*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 22 Agustus 2011 | 23.33
Menabur Mimpi Meninggalkan Legacy

R. Gunung Sardjono Hadi
Direktur Utama Pertamina Gas

Gunung Sardjono Hadi memajukan target World Class Company 2020 menjadi 2015. Dalam satu tahun mampu menaikkan profit Pertagas dari 198 miliar rupiah menjadi 555 miliar rupiah. Mengamalkan petuah Habibie untuk mencintai pekerjaaan.

Saat gunung Agung di Bali, meletus pada akhir 1962 dan menewaskan ribuan orang, di Semarang, Jawa Tengah, seorang ibu tengah mengandung putra bungsu. Pada 23 Januari 1963, lahirlah anak itu. Kejadian meletusnya gunung tertinggi di Pulau Dewata itu, memberi inspirasi pada kedua orang tuanya, membubuhkan buah hati mereka dengan nama gunung di wilayah Karangasem, Bali tersebut.
Tetapi nama Agung tidak langgeng disematkan pada anak ke 10 itu. Seorang kerabat mereka yang memilki anak dengan nama Agung, meninggal dunia. Tetapi harapan orang tua agar sang anak tumbuh menjadi ”agung” tak pernah surut. Belahan jiwa mereka pun diberi nama Gunung Sardjono Hadi.
Setiap nama yang disematkan orang tua pada anak-anak mereka adalah doa dan pengharapan. Pun demikian dengan pemberian mana Gunung Sardjono Hadi. ”Mungkin orang tua berharap saya bisa tinggi, padahal sampai sekarang tidak tinggi (secara fisik),” demikain kelakarnya.
Ya, mungkin secara fisik, Gunung Sardjono Hadi tidak tinggi. Tetapi posisi yang kini diduduki sudah tinggi. Terlebih lagi semangat dan cita-citanya membawa perusahaan yang dipimpinnya menuju perusahaan kelas dunia, tentu sangat tinggi, melebihi ketinggian gunung Agung di Bali.
Gunung kini menduduki posisi Direktur Utama PT. Pertamina Gas (Pertagas), anak usaha PT. Pertamina (Persero). Pertagas masih berusia 4 tahun, namun Gunung sudah menargetkan perusahaan ini menjadi World Class Company pada 2015, lima tahun lebih cepat dari target yang diberikan pemegang saham, pada 2020.
Bagi Bapak tiga anak ini, jika bisa berlari cepat dan kencang, untuk apa hanya tertatih dan pelan melangkah. Ia tidak mau, Balita Pertagas yang dipimpinnya hanya berjalan setapak demi setapak. Ia ingin bisa berlari kencang, sekencang mungkin hingga bisa menyalip yang sudah lebih tua bergelut dalam bisnis gas di Indonesia bahkan dunia.
Segala perangkat menuju kelas dunia disiapkan, zona aman yang selama ini menjadi budaya dipangkas, dasar dan pijakan baru dibuat. Masa depan dan peluang ditatap dalam-dalam. Semangat positif para pendahulu tetap dipegang kuat. Kepala menengadah ke angkasa, kaki dibiarkan tetap menghujam bumi.
Di lantai dua kantor Pertagas, di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat, Gunung Sardjono Hadi, berbagi cerita kepada Hidayat Tantan, Alamsyah Pua Saba dan Taufiequrrohman dari Majalah TAMBANG. Alumnus Chemical Engineering, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini, berbagi cerita soal warisan yang disiapkannya, tentang pelajaran hidup yang diberikan sang ayah, filosofi yang dipegang dari Mantan Presiden Soeharto, Habibie, pengalaman menjadi wartawan selama 9 bulan hingga jabatan Dirut Pertagas yang sebenarnya ”turun jabatan” dari posisi yang sudah ditempati sebelumnya di perusahaan pelat merah ini.


Bagaimana ceritanya sampai dipercaya ke Pertagas?
Sebetulnya, waktu saya di Deputi, Ibu Karen (Karen Agustiawan Dirut Pertamina -red) ingin membenahi anak perusahaan (AP). Bagaimana pun yang mengerek revenue sesungguhnya adalah anak perusahaan. Mungkin beliau (Karen) melihat saya punya kemampuan untuk itu, sekaligus juga sebagai pengayaan dan tour of duty. Apalagi saya sudah jadi Deputi dua kali. Mungkin sebelum melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, saya diberi kepercayaan untuk memegang salah satu anak perusahaan, salah satunya Pertagas. Akhirnya, setelah melalui fit and proper test, mulai Agustus 2010, saya memimpin Pertagas.
Bagi saya, prinsip yang selalu saya pegang, kalau bekerja sebisa mungkin meninggalkan legacy (warisan). Karena sebenarnya, dalam konteks yang lebih luas, setiap kita akan memberikan warisan. Sebagai orang tua, misalkan, kita memberikan warisan kepada anak-anak kita. Sementara dalam konteks kerja, warisan yang bisa diberikan me-lalui karya yang bagus.
Dengan berpikir untuk memberikan warisan, kita tidak lagi terbelenggu dengan paradigma dan konsep lama, kita dituntut untuk bisa segera beradaptasi dan bisa berlari kencang. Kalau dulu, untuk menjadi Direktur, orang harus menunggu waktu minimal tiga tahun, sekarang tidak lagi, bisa lebih cepat dari itu. Dengan konsep cepat beradaptasi dan berlari kencang, kita dituntut untuk menciptakan sesuatu yang bias menjadi legacy, sehingga kapanpun kita dipanggil atau dipindahtugaskan, kita sudah menyiapkan warisan itu.

Apakah sekarang merasa sudah ada legacy itu?
Ya saya sih sudah merasa demikian. Makanya waktu saya datang ke sini, saya langung mensosialisasikan CHOPPER. Saya kumpulkan semua karyawan, saya paparkan apa itu Chopper, saya ajak mereka duduk sama-sama untuk menyamakan persepsi.
Saya bilang, kita ini bisnis di bidang jasa, dimana kita adalah transporter yang mengalirkan gas dari satu titik ke titik lainnya. Kita punya customer, kalau customer satisfy (puas) kita akan dipercaya, bisnis kita akan growth (bertumbuh). Saya tegaskan kepada semua karyawan, bahwa bisnis yang dijalankan Pertagas, jauh berbeda dan memiliki karakteristik yang berbeda dengan bisnis yang dijalankan oleh anak perusahaan Pertamina lainnya. Di sini, yang betul-betul dituntut adalah enterpreunership.

Gunung tahu persis seluk beluk bisnis, hambatan serta langkah yang bisa dilakukan mengantisipasi hambatan yang terjadi di setiap anak perusahaan Pertamina. Itu karena sebelumnya dia sudah pernah menjadi Deputi di Pertamina Hulu, yang membawahi semua unit usaha Pertamina. Karena itu, usai mengikuti fit and proper test menjadi Dirut Pertagas, pria ramah ini segera menyiapkan ”warisan” untuk perusahaan yang dipimpinnya sebagai tata nilai perusahaan dalam sebuah bingkai CHOPPER.
Chopper yang terdiri dari Customer Satisfaction, HSE Concern, Operation Excellent, profit dan Personnel Improvement, merupakan landasan bagi perusahaan dalam meretas jalan menju World Class National Gas Business Enterprise.”Untuk mencapai ini, harus disokong oleh kerja profesional dengan melakukan yang terbaik melibatkan kerja tim dan harus memiliki integritas,” demikian jelas peraih gelas Master Manajemen Industri ini. Gunung mengi-baratkan Chopper ini seperti Helikopter, yang bisa melakukan manuver kemanapun.


