*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 24 Juli 2012 | 23.26
Andalkan Nama Besar Tidak Cukup


Strategi bisnis dengan militer ada kemiripannya. Bisnis harus fokus, supaya pengerahan sumber daya manusianya gampang. Wawancara dengan Luhut Panjaitan.

INVESTOR asal Jepang mengaku tertarik dengan penawaran umum perdana saham PT Toba Bara Sejahtra. Ini adalah perusahaan yang didirikan dan dipimpin Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Panjaitan. Pemaparan publik perusahaan tambang batu bara itu berlangsung di Jakarta, 11 Juni 2012.
Harga perdana saham Toba dibuka di kisaran Rp 1.850-2.400 per lembar. Penawaran umum dibuka muali tanggal 27-29 Juni 2012. Perseroan menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT Morgan Stanley Asia Indonesia, dan CLSA Indonesia sebagai penjamin emisi. Saham PT Toba Bara Sejahtra juga ditawarkan melalui roadshow di Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat.
Jarang orang yang mengenal Luhut Binsar Panjaitan sebagai pengusaha. Ia lebih kondang sebagai tentara lulusan terbaik Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Tahun 1970. Sebagai tentara, kepiawaian Luhut tak diragukan lagi. Ia merintis kesatuan anti-teror di Kopassus, yang dikenal sebagai intinya kesatuan baret merah. Ia juga sudah lulus di berbagai medan tugas, di antaranya di Timor Timur.
Di era Kabinet Abdurrahman Wahid, Luhut diangkat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ia sadar, masih banyak yang meragukan kemampuannya sebagai pengusaha. Itu tidak menyurutkan langkahnya sebagai pengusaha tambang.
Luhut, penyandang gelar Master of Public Administration, George Washington University, Amerika, ini kini tak hanya memimpin sektor pertambangan batu bara. Perusahaan milik Luhut telah berkembang, paling tidak menjadi 15 perusahaan di sektor minyak dan gas bumi, perkebunan, dan kelistrikan.
Lalu usaha apa saja yang dilakukan Luhut dalam menjalankan bisnisnya ini? Bagaimana Luhut mengembangkan bisnisnya dalam tempo singkat? Upaya apa saja yang dilakukan Luhut untuk meminimalkan resiko-resiko bisnisnya?
Juni lalu, wartawan TAMBANG Iwan Qodar Himawan dan Taufiequrrohman menemui Luhut di kantornya, di Wisma Bakrie II. Ia menjawab semua pertanyaan TAMBANG dengan lugas, sambil sesekali berdiskusi dengan teman-temannya yang semuanya adalah pensiunan orang-orang penting: Letnan Jenderal (purnawirawan) Suaidi Marasabessy (pensiunan Kepala Staf Umum TNI), bekas Wakil Panglima TNI Jenderal (Pur) Fachrul Razi, mantan Menteri Perhubungan Jusman Sjafii Djamal, mantan Kepala Bada Intelijen Negara, Syamsir Siregar, serta bekas Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman.

Banyak orang kaget, tiba-tiba saja Luhut Panjaitan jadi pengusaha. Kesannya tiba-tiba perusahaan Anda menjadi besar.
Jadi setelah berhenti jadi menteri di usia 58 tahun, saya membangun bisnis yang cocok dan menjanjikan masa depannya. Sehingga kami fokus saja dalam proyek ini. Saya membangun Toba Sejahtra pada 6 Agustus 2004 lalu, dengan tujuan ingin melakukan kegiatan yang bermanfaat sekaligus membantu memajukan perekonomian Indonesia.

Kenapa diberi nama Toba Sejahtra, bukan Toba Sejahtera?
Hahaha... ini pertanyaan bagus. Jadi kalau di Pekanbaru sana, orang mengenalnya kata ''sejahtra'', bukan ''sejahtera''. Ini mirip kalau di Sunda, orang sering menyebut huruf ''f'' dengan ''p''. Ketika mau membuat nama perusahaan, saya begitu saja menuliskan nama ''sejahtra'', pakai tulisan tangan. Tahu-tahu nama itu diterima Departemen Kehakiman.

Apakah sebelumnya Anda memiliki pengetahuan di sektor tambang?
Selama ini saya terlibat aktif dalam setiap kegiatan diskusi untuk memberi masukan, atau mencari masukan. Saya banyak menimba pengetahuan soal tambang dari hasil diskusi dengan teman-teman saya. Dari sinilah saya menjalankan bisnis dan mengembangkan bisnis, tentunya dengan pengetahuan ilmu yang saya dapatkan di George Washington University, Amerika.

