*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 19 Juni 2011 | 22.17
Bauksit Menuju Nilai Tambah

Alamsyah Pua Saba
alam@tambang.co.id

Bauksit Indonesia masih diekspor dalam bentuk barang mentah (raw material) ke beberapa negara. Indonesia masih mengimpor Alumina- produk lanjutan dari bauksit untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sampai kapan?

Dalam pemaparan akhir tahun 2010 lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Darwin Zahedy saleh mengungkapkan pencapaian dalam produksi komoditi pertambangan dan energi di Indonesia. Beberapa komoditi melebihi target produksi yang ditetapkan. Yang lain tidak tercapai karena alasan cuaca dan sebagainya. Untuk komoditi bauksit, realisasinya mencapai 95 persen atau sebesar 7.148.124 juta metrik ton dari target awal sebesar 7.500.000 juta metrik ton.
Untuk tahun 2011, pemerintah menargetkan produksi bauksit Indonesia sebesar 8.250.000 juta ton. Memang kalau diperhatikan sejak tahun 2005, produksi bauksit Indonesia mengalami fluktuasi dalam kuantitas produksi.
Puncaknya adalah pada tahun 2007, dimana produksi bauksit Indonesia mencapai 15.406.045 juta metrik ton. Tetapi tahun 2008, justru mengalami penurunan menjadi 9.885.547 juta metrik ton dan terus menurun sampai tahun 2010 lalu. Tahun depan, rencanannya, produksi kembali akan ditingkatkan.
Di Indonesia, bauksit sudah mulai dikenal sejak zaman kolonial, tepatnya Pada tahun 1924 di Kijang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau dan mulai ditambang dan diekspor 11 tahun kemudian pada 1935. Tahun 1968, pengelolaan tambang diserahkan kepada PT. Aneka Tambang (Antam). Bauksit dari Bintan ini kemudian diekspor ke produsen alumina di Jepang dan China.
Selain di Bintan, Deposit Bauksit terdapat di wilayah lain di Indonesia, yakni Kalimantan Barat dan juga Kepulauan Bangka Belitung. Setidaknya, dari data yang disampaikan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, ada 14 lokasi di tiga provinsi tersebut, yang memiliki deposit bauksit.
Data dari Kementerian ESDM menyebutkan, sumber daya bauksit di Indonesia sebanyak 726.585.010 juta ton bijih dan cadangan 111.791.676 juta ton bijih. Sementara untuk sumberdaya logam sebanyak 283.648.373 juta ton dan cadangan logamnya sebanyak 38.753.471 juta ton.
Sementar itu, Antam selaku produsen bauksit terbesar dan tertua di Indonesia dalam laporannya menyebutkan, cadangan dan sumberdaya yang dimilikinya di tahun 2008 sebesar 201.200.000 juta metrik ton kemudian terjadi peningkatan cadangan dan sumberdaya di tahun 2009 sebesar 73 persen atau 304.200.000 juta metrik ton.
Sementara cadangan terbukti dan terkira sebanyak 70.900.000 juta metrik ton di tahun 2008 kemudian mengalami kenaikan sebanyak 47 persen di tahun 2009, menjadi 104.500.000 juta metrik ton.
Kenaikan jumlah cadangan sumberdaya dan cadangan terbukti dan terkira milik antam tersebut, karena adanya kegaitan eksplorasi yang terus dilakukan di beberapa wilayah di Kalimantan Barat. Antam mengeluarkan biaya hampir Rp 1 miliar untuk biaya eksplorasi bauksit tersebut.
Eksplorasi yang dilakukan perusahaan tambang pelat merah tersebut, karena tambang bauksit di Kijang, sejak 2009 lalu sudah tidak berproduksi lagi.
Hingga sekarang, Indonesia masih menjadi pengekspor utama bauksit ke beberapa negara di kawasan Asia. Negeri Tirai Bambu juga memiliki cadangan bauksit terbesar, tetapi negeri ini, memilih untuk mengimpor bauksit dari tempat lain, termasuk Indonesia, dan terus melakukan pengamanan terhadap cadangan deposit dalam negeri.
China, merupakan salah satu negara yang banyak mengincar hasil tambang Indonesia, termasuk bauksit. Bauksit sebagai bahan dasar aluminium ini, dibeli dari Indonesia dalam bentuk mentah (raw material) lalu dilaku-kan pengolahan menjadi alumina, kemudian menjadi aluminium.
Lucunya, untuk pengolahan aluminium di dalam negeri, alumina sebagai bahan bakunya harus diimpor dari beberapa negara seperti Asutralia dan sebagainya. Head of Research BNI Securitas, Norico Gaman mengatakan, ekspor hasil tambang dalam bentuk mentah, harus mulai diminimalisir, agar ada nilai tambah yang bisa didapatkan dari hasil tambang dalam negeri.
”Namun kita harus waspada, jangan sampai cadang-an kita dikuras orang lain, dan diekspor mentah. Sementara kita tidak mendapatkan nilai tambah apa-apa,” ungkap No-rico kepada Majalah TAMBANG.
Seperti diakui Norico, pembeli dari luar lebih senang membeli bauksit kita dalam bentuk mentah. Karena di negerinya, mereka sudah memiliki smelter pengolahan yang membutuhkan bahan baku. Tapi kalau irama permainan itu diikuti, maka orang lain yang untung dari nilai tambah hasil pertambangan, sedangkan kita mendapatkan hasil yang tak seberapa.
Dari bauksit dunia, seperti dilangsir Mineral Informa-tion Institute, bahwa pada 2008, produksi bauksit dunia sebesar 202.000 ton, dengan cadangan dunia sebesar 38 miliar ton. Sementara untuk negara produsen, didominasi Australia sebesar 62.400 ribu ton atau sepertiga dari produksi bauksit dunia, kemudian disusul China sebesar 30 ribu ton.
Sementara cadangan bauksit terbesar dimiliki Ghana dengan total dasar cadangan 8.6 miliar ton. Mineral Information Institute juga melansir pernyataan Nguyen Tan Dung, Perdana Menteri Vietnam pada November 2010, yang mengumumkan bahwa negara yang pernah berperang melawan Amerika ini, memiliki cadangan bauksit 11 miliar ton. Jika data ini betul, maka cadangan ini menjadi yang terbesar.