Jadi Chopper ini sebenarnya langkah yang Anda siapkan menuju World Class ya?
Iya, jadi kalau kita bicara tentang orientasi untuk world class, kita harus menset up, memprogram sesuatu dengan acuan perusahaan kelas dunia juga. Ketika pertama kali duduk di sini (Dirut Pertagas-red) target awal world class company itu 2020. Saya tidak setuju, kenapa 2020, itu terlalu lama. Kemudian saya majukan lebih cepat menjadi 2015.
Tetapi saya bilang kepada teman-teman, jangan sam-pai bias dengan terminologi world class. Kita harus tahu persis, apa sih world class itu, jangan sampai hanya besar pada gaung dan slogannya saja. Untuk meyakinkan itu, saya panggil konsultan, saya katakan kepada mereka (kon-sultan), kalau saya pengen punya parameter kategori world class. Saya minta parameter yang betul-betul kalau kita bisa mencapai itu, bisa diakui.
Nah kalau bisa mencapai itu, menurut saya, 2020 itu kelamaan. Sekarang kita lihat, orientasi bisnis kita adalah financial dan salah satu parameternya adalah financial excellent. Kita sepakati tolak ukurnya mengacu pada bench-mark world class company yaitu profit per kapita. Saya targetkan profit per kapita US$ 250 ribu. Ini diacu juga oleh Singapura dan perusahaan kelas dunia lainnya. Kalau bisa mencapai itu, kita bisa mencapai world class. Dan ternyata, kondisi saat ini sudah mencapai angka itu, dengan jumlah karyawan 230, konsultannya kaget. Mereka bilang Bapak sudah mencapai angka US$ 250 ribu, artinya salah satu parameter world class dari aspek financial sudah terpenuhi.
Kemudian, indikator lainnya IFRS (International Finance Report System) Compliant (International Finance Report System), sistem laporan international, kemudian annual report dan sustainability report. Empat indikator ini kemudian kita jadikan satu parameter dalam financial excellence.
Parameter berikutnya, karena kita beroperasi, aspek operasional harus ada yakni Operation excellence, muatan-nya adalah best engineering practice. Kita sedang mencari bench mark yang bisa dikuantifikasikan. Jadi katakanlah kalau kita sudah mendeklare bahwa kami sudah melakukan best practice engineering berarti memang Pertagas sudah world class.
Indikator lainnya yakni HSE Excellence dengan target ISRS 6. Sekarang kita petakan berapa ISRS kita, meminta kepada pihak independen untuk menilai kita berapa posisi ISRS kita sebenarnya. Berapapun ISRS kita saat ini, tetapi target kita pada 2015, angka 6 itu harus sudah tercapai. Kemudian juga ada ISO 14001 kemudian OHSAS 18001, itu tiga parameter HSE yang kita pegang untuk 2015.
Kemudian yang keempat adalah dari aspek HRD ex-cellence. Saya pikir sudah lengkap, financial sudah ada parameternya, kemudian operasinya, HSE ada, sumber daya manusia juga sudah ada, sudah cukup toh. Tetapi apa-pun namanya, world class itu kan tidak harus go internasional ke sana - ke mari, tetapi yang terpenting, proses bisnisnya sudah mengacu ke situ dan ternyata ke depan, kita tidak hanya berorientasi domestik, tetapi juga ke luar.
Nah, kita sudah sepakat dengan world class tadi juga dengan 4 parameter yang dipakai. Selanjutnya bersama Direksi, kita sepakat meminta benchmark dari independen, dengan kita bikin di 2015. Lalu, untuk mencapai itu, makanya tadi saya bikin orientasi kerja yang namanya Chopper itu.

Saat melakukan fit and proper test menjadi Dirut Pertagas, Gunung ditanya apakah dalam waktu 5 tahun bisa mengalahkan perusahaan yang juga bergerak di bisnis gas. Dengan tegas pria yang rajin berpuasa Senin-Kamis ini menjawab, tidak bisa. Bahkan ia mengatakan, jika ada yang mengatakan sanggup, ia siap diganti.
”Saya katakan kepada pemegang saham bahwa saya akan membenahi secara fundamental dan mungkin di 2010, akan terjadi lonjakan, yang cukup lumayan. Kemudian saya katakan, kalau sampai 2015, angka T (triliun-red) itu bisa tercapai”.
Dan benar saja, pada 2009, profit Pertagas 198 miliar rupiah. Tahun 2010, profit perusahaan ini melejit kencang menjadi 555 miliar rupiah.