Untuk membangun usaha tentu membutuhkan modal, dari mana Anda mendapatkan modal?
Soal modal usaha PT Toba Sejahtra, 100% dari saya pribadi dan perbankan.

Anda dikabarkan dekat dengan Aburizal Bakrie, benarkah Anda mendapat modal usaha darinya?
Aburizal Bakrie itu teman dan sahabat saya. Tapi kalau bicara soal modal usaha dari Bakrie, hingga saat ini saya tidak ada kaitannya. Semua 100% modal dan kepemilikan saham di PT Toba Sejahtra ini milik saya. Daripada ditanya-tanya lagi, ini saya tegaskan, Aburizal Bakrie sama sekali tidak mempunyai saham di perusahaan ini.
Kebetulan saja, gedung yang saya pakai ini gedungnya Bakrie. Tapi kan statusnya juga sewa, jadi jangan melihat karena saya berkantor di gedung milik Bakrie, terus beranggapan usaha saya berada di balik Bakrie. Sebentar lagi saya mau membangun gedung sendiri, di kawasan Mega Kuningan.

Walaupun terbilang masih muda, namun PT Toba Sejahtra sudah mencatat prestasi dengan menunjukkan pertumbuhan yang positif. Bagaimana Anda memimpin usaha ini hingga menjadi seperti sekarang?
Saya punya prinsip tidak boleh gagal, karena itu selain menggunakan kemampuan pribadi, saya juga meminta masukan dari teman-teman saya yang terlibat di PT Toba Sejahtra, dalam membuat keputusan. Saya memiliki orang-orang kredibel untuk memberikan masukan.
Sebab itu, tanamlah rasa kepercayaan. Selain itu, kejujuran dan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga perlu dikedepankan. Tanpa kepercayaan dan kejujuran maka usaha yang dibangun akan gagal. Berikutnya adalah networking. Hal-hal inilah yang diperlukan dalam menjalankan bisnis.
Fokus juga diperlukan dalam menjalankan unit usaha, belajar dari pengalaman perusahaan-perusahaan besar lain, kebanyakan gagal karena banyak menjalankan unit usaha sehingga tidak fokus. Kami tetap akan fokus di proyek yang sudah kami jalankan.
Kini selain di sektor energi, saya juga sedang mengembangkan bisnis disektor perkebunan dan kelistrikan. Ini dilakukan karena saya melihat ada peluang bisnis di sana. Kalau cuma mengandalkan nama besar saja itu tidak mungkin.

Mau masuk ke bidang apa lagi?
Tidak, saya mau fokus dulu di bidang yang sudah saya geluti ini. Kalau yang kita serbu tidak terlalu banyak, mengerahkan sumber daya manusia juga enak. Ini seperti kalau kita di Kopassus. Kalau mau menyerbu, pilih fokus untuk titik penyerbuan. Sehingga mengerahkan pasukan juga gampang. Kalau pasukan paling depan gagal, ada pelapisnya. Pelapis pertama gagal, ada pelapis berikutnya. Kalau bidang yang mau kita garap terlalu luas, mengerahkan pasukannya juga sulit. Tidak ada pelapis kalau pasukan di depan gagal.
Mungkin karena saya besar di Kopassus, maka saya pilih fokus.

Adakah kualifikasi khusus dalam perekrutan SDM?
Untuk mendapatkan SDM berkualitas memang sangat sulit, karena itu saya mencari hingga ke luar negeri. Namun demikian, saya tetap mengutamakan orang Indonesia untuk dapat berkerja membangun perusahaan ini.
Selain pentingnya memiliki keahlian dan pengalaman di bidangnya, rasa kecintaan terhadap tanah air juga menjadi salah satu indikator. Perlu diketahui, saat ini perusahaan saya di sektor migas telah diisi 100% orang pribumi dan ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak nasional yang isinya pribumi.
Bukan karena, saya anti-asing tetapi saya akan terlebih dahulu memprioritaskan orang-orang pribumi untuk bekerja di tempat saya. Kalau pribumi mampu kenapa tidak, terlebih ini adalah tanah airnya.
Sebagai contoh, pada saat itu saya mencari tenaga ahli di bidang perminyakan. Namun saya dihadapkan pada dua pilihan. Yang satu orang asing dan satu lagi orang pribumi, anak salah satu tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tentu saya pun memilih anak pribumi tersebut, karena dia adalah anak Indonesia. Lagi pula tidak ada alasan saya menolaknya.

Bagaimana ceritanya sampai ketemu mereka?
Jadi saya mendapat tawaran untuk mengambilalih sebuah wilayah konsesi migas di sebelah utara Madura. Saya mencari masukan dari banyak pihak, apakah wilayah ini bagus. Saya juga menghubungi Pak Kusmayanto Kadiman (bekas Rektor ITB, bekas Menteri Riset Teknologi) apakah punya orang-orang yang ahli di bidang ini. Pak Kus kemudian merekomendasi nama.
Dari sini saya kemudian dapat SDM. Saya kan bukan orang yang mengerti soal pemboran migas. Saya minta mereka memberi nasihat. Hasilnya, semua memberi acungan jempol. Itu pun saya dag-dig-dug ketika dilakukan pemboran. Saya kan bukan mesin duit, duit saya kan juga terbatas. Satu kali ngebor butuh US$ 8 juta.
Syukur, hasilnya bagus. Saya lega.

Kalau boleh tahu, saat ini sudah ada berapa perusahaan yang Anda pegang?
Di bawah Toba Sejahtra yang bergerak di sektor batu bara, kini ada beberapa anak usaha yang bergerak di sektor minyak dan gas, perkebunan, dan kelistrikan. Sekarang ini sudah ada 14 perusahaan dan satu perusahaan konsesi yang saya pegang. Salah satunya yang go publik di tahun 2012 ini adalah PT Toba Sejahtra.
Untuk di sektor pertambangan dan batu bara, ada PT Toba Sejahtra, PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Indomining, PT Trisena Mineral Utama dan satu perusahaan konsesi PT Kutai Energi. Sedangkan di sektor migas, ada PT Energi Mineral Langgeng dan PT Fairfield Indonesia.
Di sektor kelistrikan, ada PT Pusaka Jaya Palu Power dan PT Kartanegara Energi Perkasa. Di sektor perkebunan ada dua perusahaan, yakni PT Trisena Agro Sejahtera dan PT Adimitra Lestari. Kalau di sektor Industri, PT Smartias Indo Gemilang, PT Rakabu Sejahtera dan PT Kabil Citranusa.

Semuanya sudah jalan?
Untuk coal and mining, sudah jalan, tahun 2011 lalu, total keseluruhan produksi sekitar 12,6 juta metrik ton dan sebagian besar diekspor ke China, Korea, India, Taiwan dan Jepang. Tahun 2012 ini saya targetkan produksi mencapai 15 juta metrik ton. Namun demikian, bukan berarti saya tidak setuju dengan kebijakan domestic market obligation (DMO) batubara. Justru saya sangat setuju dengan DMO.
Kalau perlu, pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) juga dikenakan kebijakan peningkatan royalti jadi tidak hanya bagi pemegang PKP2B dan KK saja yang dikenakan.
Sedangkan di sektor migas, saat ini baru tahap ekplorasi dan diperkirakan rasio keberhasilannya sekitar 40% dengan potensi cadangan mencapai 2 miliyar barel minyak, 593 miliar kaki kubik gas dan 36 juta barel kondesat. Nantinya, jika ini berhasil diproduksi maka saya akan kelola migas di Indonesia.
Sebab itu, saat ini saya juga sedang merancang membangun infrastruktur di hilirnya. Karena tanpa hilir tidak akan berjalan. Ini butuh dukungan dari pemerintah sehingga tidak hanya pengusaha yang memiliki tanggung jawab, ketimbang harus saya jual minyak keluar negeri.
Sektor kelistrikan, sudah jalan dan mulai beroperasi 2007 dibawah PT Pusaka Jaya Palu Power yang berhasil membangun pembangkit listrik tenaga uap, tentunya ini adalah pembangkit listrik tenaga uap yang pertama di Indonesia milik perusahaan swasta. Selain itu, kami juga sedang fokus membangun pembangkit listrik di mulut tambang.
Untuk PT Kartanegara Energi Persada akan mulai menggarap PLTG di Desember 2012 bersama PLN. Begitu juga dengan unit usaha disektor perkebunan dan industri lainnya.

Upaya apa yang Anda lakukan untuk menghindari terjadinya resiko yang tidak diinginkan?
Kalau seumur saya ini, tidak boleh lagi ada kata gagal. Karena itu dalam menjalankan bisnis harus hati-hati, dan di sini saya memiliki orang-orang kridibel untuk memberikan masukan. Walaupun demikian kalau bicara resiko pasti ada, namun paling tidak itu dilakukan untuk menimalisir resiko. Karena tidak ada resiko yang bisa dihindari.
Karena itu saya mencari Sumber Daya Manusia (SDM) dengan sangat selektif dan proses pengambilan keputusan yang dibuat oleh tim, maka saya pun harus hargai dan percaya sama tim tersebut. Namun tim harus memberikan penjelasan yang masuk akal.

