*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 18 November 2011 | 02.37
Never Say Never

Sejak September 2011, Raymond Douglas Hodgson atau yang biasa disapa ’Pak Ray’, melepas jabatan Presiden Direktur Leighton Contractors Indonesia (LCI) dan digantikan oleh Justin Colling. Ray, pria Inggris yang memiliki darah Irlandia ini, memiliki pengalaman 38 tahun dalam berbagai proyek konstruksi di hampir seluruh dunia.
Pria kelahiran 1949 ini, banyak berbagi cerita tentang pengalaman pribadinya, sejak masih kecil ketika di Inggris sampai ketika berada di tengah hutan di kawasan Kalimantan dan bergoyang dangdut di tengah kerumunan manusia. Soto adalah salah satu masakan favoritnya. Alasannya, bisa ditemui dimana saja di hampir semua wilayah di Indonesia. ”Jika pengen makan, tidak susah mencarinya,” demikian alasannya.
Sementara Justin Colling, sebelumnya menjabat sebagai General Manager Mining di LCI. Pria kelahiran Afrika Selatan 1 Juli 1972 ini, memiliki pengalaman 19 tahun di berbagai proyek konstruksi di beberapa negara. Jika Ray banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya, Justin justru banyak bercerita tentang perusahaan yang kini dipimpinnya serta nilai-nilai yang menjadi pegangan bagi seluruh karyawan LCI. Meski baru sekitar 19 bulan berada di Indonesia, bapak dua anak ini sudah mulai suka makanan Indonesia, terutama masakan yang pedas. Nasi goreng, salah satunya.
Baik Ray maupun Justin sepakat bahwa, salah satu kunci sukses LCI mampu hadir di Indonesia hingga 37 tahun dan menjadi salah satu kontraktor pertambangan terkemuka karena perpaduan pengalaman internasional yang dimiliki serta pengetahuan lokal dan kerja keras yang ditunjukkan oleh karyawan melalui nilai yang ditanamkan perusahaan.
Keduanya saling melempar pujian. Justin melihat Ray sebagai sosok yang memiliki segunung pengalaman dengan semangat dan energi yang tak pernah habis. ”Anda jarang memiliki kesempatan untuk bertemu seseorang dengan etika kerja dan semangat seperti Ray. Ia menetapkan standar yang sangat tinggi bagi setiap orang untuk berusaha. Dia adalah pemimpin sejati dengan inspirasi, energi dan gairah yang tinggi. Saya mengenal Ray 18 bulan, namun rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Ini karena ia benar-benar peduli dan dengan caranya dia membantu setiap orang baik kolega ataupun teman,” demikian puji Justin kepada Ray.
Ray pun memuji suksesornya tersebut sebagai anak muda yang memiliki integritas dan kemampuan dalam memimpin perusahaan. Ia yakin, Justin, akan mampu memebawa LCI ke depan lebih baik lagi. ”Justin merupakan pribadi yang kuat dengan integritas tinggi. Dia cukup solid dan dapat diandalkan serta memimpin dengan memberi teladan. Dia mendapat penilaian yang baik dan dapat bekerja dalam semua budaya, baik Australia, Inggris maupun New Zealand.
Dia pemimpin alami pekerja keras dan melalui transisi dengan baik. Saya yakin dia akan membawa Leighton menuju prestasi yang lebih baik di masa depan. Kami menjadi teman relatif mudah karena saling berbagi pengalaman dan nilai. Kami memiliki gaya yang berbeda dan itu bagus. Dia pun telah mengajarkan saya beberapa bahasa Afrika Selatan semisal ”I'm telling you now”. Demikian puji Ray Hodgson untuk Justin Colling.
Bertempat di kantor LCI di bilangan Cilandak, Jakarta, Ray dan Justin berbagi pengalaman dan cerita mereka kepada Alamsyah Pua Saba dan Taufiequrrohman dari Majalah TAMBANG.


Raymond ”Pak Ray” Douglas Hodgson

Apa pengalaman yang paling berkesan selama Anda di Leighton?
Ada banyak pengalaman mengesankan. Dimulai dengan diangkat sebagai Presiden Direktur pada tahun 1996. Kemudian tonggak berikutnya ketika bisnis kami sampai pada perputaran US$100 miliar per tahun. Lalu kami memenangkan proyek pertama kami senilai lebih dari US$ 1 miliar, di tambang batubara Wahana kemudian dilanjutkan dengan ekstensi tambang MSJ. Ini adalah peristiwa besar bagi kami. Ini semua terdengar sepertinya yang saya ingat hanyalah tentang uang.
Tetapi pengalaman terbaik adalah ketika bersama para karyawan. Pesta dan perayaan tahunan merupakan peristiwa besar yang selalu saya ingat. Terutama pada 2009, ketika saya pulang dari beristirahat sejenak di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka (staf Leighton) membuat sebuah video lucu tentang saya yang begitu bersedih ketika di Kuala Lumpur kemudian begitu bahagia saat saya kembali ke Indonesia.
Dan jika ada satu hal yang membuat saya merasa bangga adalah saya dikenal oleh teman dan kolega di hampir seluruh dunia sebagai ”Pak Ray”. Bahkan di Hongkong, teman-teman kerja selalu memanggil saya dengan Pak Ray. Nama ini, akan selalu bersama saya selama sisa hidup saya. Dan saya akan mungkin akan memberitahu cucu saya memanggil saya ”Pak Ray” bukan Grandpa.

Apa pengalaman yang paling tak terlupakan selama Anda tinggal di Indonesia?
Menari dangdut untuk pertama kalinya, di panggung, di tengah hutan di Malinau, bagian Utara Tarakan dekat perbatasan Sabah, Malaysia. Saya dikelilingi oleh ratusan pekerja, dan dihibur oleh para pemimpin suku Dayak dan pejabat. Semua penonton mengenakan kostum tradisional dengan penutup kepala dari bulu.
Juga ada beberapa hal kecil setiap hari yang saya temui. Saya memiliki sopir yang selalu bersama saya selama 15 tahun, Johny. Dia bukan hanya sekedar sopir, tetapi menjadi teman keluarga. Ketika anak-anak saya masih remaja, kami akan mengirimkan Johny bersama mereka untuk memastikan perilaku mereka terjaga -meski saya tidak yakin itu berjalan. Tetapi anak-anak saya selalu pulang dalam keadaan selamat.
Ada juga pengalaman buruk yang tidak biasa sekaligus lucu pada saat bersamaan. Yakni pada saat terjadi kerusuhan di tahun 1997. Kami memutuskan untuk mengevakuasi beberapa keluarga ekspatriat dan kami pergi ke bandara di tengah malam. Rasanya seperti latihan militer dengan konvoi sekitar 5 Kijang. Saya dan sopir berada di depan memimpin. Ketika kami sampai di bandara dengan aman, kami harus membayar pajak fiskal keluar dan kami tidak memiliki cukup uang. Kami juga tidak diperbolehkan untuk pergi. Akhirnya, kami harus menemui teman dan meminjam uang.

Apa yang paling anda sukai tentang Indonesia?
Indonesia memiliki semangat dan energi yang besar. Beragam orang dari budaya yang berbeda dengan segala status mereka, baik yang kaya maupun miskin, semua menyatu dan saling bekerjasama.
Saya selalu merasa aman bepergian dimana saja di sini, bahkan hingga di tempat terpencil sekalipun. Orang-orang berbahagia tidak peduli serendah apapun posisi atau situasi mereka – Anda, masih akan terus mendapatkan senyum-, tidak ada kecemburuan atau permusuhan secara terbuka juga rasa hormat secara alami dari orang-orang.
Dan akhirnya...macet. Tetapi itu (macet-red) memberi saya waktu untuk berpikir dan bekerja di mobil tanpa adanya gangguan!

(Dalam banyak kesempatan, Ray selalu mengenakan batik.Bahkan, setiap hari Jumat, karyawan Leighton, dianjurkan untuk mengenakan batik. Selain menyukai batik, Ray juga suka dengan masakan Indonesia. Soto menjadi salah satu makanan favoritnya. Selain rasanya yang enak, soto juga bisa ditemui di hampir semua wilayah di Indonesia).

Apa yang akan Anda lakukan setelah ’pensiun’ dari Leighton?
Saya ingin bekerja paruh waktu selama beberapa tahun lebih sebagai seorang konsultan, penasihat, komisaris atau peran serupa lainnya. Pengalaman saya di Asia, akan dapat membantu perusahaan-perusahaan dari Kanada, Australia ataupun Eropa untuk berinvestasi di Asia, khususnya Indonesia. atau membantu perusahaan Indonesia selama saya bisa memberi beberapa nilai tambah. Tetapi tidak full time karena saya juga perlu belajar bagaimana berhenti bertugas 24 jam sejak jam 7 pagi.
Ski adalah hobi favorit saya. Mungkin saya belajar santai dengan memancing atau berlayar. Impian jangka panjang saya adalah belajar menerbangkan pesawat ringan. Tapi itu mungkin hobi yang mahal. Item lain dalam daftar keinginan saya adalah pergi berburu. Justin (Justin Colling-red) sudah berjanji membawa saya berburu di Afrika Selatan.

Warisan apa yang akan Anda tinggalkan untuk pengganti Anda dan karyawan Leighton?
Sebuah bisnis yang kuat dan berkembang, dengan tim yang sangat baik dari staf dan karyawan (sekitar 6000 jumlah karyawan). Kemudian budaya perusahaan dengan etos kerja yang baik dan nilai-nilai yang sama. Dan terutama menjadikan LCI sebagai perusahaan yang dihormati di masyarakat, dengan track record kinerja yang baik untuk klien dan juga stakeholder.
Sementara untuk karyawan kami, kami memiliki bisnis yang berkelanjutan dan kesempatan bagi semua orang dan keluarga mereka untuk tumbuh dan berkembang bersama perusahaan

Apa yang paling Anda rindukan dari Leighton?
Saya merindukan pressure dan stress (yang baik) dan juga pergulatan dalam memimpin tim yang hebat dalam membuat perbedaan, melihat hasil yang sudah dicapai dan mengatasi kesulitan. Saya merindukan sebuah deal dalam melakukan negosiasi dan bermuara pada win-win solution.
Dan tentu saya merindukan mengunjungi proyek kami yang berada di tempat terpencil di seluruh Indonesia. Mulai dari Papua, Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Belum ada proyek di Bali dan mungkin itu bisa menjadi target untuk Justin di masa mendatang. Saya juga akan merindukan persahabatan dan visi bersama dengan kelompok bisnis seperti Indonesia-Australia Busieness Council.

Siapa yang telah memainkan peran penting dalam membentuk karakter Anda?
Ada beberapa mentor kunci dalam lingkup pekerjaan selama bertahun-tahun. Big Bos luar negeri pertama saya, yang untuk beberapa alasan mengirimkan saya yang masih sangat muda di beberapa tempat yang asing dan mempromosikan posisi pertama saya sebagai Project Manager di Aqaba, Yordania. Dan selama bertahun-tahun, pimpinan dan mentor saya lainnya menyertakan saya bersama mereka dan terus memberi tanggungjawab yang lebih kepada saya. Bos terbaru saya, Hamish Tyrwhitt, adalah MD (Managing Director) Leighton Asia sampai sebulan lalu. Tetapi kemudian pergi dan dipromosikan menjadi CEO dari Kelompok Leighton secara keseluruhan.
Sebagai seorang anak, kami tumbuh di masa-masa sulit di tahun 50-an setelah perang. Ibu dan ayah saya mengajarkan dengan baik kepada kami soal etos kerja. Sebagai anak-anak, kami harus bekerja paruh waktu di setiap liburan sekolah untuk mengumpulkan uang.
Dari ibu saya, saya punya sedikit darah Irlandia yang kadang-kadang keluar. Itulah sebabnya saat saya begitu antusias saya selalu menggerakan tangan saya. Sementara ayah saya adalah orang yang telaten dan mampu memperbaiki mobilnya sendiri. Saya sendiri mampu mengutak-atik mesin motor sebelum saya berumur 12 tahun dan mungkin masih bisa sampai sekarang. Saat nanti pensiun dalam satu atau dua tahun ke depan, saya mungkin bisa memulai hobi membangun sepeda motor klasik.