Apa yang dilakukan selama 1 tahun sehingga terjadi peningkatan signifikan itu?
Itu tadi, saat saya duduk di sini, yang pertama saya terapkan adalah Chopper. Sebelum saya bicara bisnis, saya bicarakan Chopper itu, dengan ramuan profit, etos kerja yang berupa profesional dan melakukan yang terbaik, kerja team serta integritas.
Kemudian selanjutnya baru mengarah ke bisnis. Ketika pertama kali saya duduk menjabat, yang saya liat ada-lah financial statement bukan project. Mungkin orang keuangan bingung, tetapi saya tegaskan, saya bekerja untuk profit bukan operasi. Kalau saya Dirut EP (Pertamina EP), saya ngga nanya itu, yang saya tanyakan adalah produksi hari ini. Saya rubah mindset di pertagas, dari sebelumnya berpikir project menjadi berpikir bisnis. Yang saya lihat be-rapa target revenue kita, bagaimana meningkatkan revenue dan mengurangi efisiensi cost.
Revenue saya lihat, volume apa saja mulai dari transporter, trader, dan processing. Pada saat transporter, kita terbatas pada jangka panjang. Bisa nggak dalam quick yield, mencari shiper baru atau trader baru, ternyata tidak mudah. Kemudian melangkah, bisnis berikutnya, trading. Trading juga tidak ada, kemudian ke processing. Semua peluang dan kemungkinan saya jajaki, jika ada persoalan, saya coba selesaikan, mencari akar persoalannya. Persoalan itu menjadi fokus saya untuk menyelesaikannya. Termasuk juga menyesaikan persoalan dengan BUMN atau BUMD. Kemudian saya buat The Big Five problem. Outstanding yang bisa menciptakan hasil signifikan tetapi dalam kurun waktu yang pendek.
Sekarang ini sudah 1 semester saya sudah minta tolong buatkan potensial lost dan potensial gain. Target kita pada 2011 ini adalah Rp 627 miliar pada 2011. Bagian Keuangan bilang jika RKAP normal, bisa diatas Rp 700 miliar. Saya juga tekankan kepada teman-teman agar tidak usah memaksakan margin besar. Biar kecil yang terpenting volume naik. Kita jangan berkutat, bernegosiasi terlalu lama, padahal gas hilang jadi flare, kesempatan pun hilang. Saya mengajak untuk berpikir enterpreuner, nggak apa-apa kecil, tetapi volume naik, karena kalau volume naik, trading kita dapat margin, transport juga dapat fee.
Kemudian kalau melihat dari potensial lost, misalkan forecast di akhir tahun 2011 dibawah target, itu tugas saya untuk mencarikan sumber baru. Ternyata, sampai bulan Mei, kita bisa mencapai di atas 700. Secara prosentase baru berjalan 5 bulan, laporan bulanan menunjukan sebagian sudah 55-60 persen. Inilah yang saya katakan kepada teman-teman, kalau kita mau running bisnis yang benar internal kita benahi, mitra kita benahi, baru kita berbicara bisnis, jadi enak, jadi kalau udah kayak gitu ada trust.

Kabarnya mau IPO, Kapan itu?
Kalau berbicara IPO, sebetulnya pada intinya, kami ini sudah menyiapkan di 2011 ini, hal-hal yang terkait dengan itu. Tinggal menunggu keputusan dari korporasi. Ada di pemegang saham. Kemarin ada yang bertanya apakah siap di 2012, saya katakan tidak, mungkin di 2013. Karena kita butuh proses, artinya kita butuh 3 tahun berturut-turut financial statement harus bagus, tidak ada piutang, tidak ada negatif. Jadi tidak hanya hanya sekedar IPO. Percuma IPO kalau harganya jatuh.

***

Dalam memimpin perusahaan, Gunung berusaha menciptakan melalui kerja yang tidak hanya berkutat pada urusan bisnis belaka, tetapi sisi kemanusiaan juga disentuhnya. ”Hidup harus seimbang,” demikian ucapnya.
Untuk menciptakan suasana kantor yang ”hidup”, berbagai kegiatan dilakukan, fasilitas olahraga dipenuhi juga kegiatan kerohanian diadakan. Setiap pekan ada pengajian. Hablum minallah dan hablum minannaas harus berjalan beriringan. Sebagai pimpinan, Gunung, tidak hanya menganjurkan, ia ikut terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan. “Role model dan keteladanan seorang pemimpin dibutuhkan, bukan hanya sekedar omongan,” tegasnya.


Kalau olahraga ikut juga?
Yah, olahraga kita kan banyak disini. Ada fun bike, futsal. Pokoknya saya memfasilitasi, termasuk golf. Untuk golf, saya minta ke teman-teman, bukan hanya sekedar olahraga tetapi networking. Kita memang perlu sesuatu untuk meng-entertain-kan, itu banyak manfaatnya. Jangan hanya dilihat negatifnya.

Seberapa sering bermain golf?
Yah, tergantung kebutuhan saja. Kadang siapa yang jadi host, kita ikut atau bergantian menjadi hostnya.

Kalau yang berkeringat apa?
Dengan usia segini kan, paling di rumah saja, jogging, treadmill, senam. Di rumah saya, setiap minggu ada senam, kalau saya nggak golf saya paksakan senam. Saya kolestrolnya tinggi, jadi saya masih puasa Senin-Kamis. Salah satunya menjaga kesehatan, mengurangi kolesterol. Kedua, menjaga emosi, karena selalu diingatkan. Ketiga, ya, pikiran lebih tenang, lebih wise, instingnya juga lebih tajam. Tetapi orientasi saya bagaimana kita bisa menyeimbangkan dari segi kesehatan bagus, dari sisi kerohanian terjaga.

Sebelum masuk ke Pertamina pada September 1989, Gunung Sardjono Hadi, sempat menjadi ”kuli tinta” selama 9 bulan di Majalah Tempo, antara 1987-1988. Ketika menjadi wartawan, Gunung berhasil melakukan wawancara dengan narasumber-narasumber sulit. Salah satunya Prof Ismail Saleh, Menteri Kehakiman dan Jaksa Agung, di era pemerintahan Orde Baru. Setelah lama berbincanag sambil wawancara dengan Ismail Saleh, si narasumber baru bertanya asal media. “dari Tempo” jawab Gunung. ”wah Tempo ada masalah dengan saya,” ucap Ismail lebih lanjut. Tetapi wawancara dengan Ismail Saleh pun bisa terbit.
Narasumber lain yang ”bermasalah” dengan Tempo adalah bintang film pemeran utama Tjut Nyak Dien, Chris-tine Hakim. Untuk bisa mendapatkan wawancara dengan lawan main Eros Djarot di film Tjuk Nyak Dien itu, Gunung, harus hadir di Preview film Tjut Nyak Dien dan duduk bersebelahan dengan Christine Hakim. Namun perempuan kelahiran 25 Desember 1956, itu tetap tak memberi ko-mentar.
”Saya bilang ke dia (Christine Hakim) Mbak, saya kan nggak pernah berbuat jahat sama Anda, saya kan hanya ingin menjalin hubungan baik. Akhirnya dia mau komentar juga, meskipun ada beberapa yang off the record,” terang-nya.
Karena itu, ketika berpamitan ke rekan-rekan di Tempo karena harus bekerja di Pertamina, banyak yang kaget dan berharap, jika ia tidak betah di Pertamina, agar balik lagi ke Tempo. Ia terpaksa meninggalkan dunia jurnalistik karena mendapat panggilan dari Pertamina. ”Semasa kuliah saya dapat beasiswa dari Pertamina.” ujarnya. Selesai kuliah saya diawjibkan lapor ke perusahaan dan akan ditempatkan sesuai dengan kebutuhan. Tapi, karena belum ada formasi, Gunung berkelana di dunia jurnalistik


Pengalaman menjadi reporter selama 9 bulan bermanfaat nggak?
Oh, sangat bermanfaat. Kalau kita melihat tahun 87-88, harus kita akui ada beberapa perusahaan menjadi benchmarking, mungkin saat itu Pertamina belum masuk. Namanya industri perbankan ada Citi Bank, kalau orang keluar Citi Bank, kemana-mana mudah. Industri Chemical itu Unilever. Kemudian kalau IT, IBM. Sementara Media, itu ada Kompas dan Tempo. Jadi, kalau orang keluaran dari situ, baik dari sisi kualitas, integritas, bisa dipercaya. Itulah ma-kanya, saya masuk kesitu, saya sangat mensyukuri.

Kalau orang yang berpengaruh dalam membentuk karakter Anda, siapa?
Saya sama orang tua dididik dengan didikan keras. Bapak saya dulu, dari pengusaha kayu, wiraswasta. Terus bergabung juga di partai, PNI. Tetapi partai dulu sama sekarang berbeda. Dulu banyak uang hanya untuk partai. Kalau sekarang orang masuk partai untuk cari duit. Karena itu, dulu, untuk masuk partai harus kaya dulu. Rumah dipakai untuk kegiatan partai dan sebagainya.
Tetapi kemudian, bapak melihat perpolitikan sudah mulai kacau. Beliau kemudian keluar dan menekuni lagi di swasta bergerak dibidang angkutan. Mulai dari 1 bemo. Tetapi beliau mengajarkan betul-betul, kalau kamu mau sukses kamu harus mencintai pekerjaan kamu itu. Kamu bisa menempatkan bahwa kamu bisa hidup dari sini.
Jadi Bapak saya ngomong , kita bisa makan, saya bisa menyekolahkan kamu itu dari bemo. Kalau bemo ini tidak jalan, kita nggak ada duit. Kalau nggak ada duit, kita nggak bisa makan, bayar sekolah. Setiap pagi, bapak membangunkan anak-anak jam 4.30, sholat subuh kemudian diajarkan, bemo itu harus dikontrol, mulai dari anginnya. Beliau menasihati, kalau ban anginnya kurang, penumpangnya banyak, ban tidak optimal. Akibatnya, ban yang seharusnya 9 bulan diganti, 3-4 bulan akhirnya harus diganti, sehingga ada penambahan cost. Jadi, secara tidak langsung, saya diajarkan bisnis oleh Bapak saya.
Kemudian air aki diperiksa, radiator juga. Selain itu, bemo sebelum berjalan harus dipenuhi bensin, sopir saat mengembalikan di cek bensinnya. Sebab kalau bensinya penuh, mesin bagus, tetapi kalau sampai habis, kotoran bisa naik ke atas dan mengganggu mesin. Jadi kita diajarkan sampai segitu. Bemo pun dicat yang bagus, dicuci biar orang mau naik.
Dari 1 bemo, kemudian berkembang menjadi sekitar 6 hingga 7 bemo. Kemudian terjadi peremajaan menjadi angkot. Ini terus berlangsung sampai saya kuliah. Tetapi karena usia bapak sudah sepuh, semua angkot dijual, apalagi semua anaknya sudah tuntas menyelesaikan pendidikan. Saya sebenarnya tidak usah belajar di sekolah bisnis, di situ saja. Saya terasah disitu.

Selain orang tua yang banyak memberi pengaruh dalam membentuk karakter Anda, adakah tokoh lain yang memberi inspirasi dan pengaruh dalam karakter Anda?
Yang pertama orang tua, kemudian yang sangat terkesan dengan Pak Habibie (BJ Habibie-red). Jadi ceritanya waktu SMA, saya ikut lomba karya ilmiah remaja. Saat itu saya menang lomba karya ilmiah remaja tingkat nasional di TVRI. Disitu, kita ikut upacara bendera dan bertemu dengan para menteri. Bertemu dengan Habibie, saat itu masih anak-anak bertanya ke beliau; apa sih Pak Habibie, kiat sukses seperti bapak. Dia hanya menjawab, cintailah pekerjaanmu. Itu statement beliau. Karena kalau kamu mencintai pekerjaan kamu kemudian lakukan yang terbaik, itu yang namanya jabatan, uang akan mengalir dengan sendirinya.
Dan itu terbukti, dia membuktikannya. Dulu waktu dia mengambil jurusan penerbangan, diketawain. Tetapi karena dia berdedikasi penuh, berprestasi bahkan diakui dunia, jabatan datang sendiri, tawaran menjadi Wapres dan sebagainya datang menghampiri.
Waktu kecil sampai sekarang saya ingat dengan pernyataan Pak Habibie itu, ini pun saya wariskan kepada anak saya. Saya katakan, apapun pekerjaan, kalau kamu menyenangi dan mengerjakan tanpa beban, insya Allah akan barokah.

Kalau pencapaian pribadi, apakah merasa udah maksimal atau masih ada yang belum?
Saat test IQ, saya disuruh memilih mau menjadi apa. jawaban saya ada dua, pengen jadi Presiden sama Insinyur. Insinyur sudah tercapai, Presiden yang belum. Tetapi melihat konstalasi seperti ini, sepertinya tidak. Kalau sekarang Presidennya di belakang, Presiden Direktur, sudah tercapai ini. Jadi sebenarnya jawaban saya itu sudah terpenuhi.
Kalau karier yang kasat mata yang terukur, harfiah, sebetulnya saya melihat dari aspek profesional, sudah berada dalam posisi yang paling tinggi. Tetapi sebagai manusia, kita hanya berusaha menjalankan yang terbaik saja. Terus melakukan yang terbaik dan berhenti ketika ajal datang atau karena fisik yang tidak memungkinkan.

Ketika ada lowongan pekerjaan di pertamina, Gunung Sardjono Hadi, yang baru lulus dari teknik Kimia Undip Semarang, melayangkan lamaran kepada dua divisi Pertamina yang sedang membuka lowongan, yakni Pertamina EP dan Pertamina Unit Pengolahan. EP berkedudukan di Semarang, sementara Pengolahan di Jakarta. Hebatnya lagi, dua-duanya menerima Gunung sebagai karyawan.
Karena EP yang terlebih dahulu memanggil, ia pun mengikuti pelatihan di EP dan ditempatkan di Cepu. Setelah 7 bulan di Cepu, datang panggilan dari pengolahan. Dan ia memutuksan untuk tetap di EP. ”Untung saya di EP, kalau di Pengolahan, nggak jadi Dirut,” katanya tertawa lepas.
Berbagai jabatan sudah dijabatnya. Mulai dari insinyur lapangan, kemudian terus merambat baik menjadi Manager Perencanaan dan Anggaran PEP di tahun 2005. Tahun 2007, naik menjadi Vice President (VP) Perencanaan. Lalu dipromosikan menjadi Senior Vice President (SVP) Business Development pertamina Hulu selama 15 bulan dan SVP Perencanaan dan Evaluasi selama 9 bulan. Selanjutnya sejak Agustus 2010 hingga sekarang menjadi Dirut Pertamina Gas.


icon
Berita Lain
22 Agustus 2011 | 23.33
Tambang Kita Kebablasan
22 Agustus 2011 | 23.33
Wanita Harus Lebih Pandai dari Pria
22 Agustus 2011 | 23.33
Bisnis itu Sangat Dinamis
22 Agustus 2011 | 23.33
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri