*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 16 Juni 2008 | 13.42
“Menggoreng” Batubara Dengan UBC

Ujicoba Japan Energy Coal dan Tekmira sukses. Demo plant Upgrading Brown Coal (UBC), mulai dikerjakan di tambang Arutmin, site Satui, Kalimantan Selatan. Memiliki nilai ekonomi tinggi.

Ujicoba Japan Energy Coal dan Tekmira sukses. Demo plant Upgrading Brown Coal (UBC), mulai dikerjakan di tambang Arutmin, site Satui, Kalimantan Selatan. Memiliki nilai ekonomi tinggi.

Hujan baru saja mengguyur Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Beberapa pekerja yang sedang menyelesaikan pabrik Upgrading Brown Coal (UBC), terhenti sejenak, menepi, melindungi diri dari guyuran hujan yang cukup deras. Beberapa pekerja dari negeri Sakura, Jepang, juga terlihat di sekitar lokasi pabrik. Majalah TAMBANG yang mendapat Undangan dari PT. Arutmin Indonesia, untuk mengunjungi Site Satui, hanya mampu menatap dari kejauhan. Hujan hari itu, benar-benar tidak bersahabat.

Pembangunan pabrik UBC, di PT. Arutmin Indonesia, site Satui, merupakan kelanjutan dari pilot plant pengembangan tehnologi peningkatan kalori batubara, yang sebelumnya pernah diujicobakan di Palimanan, Jawa Barat.Proyek UBC, merupakan kerjasama pemerintah Jepang melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan (METI) dan pemerintah Indonesia melalui Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (DESDM).

METI kemudian menunjuk badan penelitiannya Japan Energy Coal (Jcoal) dan DESDM menunjuk Pusat penelitian dan pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira). Hasil ujicoba tersebut terbilang sukses. Baik Jcoal maupun Tekmira cukup puas. Dalam ujicoba tersebut, mampu memproduksi 1000 ton/ hari batubara yang sudah ditingkatkan kalorinya.

Karena dipandang berhasil, pilot project tersebut ditingkatkan menjadi demonstration plant. PT. Arutmin Indonesia pun ditunjuk untuk melanjutkan proyek ujicoba tersebut, karena cadangan batubara kalori rendahnya cukup banyak. Maka sejak 2007 lalu, pembangunan pabrik di site Satui mulai dikerjakan. Kini sedang menyelesaikan tahap konstruksi dan Julai 2008, tahap produksi mulai dilakukan.

Proyek yang menalan biaya sekitar 80 juta dolar Amerika tersebut, sepenuhnya dibiayai pemerintah Jepang hingga 2010. Untuk pengerjaan dan pengoperasiannya, Jcoal menunjuk perusahaan Jepang, Kobe Steel sebagai pelaksananya. Jcoal dan Kobe Steel kemudian membentuk badan hukum di Indonesia dengan nama PT. Upgrade Brown Coal Indonesia (UBCI). Selanjutnya, UBCI dan PT. Arutmin Indonesia, berkolaborasi mengoperasikan Brown Coal di tambang Arutmin site Satui. Sedangkan untuk Kontraktor utama membuat infrastruktur yakni PT. Truba Jaya Engienering.

Sudirman Widhy, Kepala Teknik Tambang Arutmin site Satui mengungkapkan, prinsip utama kerja UBC ini adalah ”menggoreng” batubara dengan mengeluarkan kandungan airnya (moisure). Setelah kandungan air dikeluarkan, maka secara otomatis sisa kalorinya akan meningkat.

Untuk tahap awal, lanjut Widhy, sapaan akrabnya, masih dalam uji coba dan sampai tiga tahun ke depan, masih bersifat semi-comersil. Rencananya, dalam tahap semi-comersil ini akan diproduksi sebanyak 18 ribu ton per bulan. Jika cukup berhasil, nanti akan masuk ke tahap komersil dan jumlah produksi akan ditingkatkan menjadi 100 ribu ton per bulan.

Teknologi UBC ini, lanjut Widhy lagi, merupakan yang pertama di dunia. Ia mengtakan cukup senang, karena PT. Arutmin Indonesia, mendapatkan kepercayaan dari pemerintah, untuk menjalankan proyek tersebut.

Kepercayaan tersebut, gayung bersambut dengan keberadaan cadangan batubara kalori rendah milik Arutmin di Site satui, yang menjadi salah satu andalan PT. Arutmin Indonesia di masa mendatang. dengan tingkat cadangan lebih dari 300 juta ton. Untuk mensuplay kebutuhan UBC ini, PT. Arutmin Indonesia site Satui, memiliki cadangan batubara kalori rendah yang diberi label Eco Coal.

Sementara itu, Cipto Prayitno, UBC Project and Eco Coal PT. Arutmin Indonesia site Satui, mengungkapkan, posisi Arutmin dalam proyek UBC ini adalah sebagai pemasok lowrank coal dan juga SDM. Pengoperaannya ditangani oleh UBCI.

Lebih lanjut Cipto mengungkapkan, sejauh ini untuk pengerjaan mechanicalnya belum selesai, tetapi untuk utility semuanya sudah siap. Bahkan ia mengungkapakn saat ini, tahapan pengerjaan sudah mencapai 90 persen. Akrena beberapa alat utama, seperti, boiler, water treatmen plant, demien plant, sudah siap dan sudah terpasang.

Secara teknis, jelas Cipto lagi, proses kerja UBC ada lima tahapan. Tahapan awal, raw coal denga ukuran 50 CM atau di bawa 50 mili, di crushing menjadi di bawah 5 mili sehingga hampir menyerupai bubur. Tahapan ini dilakukan di section 100.

(Untuk lebih lengkapnya tentang Teknik ”Menggoreng Batubara” baca di Majalah TAMBANG Edisi Cetak, Juni 2008. Marketing Contact: Hilal Fakhrudin 08128963638).

icon
Berita Lain
16 Juni 2008 | 13.42
Bulan Duka Tambang Dalam
16 Juni 2008 | 13.42
Melirik Gambut Untuk Listrik
16 Juni 2008 | 13.42
PAMA Melirik Ban