Apa nasihat Anda untuk pengganti Anda?
Apapun yang berhubungan dengan orang, lakukan dengan hati-hati, dengan benar dan lakukan dengan adil. Dengan klien di sini (Indonesia), kita membutuhkan hubungan yang baik. Selain itu dibutuhkan kesabaran dan stamina yang prima. Karena seringkali terjadi di luar jadwal kita.

Apa pandangan Anda tentang industri pertambangan di Indonesia?
Industri ini (pertambangan) sudah cukup lama (mature) dan sekarang menghadapi persoalan sulit tentang keberlanjutan. Sumber daya yang ada akan selalu menjadi mesin pertumbuhan bagi negara dan masih ada peluang besar bagi investor dan pelaku bisnis untuk menanamkan modalnya. Dimana pun kita bekerja, kita harus melihat dan memberi manfaat kepada masyarakat lokal.

Berdasarkan pengalaman Anda, apa tantangan terbesar bagi industri pertambangan di Indonesia?
Seperti saya sebutkan sebelumnya, tantangannya yakni menjaga keseimbangan kebutuhan negara untuk keberlanjutan versus konflik pertumbuhan industri pertambangan yang lebih jauh yang memberi keuntungan bagi para pekerja, komunitas lokal, pendapatan dari pajak untuk negara dan tentu saja pemilik tambang dan pelaku bisnis seperti kami.
Pengembangan modal manusia adalah kebutuhan yang besar untuk mendapatkan keuntungan penuh dari industrialisasi. Pendidikan, dan pelatihan ketrampilan yang tinggi pada agenda Pemerintah dan industri. Kita sendiri perlu untuk mempekerjakan 2.000 koperasi terampil lain selama tahun depan atau lebih, dan itu adalah tantangan, tetapi kita harus melakukannya.
Justin Colling

Apa visi Anda dalam memimpin Leighton di masa depan?
LCI memiliki dasar yang kuat dalam menyelesaikan proyek yang kini tengah kami tangani juga proyek di masa yang akan datang. Kami bekerja berdasarkan visi kami dan terus melanjutkan keberlangsungan usaha, bukan hanya dari sisi omzet tetapi yang lebih penting adalah karyawan. Ini merupakan suatu tantangan bagi karyawan kami bekerja di lingkungan yang terus berubah dan berkembang. Kami harus tetap setia pada nilai yang selama ini kami anut dan tetap mempertahankan etos dan juga budaya kerja kami. Sehingga kami terus tumbuh secara berkelanjutan tanpa mengabaikan nilai dan budaya yang sudah terpatri, sehingga bisa melanjutkan proyek kami dengan baik.

(Justin memaparkan visi perusahaan yakni menjadi perusahaan konstruksi terkemuka dan penyedia jasa pertambangan di Indonesia yang didukung sepenuhnya oleh karyawan, nilai-nilai, pengetahuan lokal serta pengalaman internasional, kemudian tetap fokus pada pelanggan, masyarakat juga pemilik saham).

Bagaimana Anda melihat diri Anda dalam waktu 5 tahun ke depan?
Hmm.. mungkin dengan rambut yang berkurang (sambil mengusap rambutnya). Saya tidak bisa bicara hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk LCI secara keseluruhan. Kami akan memiliki pangsa yang lebih besar baik di sektor pertambangan, infrastruktur maupun bangunan dan teknik sipil. Dunia yang kini kita tahu, akan sangat mungkin berubah hingga 3 kali lipat. Dan kami telah beradaptasi dan memiliki keunggulan melewati perubahan yang ada. Jadi, yang akan kita lihat adalah perubahan dan tantangan yang dihadapi. Kami ingin bersama para karya-wan melewati perubahan itu bersama. Jadi, untuk 5 tahun ke depan, yang bisa digambarkan adalah sebagai sebuah ”peluang”.

Pelajaran apa yang dapat Anda petik dari kepemimpinan Pak Ray?
Kesabaran, terkadang dalam lingkungan kita membutuhkan kesabaran dan sesuatu yang diinginkan terjadi. Kebijaksanaan dan kepemimpinan adalah mengetahui kapan harus menahan diri dan kapan harus melakukan aksi. Ray, dengan pengalaman bertahun-tahun, dia tau pasti kapan harus menunggu dan kapan harus mendorong agar proyek itu bisa segera terealisir. Kedua yang bisa saya pelajari dari Ray adalah Passion. Ray adalah orang dengan komitmen yang tidak ada duanya. Dan ia tidak malu untuk menunjukan passionnya itu. Selanjutnya hal lain yang saya pelajari darinya adalah Space. Ray memiliki kemampuan memberi ruang kepada semua orang untuk memainkan peran masing-masing dan terus memberi ruang untuk berpikir dan mengembangkan keterampilan.

Apa filosofi hidup Anda dan bagaimana cara mempengaruhi kehidupan sehari-hari Anda?
Saya beruntung bahwa filsafat saya tentang hidup sangat sejalan dengan nilai-nilai perusahaan kami, sehingga cara saya hidup dan bekerja sama. Nilai-nilai inilah pada akhirnya menentukan budaya dan perilaku.

Di bawah kepemimpinan Anda, selain memperkuat bisnis inti, apakah Anda berencana untuk diversifikasi?
Never Say Never, Jangan pernah berkata tidak pernah. Tetapi saat ini yang menjadi fokus utama adalah mengamankan lebih banyak pekerjaan juga menyelesaikan proyek baru juga proyek existing, dengan aman, tepat waktu dan sesuai anggaran.
Bahkan kalau pun harus melakukan diversifikasi, saya percaya itu akan tetap berada dalam kompetensi kami untuk memberi nilai lebih dari proses yang ada atau layanan kami dan akhirnya memberi nilai tambah kepada klien kami.

Apa kunci LCI untuk keberhasilan dalam melakukan bisnis di Indonesia?
Ray: Kami bekerja keras, kami semua. Ini membutuhkan waktu yang lama dan tanggungjawab yang besar. Kami bekerja keras dan pada saat bersamaan harus memenuhi keinginan pemegang saham. Ini merupakan keseimbangan yang sulit dan membutuhkan keterlibatan yang lebih intens secara personal dari pihak pimpinan dan juga eksekutif.
Setiap isu dan masalah yang muncul, kami harus pecahkan bersama klien kami, partner, staf kami juga stakeholder lainnya tempat dimana kami beraktivitas. Singkatnya, inilah gaya khas kami baik Leighton Asia maupun Leighton Indonesia.

Justin: Kunci utama kami adalah pada orang-orang kami (karyawan). Mereka bisa menunjukan sikap sebagai mana yang semangat dari nilai yang ditanamkan perusahaan. Kita telah melihat bagaimana mereka mencapai hasil yang fantastis yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kami siap untuk mendengarkan, kami adalah organisasi yang yang terus belajar dan siap untuk mendengarkan dan bekerja sebagai partner bersama customer dan karyawan kami.

Apa yang membuat LCI berbeda dengan kontraktor pertamabngan dan migas lainnya?
Ray: Perusahaan induk kami Leighton Asia dan kantor pusat Asia ada di Hongkong. Jadi mungkin hanya kami perusahaan kontruksi dan pertambangan Internasional de-ngan jangkauan bisnis yang lebih dekat ke hampir semua negara Asia. Pengalaman internasional dan pengetahuan lokal adalah keunggulan kami.
Kami juga telah aktif lebih lama dari kontraktor lainnya seperti di Indonesia yang sudah 37 tahun. Kami juga memberi kepastian kepada klien kami juga kepada sindikasi perbankan mereka.

Justin: Orang-orang kami! Semangat dan ambisi mereka untuk memberikan pelayanan, dengan pelayanan yang aman dan memberi nilai lebih kepada customer.

icon
Berita Lain
18 November 2011 | 02.37
Tambang Kita Kebablasan
18 November 2011 | 02.37
Wanita Harus Lebih Pandai dari Pria
18 November 2011 | 02.37
Bisnis itu Sangat Dinamis
18 November 2011 | 02.37
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri