*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 03 November 2008 | 20.38
Aviliani, Analis Ekonomi INDEF: Sektor Pertambangan Masih ”Sexy”

Aviliani

Krisis finansial kembali mendera dunia. Berawal dari subprime mortgage di Negeri Paman Sam di menjelang akhir 2007, berdampak pada ambruknya beberapa lembaga keuangan berskala besar pada September 2008. Dampak krisis pun berlanjut mengancam negara-negara Eropa dan Asia, tak terkecuali Indonesia. Sektor-sektor ekonomi yang strategis termasuk perbankan, dihadapkan pada kondisi yang cukup sulit.

Sektor pertambangan yang sedang booming ikut terpukul oleh krisis yang merembet begitu cepat. Harga saham-saham pertambangan di lantai bursa anjlok tak terperikan. Saham pertambangan yang paling prospektif, BUMI (PT Bumi Resources Tbk) pun terpaksa menelan pil pahit. Transaksinya di BEI harus di-suspens, menyusul harganya yang mengalami koreksi dalam sebesar 32,03% hingga otoritas BEI melihatnya sebagai suatu yang tidak wajar.

Kalangan pengambil kebijakan dan pakar ekonomi, sangat mengkhawatirkan krisis ini bakal berpengaruh negatif pada perbankan nasional. Jika benar terjadi, maka kondisi berikutnya adalah mandeknya roda ekonomi, mengingat sektor riil banyak digerakkan melalui pembiayaan perbankan. Terlebih pertambangan, aktivitas di sektor ini sangat tergantung sejauh mana kredit yang dikucurkan bank.

Meski demikian, peneliti dan analis ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Aviliani, mengaku tidak terlalu khawatir. Menurutnya, jatuhnya harga saham-saham pertambangan di lantai bursa tidak menggambarkan kondisi sektor itu secara riil. “Perlu dicatat yang ambruk itu kan emitennya, selama permintaan akan komoditi tidak menurun, maka tidak akan banyak berpengaruh,” ujar Komisaris Independen BRI ini.

Berikut petikan wawancara lengkap Abraham Lagaligo dari Majalah TAMBANG dengan Aviliani, di Jakarta, Senin, 13 Oktober 2008.

Sampai hari ini perdagangan saham BUMI masih di-suspens. Apakah kondisi yang sama juga akan terjadi pada saham-saham pertambangan lainnya?

Saya rasa itu perilaku wajar ya, karena ini kan bukan karena faktor domestik atau faktor dari dalam emitennya. Apa yang terjadi pada saham BUMI lebih banyak didorong oleh faktor eksternal. Jadi saya rasa tidak perlu khawatir untuk tetap melirik saham-saham tambang, karena pada jangka menengah dan panjang masih akan memberi yielt (hasil, red) yang baik. Sehingga emiten juga perlu memberikan keyakinan kepada para investor, bahwa walaupun harga turun namun dalam jangka panjang tetap akan memberikan keuntungan yang baik. Sekarang itu orang hanya butuh keyakinan atau kepercayaan.

Apakah krisis finansial kali ini bakal berdampak sangat serius pada pertambangan Indonesia?

Dalam menilai, kita harus melihat krisis ini dari beberapa sudut pandang. Demikian pula dalam menilai dampaknya pada pertambangan. Kalau dilihat dari sudut pandang emitennya (perusahaan tambang yang sudah go public), harus diakui kenaikan harga saham yang terjadi sebelum krisis sangat tidak wajar. Masa naiknya sampai beberapa kali lipat, yang kalau kita cermati bukan berasal dari demand dan suplai. Tapi lebih disebabkan oleh ulah spekulan-spekulan yang berekspektasi terhadap harga emas dan harga bahan tambang lainnya.

Jadi secara emiten, kinerja sebenarnya cukup baik. Kalau toh keuntungan menurun, itu kan hanya problem harga, bukan karena kondisi fundamental perusahaan. Kalau dilihat dari segi permintaannya sendiri, permintaan terhadap komoditi pertambangan itu tidak akan turun. Apalagi dengan harga murah maka permintaan juga akan naik. Sehingga kalau dari segi emiten, saya tidak akan khawatir pada kinerjanya.

Kalau dari sahamnya bagaimana? Kan banyak investor yang melepas modalnya?

Memang benar, tapi saya melihat kebanyakan hanya sebagai aksi panik dan spekulasi. Tidak didasarkan pada kondisi fundamental dari emiten. Jadi menurut saya wajar-wajar saja orang panik. Diantaranya akibat subprime mortgage di Amerika Serikat, dimana orang-orang yang merugi melepas saham-sahamnya termasuk saham tambang, dan harus mengembalikan dananya ke negaranya. Jadi itu wajar.

Kemudian yang kedua, ditengah kepanikan ini maka orang cenderung untuk cut loss karena tidak ingin makin merugi. Jadi menurut saya, walaupun harga saham jatuh tapi sebenarnya sekarang ini waktunya untuk membeli. Karena harga lagi murah kan? Dan pada tambang, meski harga saham turun namun tidak mempengaruhi permintaan.

Riilnya, apakah kondisi sektor pertambangan saat ini mengkhawatirkan?

Jawaban saya, tidak…. Bahkan prediksi saya kedepan permintaan masih akan tinggi. Tinggal pertambangan kita ini ekspansinya yang belum naik. Saya mengamati ekspansi pertambangan kita ini sangat lamban. Hanya yang sudah ada saja dieksploitasi, tapi eksplorasi yang baru belum ada.

Lalu bagaimana dengan beberapa BUMN pertambangan yang sedang mengkaji untuk membeli saham BUMI?

Oh, saya kira itu langkah yang bagus. Karena kalau dia semakin menguasai saham suatu perusahaan yang sama jenis usahanya, berarti dia akan makin menguasai market share. Jadi saya rasa buy back itu bagus asal jangan mengganggu cash flow perusahaan. Jangan sampai memaksakan diri, tapi begitu nanti cash flow-nya terganggu kemudian pinjam ke bank. Nggak benar juga kalau begitu.

Saat ini banyak pihak khawatir akan kondisi perbankan yang membiayai pertambangan. Bagaimana menurut Anda?

Jadi begini, problemnya bank kita (dalam negeri, red) itu belum banyak pengalaman memberikan kredit ke sektor pertambangan. Jadi menurut saya memang diperlukan semacam sosialisasi sektor pertambangan kepada perbankan, mengenai risiko-risiko pembiayaan di sektor pertambangan. Perbankan sendiri menurut saya harus belajar tentang risiko-risiko di sektor tambang, karena ekspansi di sektor pertambangan itu masih cukup tinggi kebutuhannya.

Menurut saya, sektor pertambangan dan pertanian kedepan akan menjadi resources (sumber daya) terbesar. Mengingat potensinya besar, namun selama ini belum banyak orang yang berani bermain di sana. Makanya jangan heran kalau yang masuk khususnya ke pertambangan investor asing melulu. Kedepan harusnya investor domestik juga mampu menguasai dengan pembiayaan dari bank.

(Selengkapnya baca Majalah TAMBANG, Edisi Cetak Volume 3 No. 29/Oktober 2008. Bisa didapatkan di toko buku Gramedia, Gunung Agung, dan Carrefour)

icon
Berita Lain
03 November 2008 | 20.38
Tambang Kita Kebablasan
03 November 2008 | 20.38
Wanita Harus Lebih Pandai dari Pria
03 November 2008 | 20.38
Bisnis itu Sangat Dinamis
03 November 2008 | 20.38
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri