*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 11 Juli 2011 | 22.10
Mengubah Debu Menjadi Berlian

Harsudi Supandi
CEO Total Sinergy International

Harsudi Supandi sudah ”mengubah kerang menjadi mutiara, menyulap kerikil cadas menjadi berlian”. Setelah bertahun berpeluh keringat, kini seluruh mata menoleh kepada penemuannya. Dulu, saat memulainya, banyak yang mencibir dan menganggapnya gila. Ia tak menggubris, ia tetap tekun dan konsisten dengan pilihannya: berkhidmat di dunia penelitian, menyatukan mozaik-mozaik pengetahuan dan pengalaman menjadi penemuan berharga.
Tenaga dan pikiran bahkan harta ia dedikasikan sepenuhnya. ”Saya sampai jual rumah dan mobil,” ujarnya. Ia percaya, ketekunan dan konsistensi serta ketelitian akan membuahkan hasil. Dan selanjutnya, biarkan ”tangan” Tuhan yang bekerja mewujudkan mimpi menjadi nyata.
Harsudi menemukan sebuah teknologi untuk menaikkan kalori batubara. Yang tak berharga, tak ubahnya debu bisa dipompa kalorinya hingga bernilai tinggi. Namanya Geo-Coal. Penemuan ini, sejalan dengan potensi batubara Indonesia yang mayoritas (65 persen) merupakan batubara muda. Penemuan ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah batubara. Penemuan teknologi Geo-Coal juga sekaligus menjawab keresahan pemilik tambang batubara yang memiliki batubara kalori rendah.
Usai keluar dari ”Pertapaan” panjang dan merilis Geo-Coal ke hadapan publik pada April 2011 lalu, PT Total Sinergy International (TSI), perusahaan yang memayungi Geo-Coal, kebanjiran penawaran dari berbagai perusahaan batubara baik dalam maupun luar negeri. Senang tentunya, tetapi Harsudi yang menjabat President Director TSI, tidak ingin buru-buru melepas penemuannya.
Kepada Hidayat Tantan, Alamsyah Pua Saba dan Fotografer Taufiequrrohman dari Majalah TAMBANG, alumnus tambang Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, menceritakan tentang Geo-Coal, kelebihan teknologi ini dibandingkan teknologi sejenis lainnya, serta pengalaman pribadinya hingga menemukan teknologi ini. Berikut petikannya.


Bisakah Anda menceritakan, bagaimana sampai menemukan teknologi Geo-Coal ini?

Embrio Geo-Coal ini dimulai sejak tahun 1998, saat itu saya ikut membantu pemerintah untuk energi rumah tangga, briket. Tetapi saya lihat, briket ini tidak akan jalan, nyalanya susah, pembuatan mahal serta beberapa faktor lainnya, termasuk juga aspek dampak lingkungannya. Karena sebenarnya, briket ini didesain bukan untuk memasak, tetapi untuk pemanas ruangan. Karena itu, saya lihat briket ini tidak mungkin.
Keinginan saya untuk membantu pemerintah tetap ada, kebetulan mendapatkan dukungan dari Pak Habibie, (saat itu BJ Habibie belum menjadi Presiden). Tetap dengan dasar batubara, tetapi diubah pembakarannya. Berangkat dari situ, saya kemudian mengembangkan gasification stove (Kompor gasifikasi). Setelah memenuhi persyaratan, produk tersebut mendapat sertifikasi pada 2006.
Apa boleh buat, saat mau diproduksi massal, JK, (Jusuf Kalla, saat itu menjabat sebagai Wakil Presdien—red) memutuskan menggunakan gas elpiji, Saya mendukung. Elpiji itu terbaik buat masyarakat.
Dua tahun kemudian, saya kembali mengutak-atik teknologi coal upgrading. Kenapa memilih coal upgrading? Saya lihat di masa depan energi berbasis minyak akan mahal, padahal Indonesia memiliki potensi batubara muda yang melimpah.
Nah sebenarnya, salah satu motivasi saya mengembangkan briket batubara atau kompor gasifikasi karena ingin merambah ke batubara muda. Itu (briket dan gasifikasi-red) hanya sebagai stepping stone, sebelum saya mendalami tentang coal teknologi. Saya kumpulkan orang yang ahli di bidang itu, melakukan diskusi, kemudian punya ide, mengupgrade batubara muda ini menjadi kalori tinggi.
Tetapi prinsip utamanya harus didasarkan pada, murah investasi, mudah mengoperasikannya, dan bisa diproduksi dalam jumlah besar. Itu tiga poin yang harus bisa dipenuhi.
Di dalam coal upgrading, faktor utama adalah mengeringkan, karena total moisture (TM) batubara muda kita tinggi, sampai diatas 40 persen bahkan sampai 60 persen. Kalau teknologi lain menggunakan energi listrik, atau gas alam. Sebagai orang tambang, saya tahu bahwa kalau batubara yang mau dieskpor, sangat membatasi batubara halus. Batubara halus dibawah 15 milimeter, dibuang, ditutup lagi supaya tidak berdebu.
Nah saya mempergunakan waste batubara sebagai sumber energi. Barang yang dibuang saya pakai, jadi murah. Itu salah satu key point saya. Sementara soal alat, karena saya punya pengalaman kompor gasifikasi, saya tahu bagaimana mengembangkannya. Kebetulan, Tekmira sudah mendevelop Cyclone Burner. Nah, kita kerjasama dengan Tekmira, saya ambil hak untuk memasarkannya, kemudian saya libatkan mereka dalam teknologi saya.
Cyclone burner saya upgrade lagi lebih tinggi menjadi gasification burner. Tetapi apapun yang saya buat baik cyclone maupun gasification burner, saya tetap kontribusi fee ke Tekmira, sebesar 2,5 persen dari harga jual.
Dari batubara padat diubah di dalam burner menjadi gas, karena mengikuti kompor gasifikasi. Gas yang keluar itulah yang dibakar, sehingga lebih bersih dari yang lain. Bahkan kalau orang yang tidak tahu, mereka akan mengira itu sudah gas, padahal batubara. Dengan kombinasi Cyclone dan gasification burner dapat energi murah dan proses yang lebih simple.
Teknologi yang saya kembangkan ini meningkatkan kalori batubara tanpa dibriket. Tetapi diubah HGI (Hardgrove Grindability Index) menjadi lebih keras, di atas 80. Sebab kalau batubara dengan HGI 80, dijemur akan menjadi bubur, ini tidak bisa dijual. Kalau HGI di rubah akan menjadi kuat dan tidak mudah pecah. Dengan HGI lebih keras, tidak perlu lagi menggunakan briketting. Dengan teknologi ini berubahlah dari brown coal menjadi black coal. Setelah menjadi black coal, tidak mudah untuk menyerap air.

Kalori berapa bisa diupgrade oleh teknologi temuan Anda?

Dengan teknologi ini sebenarnya semua jenis batubara bisa diupgrade. Jadi mulai batubara kalori 2400 bisa dinaikan menjadi 6000. Tetapi lebih keropos, karena air banyak menguap. Karena batubara makin rendah artinya TMnya makin tinggi hingga 65 persen. Yang paling efektif, dari batubara kalori 2000 menjadi kalori 5300, dengan TM di bawah 15.

Dalam prosesnya melibatkan berapa orang?

Ketika kita melihat ini bagus, kita menghire orang-orang yang bagus, yang memiliki keahlian. Saya libatkan Profesor Komang Bagihasna. Dia ahli Mecanical Engineering, kemudian ada Pak Rokhim, juga ahli mekanikal. Jadi mereka yang menghitung. Mulai material balance, energy balance dan sebagainya semuanya ada dasar hitungannya, nggak bisa hanya dengan dasar kira-kira.

***

Kenapa orang lain belum berhasil, apakah karena tidak serius atau, dimana problemnya?

Jadi dari beberapa negara, seperti UBC dari Kobe, Jepang, White Energy dari Australia, Clean Coal Australia, Amston dari Jerman, Sincol dari US, atau teknologi dari negara-negara lainnya, jalur yang dipakai adalah pengeringan dan briket. Ini bisa jadi karena mereka ingin cepat-cepat meng-introduce teknologi yang mereka miliki. Jadi meskipun mereka itu scientist, tetapi belum tentu memiliki pengalaman tambang ataupun mereka scientist, tetapi tidak memiliki pengalaman project development, bagaimana meng-create proyek. Kalau saya, punya pengalaman itu. Saya memiliki latar belakang tambang dan pernah juga di konsultan.
Nah dengan latar belakang itu, saya berpikir harus ekonomis, simpel, saya juga memiliki latar belakang tambang batubara, jadi tahu semuanya bagaimana sifat batu-bara dan sebagainya. Jadi saya tidak merubah yang –istilahnya, kalau memang ini kayu jati, harus tinggi, kalau kayu sengon, naiknya sedikit, filosofi itulah yang dipakai. Jadi saya tidak serakah. Kalau yang lain, pengen apapun yang masuk jadi bagus, satu-satunya jalan dibikin powder, dikeringkan dan dibuatkan briket.

Dengan pengalaman yang dimilikinya itulah, ia mengaku memulai investasi teknologi Geo-Coal yang dikembangkannya, menjadikan investasinya jauh lebih murah dibandingkan dengan teknologi peningkatan kalori sejenis lainnya. Untuk 1 juta ton produk, teknologi lain membutuhkan investasi sekitar US 150 juta, atau paling murah US$ 80 juta. Sementara Geo-Coal, dengan out put 1 juta ton sama seperti teknologi lainnya, membutuhkan investasi sekitar US$ 10-12 juta. Kalau lokasinya dekat dengan infrastruktur, investasinya US$ 10 juta. Sementara jika jauh dari infrastruktur US$ 12 juta. Sementara untuk operating Cost, teknologi lain rata-rata US$ 15-20 sementara Geo-Coal 4-5 dolar.

Saat ini yang sudah siap di mana saja?

Yang pertama kita pasang di Tamiang, kepunyaan PT. Rimau Indonesia untuk kapasitas 500 ribu ton. Kemudian yang kedua, milik PLN BB (batubara), untuk PLTU 2x300 MW di Labuan, Banten, dengan kapasitas diatas 1 juta ton. Pembangunannya rencananya dilakukan pada bulan Agustus 2011, dengan menaikkan batubara dari kalori dibawah 4000 menjadi 4800.

Sekarang sudah banyak yang tertarik untuk menggu-nakan teknologi ini?

Sudah banyak yang datang, beberapa pengusaha batubara sudah bertemu, bahkan beberapa dari mereka sudah mengeluarkan keputusan untuk menggunakan teknologi kita. Tetapi kita bilang tunda dulu, sampai 2 pabrik ini jalan. Karena kita nggak mau salah.
Menariknya, mereka sudah mencari kemanapun tentang teknologi ini, mereka sudah keliling dunia, ternyata teknologi ketemunya di sini (Indonesia) juga. Awalnya mereka nggak percaya, apa betul ada teknologi ini, tetapi saya bilang, yah, tunggu saja, mereka minta detail, kita belum bisa jawab, karena belum dipatenkan.

Kapan akan dipatenkan?

Sekarang proses paten sudah dilakukan. Saat ini hak patennya sudah didaftarkan oleh Drew & Naper LLC, untuk terobosan teknologi yang dikembangkan di Asia. Hak paten kita daftarkan di Singapura karena sasarannya untuk mencakup dunia internasional. Jadi, teknologi ini, kalau kita searching dalam paten, termasuk teknologi baru, genuine, belum ada yang menemukan dan mendaftar.
Kemudian kita pakainya double patent, paten tek-nologi juga burner. Jadi, kalau dicuri paten teknologi, sementara paten burner nggak dicuri, ya nggak bisa. Tetapi kalau dua-duanya dicuri, ya apa boleh buat, kita tuntut. Itu (double patent) sudah jadi paket. Dua paten dalam satu teknologi.

Menghabiskan berapa dana untuk trial and error?

(Ketawa), kalau yang di kompor rugi. Kalau itu, susah saya bicara. Yang jelas, saya sudah habis-habisan dalam riset ini. Semua lost. Boleh dibilang saya tidak punya apa-apa lagi. Dan riset itu nggak murah.

Itu hasil tabungan?

Kurang lebih hasil tabungan, ditambah lagi kalau dalam kesulitan dibantu oleh teman-teman dari Australia. Dulu, saya bekerja dengan mereka sebagai konsultan. Jadi ada yang mengirimkan 1000 dolar, nggak besar-besar, sekedar untuk bertahan hidup saja.

Pria yang pernah menjadi dosen selama 10 tahun ini, tetap pada pakem awalnya, bahwa apa saja yang dilakukan diperuntukan membantu masyarakat kecil. Maka pada teknlogi Geo-Coal ini, ia tetap melibatkan para pengusaha kecil untuk mengerjakan beberapa alat gasifikasi burner. Menurut Harsudi, kualitas yang dihasilkan pun sama dengan kualitas pabrik.
Ia menyerahkan pekerjaan kepada pengusaha kecil, karena menurutnya, kalaupun diserahkan kepada pengusaha besar, tetap juga diberikan (disubkontrakan) kepada pengusaha kecil. Sebab yang dikerjakan, bukan porsi besar, tetapi porsi tukang las dan pekerjaan tangan, bukan porsi mesin. Sementara untuk alat lain, dikerjakan oleh perusahaan besar. ”Saya menghendaki yang bisa menikmati teknologi ini adalah para pemilik tambang. Saya hanya ingin menikmati keuntungan sewajarnya saja,” ujar Harsudi.


Bahasa pengusaha adalah margin, memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Tetapi Anda bilang ingin untung sewajarnya. Apa alasannya?

Kalau untung besar, mengundang orang meneliti yang sama dengan dukungan dana yang besar, mereka mungkin mendapatkan teknologi yang lebih baik lagi. Kalau kita murah, mereka berat untuk melawan kita. Untuk meneliti lebih lanjut.
Kedua, kalau ini murah, akan diminati banyak orang. Bahkan dalam 3 tahun, teknologi ini bisa menyebar tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Itu ada kebanggaan sendiri. Karena kita mendapatkan royalti dari mereka. Katakanlah 10 dolar, tetapi yang pakai teknologi hanya 1 juta ton, bukanlah lebih baik saya berikan royalti 2 dolar, tetapi yang menggunakan 5 miliar ton.

Pria yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat pada 1947 ini menceritakan nama Geo-Coal. Geo, merupakan akronim dari Genetically Engineering Organic. Maksudnya, bahwa semua material organic, bisa dibuatkan sedemikian rupa menjadi energi yang lebih bersih, mulai dari dedaunan hingga sampah, pun demikian dari limbah industri. Ia dan timnya juga tengah menjalin kerjasama dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menanggulangi sampah.
Sementara PT. Total Sinergy Internasional (TSI) merupakan perusahaan yang didirikan pada 2010, untuk memasarkan Geo-Coal. Harsudi menjadi Presiden Direktur di perusahaan ini, tetapi perusahaan ini merupakan Perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA), yang berkantor di Malaysia, Singapura dan Hongkong. TSI, merupakan pe-megang saham mayoritas untuk teknologi Geo-Coal.


Kenapa tidak menawarkan teknologi ini di Indonesia, tetapi justru ke asing?

Saya sudah tawarkan, saya sudah tunggu-tunggu agar ini dimiliki oleh orang Indonesia, tetapi kebanyakan mereka tidak percaya teknologi ini akan berhasil, apalagi dilihat yang membuat orang Indonesia. Dari 9 perusahaan (pemakai teknologi) yang ditawarkan, sudah menyatakan tertarik menggunakan teknologi kita. Dan 8 dari 9 perusahaan tersebut adalah perusahaan asing. Satu perusahaan nasional adalah PLN BB.
Makanya terbalik, yang setuju dengan teknologi saya kebanyakan asing, bukan orang kita. Hanya PLN yang percaya. Makanya, saya pertahankan terus dengan PLN, karena moral supportnya bagus. Eh, giliran sudah ”kawin” dengan asing, banyak perusahaan Indonesia yang mau ikut. Ya, sudah tidak bisa lagi.

Harsudi Supandi, sudah melewati banyak quantum dalam hidupnya. Selepas kuliah dari Institut Teknologi Bandung, ia pun memilih menjadi pengajar di Universitas Indonesia (UI) untuk mata kuliah Metalurgi. Setelah 10 tahun mengajar, ia memutuskan untuk keluar dan menjadi konsultan. Kemudian, anak kedua dari tiga bersaudara ini, memilih menjadi peneliti. Sudah banyak penelitian yang dihasilkannya, selain Geo-Coal.
Awal tahun 1995, ia menciptakan gravel pack sand sebagai filter minyak. Dulu, alat ini hanya bisa diimpor dari Amerika. Ia berhasil membuatnya di daerah Bangka dan dipakai oleh Caltex (kini Chevron). Tahun 1995-1996 melakukan penelitian untuk bahan bangunan ringan, Perlite Board. Perlite ini, bahan dasarnya dari gunung berapi, kalau dipanaskan pada suhu 920 derajat, akan mengembang 20 kali, seperti pop corn. Bahan inilah yang dijadikan bahan bangunan ringan.
Beberapa perusahaan di Australia saat ditunjukan produk ini mengatakan, sebagai ”all in one building material,” perusahaan di Jerman menyebutnya sebagai Re-Cycle Product. Melalui salah seorang koleganya, Perlite Board buatan Harsudi sempat dikenalkan ke mantan Presiden Soeharto. Saat produk ini sudah jadi, ingin sekali diperlihatkan ke mantan penguasa Indonesia tersebut di kediamannya jalan Cendana. Tetapi tidak diizinkan karena kondisi mantan Presiden Soeharto yang sedang sakit saat itu. ”Saya merasa sedikit kecewa, kenapa sampai beliau meninggal tidak melihat itu,” ujarnya.
Selain itu, ia juga sudah melakukan penelitian dan penemuan bahan bangunan berbahan dasar bambu. Bamboo Reinforced Plywood, Bamboo Reinforced Wood. Dengan bahan dasar bambu bisa dibuatkan balok dengan panjang 9 meter. Uji coba yang sudah dilakukan balok bambu berukuran 15x15 dengan panjang 6 meter. Bambu tersebut bisa didesain sekuat Jati atau Meranti. Ia sudah membuat nursery bambu di Malang Jawa Timur. Ini adalah perkebunan bambu pertama di dunia.
Ia mengaku, setelah Geo-coal jalan, proyek Perlite Board maupun Bamboo Reinforced Plywood, akan dikembangkan. Tahun 1997 hingga 2007, merupakan tahun-tahun penting baginya dalam menemukan berbagai pene-muan tersebut. Seluruh waktu dan tenaga dihabiskan, setelah menemukan, ia terus bergulat bagaimana memasarkannya ke investor, karena uang yang dimilikinya sudah habis.


Apakah memang sejak kuliah atau setelah keluar, sudah mengkhususkan diri ke perpustakaan untuk melakukan penelitian?

Nggak pak, sibuk cari uang, saya ngajar di UI (Universitas Indonesia). Ngajar, setelah ngajar hampir 10 tahun, tahun 1975 sampai 1984, ngajar metalurgi. kemudian saya kerja dengan tim dari Australia sebagai konsultan.
Setelah itu kerjasama dengan Australia, saya melihat, terutama dalam bidang tambang, banyak yang mengejar ke minyak dan emas yang dianggap berharga. Nah disitu otak saya berpikir, kenapa sih mereka nggak cari barang yang banyak, punya nilai. Nah sebetulnya sejak tahun 1990-an awal atau 80-an akhir, saya sudah merancang bagaimana batubara muda ini dimanfaatkan. Karena saya yakin di dunia ini butuh energi. Apapun butuh energi.

Anda memutuskan keluar dari UI, apakah karena bosan atau ada sebab lain?

Hmm, dipindahkan ke Depok. (sebelumnya perkuliahan berlangusng di Salemba, Jakarta Pusat). Kalau dipindahkan ke Depok, saya tidak bisa part time kerja di luar. Kalau di UI, gaji saya hanya Rp 35 ribu, di Salemba, kemudian dipindahkan ke Depok dengan gaji 35 ribu terakhir 60 ribu, bagaimana kita bisa hidup di Jakarta. Disitu saya memutuskan berhenti.
Tahun 1995, pensiun, kembali ke ide, bagaimana memanfaatkan sesuatu yang tidak berharga, menjadi berharga. Salah satunya bambu, kemudian perlite. Di Padang, perlite dibuat jalan, padahal kalau diproses sedikit saja, dicrushing, diayak, harganya 40 dolar/ton.

Ketika anda mulai melakukan penelitian, apakah anda sadar bahwa Anda tidak akan mendapat dukungan finansial dari dalam negeri, sehingga harus berjuang sendiri?

Kalau saya perangsangnya kalau ini berhasil, rewardnya akan hebat, baik buat saya pribadi ataupun untuk negara. Yang terakhir sekali, umur saya sudah 65 sekarang ini. Saya bisa meninggalkan sesuatu kepada dunia, kalau saya dipanggil pulang. Hanya itu saja, setidaknya ada legacy.

Apakah sekarang reward itu sudah mulai didapatkan?

Paling tidak yang pertama ini dari Malaysia, memberikan bantuan financing dan mereka memberikan saya rewardnya. Walaupun mereka mayoritas, tetapi teknologi ini tetap milik PT. Indonesia. Saya hanya minta 2-3 tahun. Saya sadari usia saya sudah tidak muda lagi, karena itu sudah saatnya ada regenerasi.

Apakah sudah menyiapkan penggantinya?

Kita cari kandidatnya. Karena saya sudah ada umur. Kedua, saya juga ingin mengembangkan yang Perlite Board itu.

Kandidatnya anak-anak Anda?

Nggaklah. Kita profesional. Percuma kita menganut dengan sistem turunan, nggak akan sukses. Anak saya perempuan dua-duanya. Usia anak-anak saya masih muda-muda. Lagi pula anak muda sekarang mana mau meneliti lagi. Jadi penelitian itu hanya dilakukan oleh orang susah. Atau punya ambisi.

Kalau Anda masuk orang susah atau punya ambisi?

Punya ambisi. Karena saya dulu, saya kan susah. Kalau dulu jaman tahun revolusi atau tahun 50-an ada orang Indonesia kaya, itu bohong. Semua susah, saya mengalaminya. Nggak punya apa-apa. Warisannya hanya tanah di kampung-kampung, punya apa kita. Karena itu bagaimana kita memperbaiki Indonesia jadi lebih baik dengan tanah yang kaya raya. Jadi saya mungkin masuk kategori antara susah dan memiliki mimpi besar.

Apakah ada peneliti yang mengilhami Anda?

Kalau di Indonesia belum ada. Peneliti dunia juga nggak ada juga. Cuman saya melihat, awalnya ingin membantu masyarakat kecil, tahu-tahu menemukan sesuatu yang besar, ya sudah. Tadinya hanya untuk bahan bangun-an, bambu, batubara untuk briket, tahu-tahunya bisa begini, dari Tuhan, mau bilang apa lagi. Saya mencari batu kerikil, akhirnya ketemunya berlian. Masa kita nggak terima, alhamdulillah.

Yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter Anda itu siapa?

Hmm (sambil menghela napas). Karakter ya, ini banyak. Yang paling mempengaruhi jalan hidup saya adalah kesusahan. Jadi saya punya garis tangan harus kerja keras, jarang saya bisa leha-leha.

Lalu, bagaimana bisa kuliah di ITB?

Saya dari SMA (SMA 5 Budi Utomo) sudah kerja. Kerja mengafdruk foto. Saya dulu satu-satunya pertama ditunjuk oleh perusahaan Jepang, Fuji. Untuk keagenan Fuji, itu saya, tahun 1969 awal (68 akhir). Tetapi saya tidak punya duit, mau apa. Ceritanya, saat saya menitipkan foto di daerah Rivoli (bioskop di daerah Kramat Raya), dalam tempo 1 bulan, omset saya, 15 ribu post card hitam putih. Saya bikin laporan ke Fuji, akhirnya ditunjuk jadi agen, tapi masih mahasiswa boro-boro jadi agen. Eh, tahu-tahu tahun 1971 sudah ada Modern Fuji.

Apakah ada obisesi lain yang belum dicapai?

Saya ingin penemuan saya ini, bisa diproduksi dan dinikmati oleh orang banyak. Mudah-mudahan masih bisa melihat. Hanya itu saja. Yang utama tiga penelitian saya. Perlite, bambu dan batubara ini. Batubara sudah hampir jalan, tinggal perlite dan bambu saja. Itu sebabnya saya minta ke partner saya 2-3 tahun saya mimpin di sini dan saya akan introduce teknologi saya ini, setelah itu saya akan mengembangkan dua produk itu. Itu tinggal produk, sertifikasi sudah.

Bagaimana membagi waktu dengan keluarga?

Sejak 1995, saya coba meneliti dengan segala resikonya. Mereka terima, ya sudah. Saya kadang pulang jam 3 atau jam 4 pagi. Rumah, mobil, tabungan saya habis untuk penelitian, karena penelitian itu nggak murah. Kalau betul-betul ketemu, rewardnya wajar, tetapi kalau nggak, ya habis.

Dulu kecil, apa sih cita-citanya?

Dalam keadaan susah, bagaimana punya cita-cita. Saya nggak tahu, asal ikut saja. Ibu saya bekerja di Departemen Keuangan, asal hidup aja kita. Filosofinya, saya pasrah saja, alhamdulillah. Dibandingkan dulu susah, mendingan sekarang, masih lumayan.

Anda terlihat sangat religius?

Saya rasa, penemuan itu harus religius. Karena kita percaya ini pemberian. Harus punya kepercayaan, keyakinan. Ada keyakinan terhadap teori dia, ada pula keyakinan yang sifatnya religius. Nggak bisa sama. Musti punya keyakinan, kalau tidak punya keyakinan, mana mungkin berani meneliti.

icon
Berita Lain
11 Juli 2011 | 22.10
Bisnis itu Sangat Dinamis
11 Juli 2011 | 22.10
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri
11 Juli 2011 | 22.10
Siap Jadi Yang Pertama