Nilai Tambah Bauksit
Beruntunglah, Undang-undang pertambangan nomor 4 tahun 2009 sudah menegaskan agar produk pertambangan dalam negeri jangan lagi diekspor dalam bentuk mentah, tetapi harus dilakukan pengolahan menjadi barang jadi atau setengah jadi, sehingga ada nilai tambah yang bsia didapatkan. Sekaligus juga, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, misalkan untuk pabrik aluminium untuk kasus bauksit.
Amanat Undang-undang pertambangan tersebut, ditangkap dengan baik oleh PT. Aneka Tambang selaku produsen bauksit dalam negeri. Perusahaan pelat merah ini-pun sudah menandatangani pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) dan Chemical Grade Alumina (CGA).
Bahkan pada 11 April 2011 lalu, seremoni pemancangan tiang pertama pembangunan pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Batat sudah dilakukan. Proyek kerjasama Antam dan Showa Denko K.K (Jepang) tersebut menelan biaya sekitar US$ 450 juta.
Pabrik yang diharapkan mampu memberi nilai tambah bagi komoditi bauksit tersebut dikembangkan oleh PT. Indonesia Chemical Alumina, patungan Antam dan Showa Denko, dengan kepemilikan Antam 80 persen, 20 persen sisanya oleh Showa Denko.
Proyek CGA Tayan rencananya akan berjalan selama 32 bulan atau akhir tahun 2013 dan mulai beroperasi komersial pada awal 2014. Dalam situs Antam disebutkan, CGA Tayan akan memproduksi 300.000 ton CGA per tahun dan akan diekspor ke Jepang dan beberapa negara lain serta dijual untuk kebutuhan pasar domestik Indonesia.
Menteri Perindustrian MS. Hidayat yang hadir dalam pemcangan tiang pertama proyek CGA Tayan mengatakan, pada 2014 atau tiga tahun mendatang, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor alumina untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mantan Ketua Umum Kadin ini berharap, Indonesia akan menjadi penghasil alumina terbesar kedua di dunia dengan adanya proyek CGA Tayan ini. apalagi, pada 2013, akan ada pengambilalihan PT. Inalum di Sumatera Utara.
Selain sebagai upaya menjalankan amanat Undang-Undang Pertambangan nomor 4 tahun 2009, untuk meningkatkan nilai tambah hasil tambang Indonesia, proyek CGA Tayan ini juga merupakan bagian dari Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2015 Koridor Kalimantan dan dapat memberi multiplier effect bagi masyarakat Kalimantan Barat.
Selain proyek CGA di Tayan, Antam telah menandatangani perjanjian usaha patungan dengan Hangzhou Jinjiang Group (HJG) dari China untuk membangun proyek Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.
Dalam keterangan resmi Antam disebutkan, pabrik SGA memiliki kapsitas 1.000.000 metrik ton alumina per tahun, dengan mengolah 4.000.000 metrik ton bijih bauksit. Rencananya, pada 2014 juga, operasi komersil perdana akan dilakukan.
Pabrik SGA dengan nilai proyek US$ 1 miliar ini, nantinya akan menghasilkan bahan baku aluminium yang dapat dipakai memenuhi kebutuhan domestik, misalkan untuk pabrik pengolahan aluminium PT. Inalum.

Majalah TAMBANG Edisi Cetak Bulan Juni 2011

icon
Berita Lain
19 Juni 2011 | 22.17
Ada Tetangga Main di Bangka
19 Juni 2011 | 22.17
Menyelamatkan Mineral Pinggiran
19 Juni 2011 | 22.17
Siap Menyambut Nilai Tambah
19 Juni 2011 | 22.17
Tembaga Perlahan Menanjak
19 Juni 2011 | 22.17
Utang Amerika Menggerek Emas