*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 02 April 2014 | 05.37
Sumitomo: Tembaga Naik, Nikel Turun

PERUSAHAAN JEPANG, Sumitomo Metal Mining Company Ltd, perusahaan kedua terbesar penghasil tembaga di negeri matahari terbit, akan menambah produksi tembaga untuk keperluan listrik pada tahun fiskal mendatang, yang dimulai 1 April 2014 ini. Penambahannya diperkirakan 3,1%, untuk menyesuaikan dengan tingginya permintaan domestik.

''Permintaan tembaga terus meningkat, terutama untuk kabel listrik yang dipakai untuk jaringan prasarana dan pembangkit listrik tenaga surya,'' kata Masanori Ohyama, general manager tembaga dan logam berharga Sumitomo Metal, Selasa kemarin, kepada kantor berita Reuters di Tokyo.

''Seluruh produksi pemurnian tembaga kami untuk tahun 2014 sudah terjual habis, melalui kontrak penjualan jangka panjang,'' katanya.

Rencana untuk meningkatkan produksi terjadi, setelah perusahaan pesaing berhasil mendapatkan kontrak pengolahan tembaga yang lebih tinggi. Pan Pacific Copper, perusahaan smelter terbesar di Jepang, akhir tahun lalu mengumumkan bahwa pihaknya mendapatkan kontrak pengolahan delapan tahun dari perusahaan Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Copper & Gold, Inc, untuk 2014. Ini menunjukkan, pasokan dari hasil tambang juga akan meningkat.

Pan Pacific Copper juga menjelaskan, pihaknya menjual tembaga jenis premium ke Cina US$ 123 per ton, naik 45% dibanding tahun lalu.
Sumitomo Metal merencanakan untuk mengurangi produksi feronikelnya, karena smelternya di Hyuga, Kyushu, tengah dirawat. Di samping itu kualitas pasokan bahan mentahnya juga menurun.
Produksi feronikelnya ditargetkan 21.400 ton, tahun ini, turun 4,4% dibanding tahun lalu.
Sumitomo mendapatkan pasar nikel mentah dari Filipina dan Kaledonia Baru, setelah Indonesia melarang ekspor mineral yang tidak diproses.

''Pengurangan produksi ini bukan karena kurangnya pasokan. Melainkan karena kandungan nikel Filipina 10% lebih rendah dibanding Indonesia, sehingga kami harus mengurangi produksi,'' katanya.

Jepang merupakan tempat bercokolnya produsen besar baja tahan karat. Kini Jepang menghadapi masalah besar untuk menemukan pemasok nikel setelah Indonesia melarang ekspor mineral mentah.

icon