran sekitar Rp 8.800 sampai Rp 9.000. Sedangkan untuk bioethanol dikalikan rata-rata harga di pasaran sekitar Rp 6.500 sampai Rp 7.000.

“Kami mengusulkan untuk biodiesel adalah HPE dikalikan 1,2 atau ada peningkatan 20% dan bioethanol dikalikan 1,32. Berarti ada kenaikan. Ini akan buat produsen jadi semangat,” ujar Maritje.

Saat ini, ada sekitar 23 produsen biodiesel dan 13 produsen bioethanol yang melakukan produksi bahan bakar nabati. Total kapasitas produksi terpasang 4,2 juta kiloliter untuk yang berbahan dasar kelapa sawit dan bioethanol (molases, singkong) hanya 272.730 kiloliter.

icon