Selain membangun usaha, Luhut juga rutin menjalankan kegiatan sosialnnya, bersama dengan istrinya, Devi Pandjaitan, membangun Yayasan Kemanusiaan yang dinamakan Yayasan DEL. Adapun menurut pengakuan Luhut, yayasan ini dibangun atas rasa syukurnya kepada Tuhan yang memberikan anugrahnya kepad Luhut.
Yayasan ini, menurut pengakuan Luhut, dibentuk jauh sebelum dirinya membangun PT Toba Sejahtra. Kegiatan sosial seperti, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan dilakukan di bawah yayasan ini tanpa membedakan golongan, suku dan agama.
Yayasan DEL kini menjadi salah satu yayasan dari PT Toba Sejahtra. Hal ini dilakukan demi memberikan manfaat yang optimal kepada masyarakat. Tak hanya, itu Luhut pun membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk bersama-sama mengelola unit usaha yang telah dimilikinya.

Selain resiko teknis, kerap kali resiko timbul dari luar, seperti demonstrasi penolakan kegiatan tambang. Bagaimana Anda menghadapinya?
Saya punya prinsip selalu mengedepankan keadilan, sehingga dalam menjalankan unit usaha pun harus mengedepankan keadilan. Jangan sampai hanya kita yang menikmati sumber dayanya sedangkan daerah penghasil tidak ikut menikmati hasilnya.
Maka itu kalau bicara soal keadilan, kita harus dapat menyejahterakan masyarakat. Dan ini salah satu upaya juga untuk mengentaskan kemiskinan di daerah. Jangan sampai, yang kaya makin kaya kemudian masyarakat dibiarkan saja.
Kesadaran inilah yang menjadi misi perusahaan, di mana kita senantiasa berkomitmen untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan sekitarnya. “Dedikasi Untuk Memberikan Manfaat” itulah tagline misi perusahaan ini.
Salah satu realisasi yang sudah saya jalankan adalah memberikan pasokan listrik gratis kepada masyarakkat di Palu. Selain memberikan program beasiswa, kesehatan dan keperdulian terhadap lingkungan. Sehingga dengan demikian kegiatan usaha yang dilakukan pun mendapatkan dukungan dari masyarakat.
Namun yang tidak kalah penting adalah dapat memberikan manfaat demi mengentaskan kemiskinan di Indonesia karena ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah tetapi juga tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia. Sebab itu, perusahaan kami memberikan peluang kerja kepada masyarakat setempat.

Sejak kapan Anda mulai melakukan progam sosial ini?
Sebenarnya, saya dan istri saya (Devi Panjaitan) telah melakukan kegiatan ini jauh sebelum PT Toba Sejahtra dibangun. Saya dan istri membuat sebuah yayasan misi sosial bernama Yayasan DEL. DEL adalah bentuk rasa syukur Luhut kepada Tuhan.
Tujuannya, tidak lain untuk mengoptimalkan sumber daya manusia Indonesia sehingga kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Selain memberikan beasiswa, DEL juga bergerak di sektor pendidikan, teknologi, kesehatan, kemanusiaan dan membangun panti asuhan.
Kegiatan ini dilakukan tanpa membedakan status maupun golongan. Karena itu juga setelah dibangunnya PT Toba Sejahtra, yayasan ini kemudian menjadi tonggak tanggung jawab sosial perusahaan.

Apakah sebelumnya pernah terbayang, kalau saat ini Anda menjadi seorang pengusaha. Mengingat karir yang selama ini Anda rintis adalah di sektor militer?
Cita-cita dahulu ya jadi tentara, dan setelah tidak aktif di militer, saya punya ide untuk bangun yayasan dan sekolah untuk masyarakat yang membutuhkan. Namun, tampaknya itu belum cukup, karena itu saya memulai untuk mencari peluang bisnis dengan tujuan agar dapat lebih optimal memberikan bantuan sosial.
Setelah mendapatkan masukan, maka saya memulai dengan berbisnis di sektor ini mengingat peluangnya sangat besar dan saya tidak pernah menyangka ini menjadi besar dengan cepat.
Mungkin karena waktunya pas dan ini adalah pemberian Tuhan, jadi bukan karena kehebatan saya.

icon
Berita Lain
24 Juli 2012 | 23.26
Tambang Kita Kebablasan
24 Juli 2012 | 23.26
Bisnis itu Sangat Dinamis
24 Juli 2012 | 23.26
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri