*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Warning: getimagesize(news/attachements/4thgolfturnamen.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player


Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 14 September 2012 | 00.57
JATAH BBM BERSUBSIDI TAHUN 2012 HABIS!

Jakarta-Tambang- BBM bersubsidi tahun 2012 akan habis sebelum akhir tahun ini, akibat tingginya perbedaan harga BBM bersubsidi dan non subsidi, meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan perilaku boros energy.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini, menurutnya dari 33 provinsi di Tanah Air yang menjadi daerah penyaluran BBM, 23 provinsi diantaranya telah melebihi kuota dengan rata-rata realisasi penyaluran 107%. Seperti yang terjadi di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat yang mengalami kelebihan penyaluran paling besar, yaitu masing-masing 128% dan 116% jelasnya.

“Adanya penambahan jumlah kendaraan masing-msing untuk mobil yang mendekati 1juta unit, dan sepeda motor 7 juta unit untuk tahun ini, peningkatan konsumsi industri dan peningkatan pemenuhan kebutuhan individu bertambah membuat konsumsi BBM meningkat, dan jumlahnya bisa mencapai 45,7 juta Kilo Liter (Kl)” papar Rudi.

Jumlah kebutuhan BBM tersebut, bisa makin membengkak seandainya pemerintah tidak berupaya melakukan penghematan, seperti pelarangan penggunaan BBM bersubsidi bagi mobil dinas yang dimulai sejak bulan Juni lalu di wilayah Jabodetabek.

Bagi Rudi, perbedaan harga yang tinggi antara BBM bersubsidi dan non subsidi menjadi salah satu sebab meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi.

“Jika disparitas harga BBM Bersubsidi dan BBM non subsidi terlalu tinggi, jangankan menggiring pengguna Premium ke Pertamax, yang terjadi justeru sebaliknya pengguna Pertamax kembali menggunakan premium,” imbuhnya.

icon