*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 25 Juni 2009 | 19.27
Tragedi Sawah Lunto, Salah Siapa?

Tim Sar melakukan evakuasi korban
ledakan di tambang batubara bawah
tanah milik PT Dasrat Sarana Arang
Sejati di sawah lunto Sumatera Barat.

Abraham Lagaligo & Esti Widyasari
abraham@tambang.co.id, esti.widyasari@gmail.com

Tambang bawah tanah itu dikerjakan secara manual. Ledakan terjadi akibat semburan gas metan. Pengelola diduga mengabaikan peringatan inspektur tambang.

Kota yang permai itu mendadak penuh tangis, ketika ledakan dasyat menghanguskan puluhan pekerja tambang yang berjibaku di kedalaman 100 meter lebih, Selasa pagi, 16 Juni 2009. Kecelakaan tragis itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 10.00 WIB, pada wilayah Kuasa Pertambangan (KP) Eksploitasi batubara PT Dasrat Sarana Arang Sejati, di Bukit Bual/Ngalau Cigak, Kecamatan Talawi, Kota Sawah Lunto, Sumatera Barat (Sumbar).

Hingga Rabu, 17 Juni 2009, dilaporkan korban tewas yang sudah dievakuasi sebanyak 32 orang (31 orang dievakuasi dari lubang tambang, satu tewas setelah berada di luar tambang). Diperkirakan masih satu korban lagi yang terjebak dalam lubang dan belum diketahui nasibnya. Sementara korban luka parah dan ringan mencapai 13 orang. Keseluruhan korban mengalami luka bakar serius, sekujur jasadnya hangus terbakar.

Pada hari yang sama, Walikota Sawah Lunto pun memutuskan menutup 10 tambang batubara underground (bawah tanah) dengan status eksploitasi, yang beroperasi di wilayahnya. Di Kota Sawahlunto sendiri saat ini beroperasi 13 tambang batubara dengan status eksploitasi, 10 diantaranya adalah tambang underground. Tiap-tiap tambang mempekerjakan 40 – 50 orang dengan teknik manual dan tingkat produksi batubara hanya 1.500 – 2.000 ton per bulan.

Bukan yang Pertama

Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Pabum, Mangantar S Marpaung membenarkan, kecelakaan kerja di sejumlah tambang manual di Sawah Lunto bukanlah yang pertama. Sebelumnya kecelakaan serupa juga kerap terjadi. Marpaung mengatakan kejadian itu dimungkinkan karena kondisi tambang bawah tanah yang dikelola secara manual, memang sangat berbahaya.

“Ini tambang bawah tanah, tapi masih dikelola secara manual. Alat yang digunakan masih sederhana, dan penerangannya juga masih menggunakan lampu biasa. Percikan api kecil pun bisa memicu ledakan, ketika kadar gas metan ada di kisaran 7-12%,” jelasnya kepada Majalah TAMBANG, Selasa, 16 Juni 2009. Ia pun menekankan pentingnya mendidik dan melatih penambang di sana untuk mengantisipasi kondisi fatal.

Manager Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edward mengatakan, selama ini peristiwa tewasnya pekerja tambang sudah kerap terjadi. Namun memang kecelakaan yang terjadi pasa Selasa pagi, 16 Juni lalu adalah yang terbesar. Dia menuturkan, sejak maraknya tambang liar di Sawahlunto sekitar 1997, hampir setiap minggu ada saja korban tewas. Kecelakaan kerja yang terjadi akibat buruknya kondisi tambang minimnya pengetahuan penambang, dan alat-alat kerja yang tidak memenuhi standar.

Peristiwa tewasnya pekerja tambang selama ini juga tidak pernah dilaporkan ke pihak berwajib. Begitu ada korban tewas, pengelola tambang berusaha menyembunyikan dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Tujuannya menghindari tindakan dari pihak berwenang agar aktivitas penambangan tetap berlangsung. Meski demikian, Marpaung menandaskan kecelakaan di lokasi izin PT Dasrat itu bukan akibat tambang liar atau tambang rakyat. Tetapi tambang kelas KP yang dikerjakan secara manual dengan alat sederhana seperti sekop dan belincong.

Abaikan Inspeksi

Izin KP Eksploitasi PT Dasrat Sarana Arang Sejati diterbitkan oleh Walikota Sawah Lunto berdasarkan SK No. 05.39/PERINDAKOP/2006, berlaku mulai 2 Juni 2006 sampai dengan 2 Juni 2011. Pelaksana penambangan adalah kontraktor CV Cipta Perdana. Penambangan dilakukan secara manual menggunakan alat gali belincong, dengan membuat lubang-lubang masuk di dalam lapisan batubara tanpa ada ventilasi memadai, hanya mengandalkan ventilasi alami. Ketebalan lapisan batubara yang digali mencapai sekitar 2,5 meter.

Setditjen Minerba Pabum, S Witoro Soelarno menjelaskan, kecelakaan yang terjadi diduga akibat ledakan gas metana (CH4). Efek ledakan mengakibatkan lemparan material hingga sejauh 150 meter dari mulut tambang. Sehingga 14 pekerja tambang yang berada pada jarak sekitar 50 meter dari mulut tambang juga ikut terlempar. ”Konsentrasi gas metana pada tambang batubara bawah tanah yang mencapai kisaran 5 – 15%, memang dapat menimbulkan ledakan,” tandasnya mengutip ”Handbook for Methane Control in Mining” (Dept of Health and Human Services, Pittsburgh - USA, 2006).

Witoro menambahkan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menerjunkan Tim Penanggulangan, yang berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Sawahlunto, Kepala Teknik Tambang PT Bukit Asam, Unit Pertambangan (UP) Ombilin, dan Kepala Teknik Tambang PT Allied Indo Coal.

Departemen ESDM akan melakukan audit teknis, khususnya menyangkut keselamatan kerja pada seluruh tambang bawah tanah. Terutama yang beroperasi di Kota Sawah Lunto. Hasil audit teknis nantinya akan menjadi rekomendasi untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Sawah Lunto.

Witoro juga mengulas, Dinas Pertambangan dan Energi Sawah Lunto sebenarnya telah melakukan inspeksi rutin terhadap tambang-tambang underground yang beroperasi. Termasuk tambang PT Dasrat yang belum lama diinspeksi. Inspektur tambang yang melakukan pemantauan telah mengingatkan pengelola tambang maut itu perihal konsentrasi gas metana yang mencapai 7%. Pihak pengelola pun diminta membuat ventilasi tambahan.

”Biasanya saat diingatkan langsung diikuti, ventilasi tambahan dipasang. Tapi begitu inspekturnya pergi langsung dilepas, peringatan itu diabaikan,” jelasnya lagi. Dia menambahkan, mengerjakan tambang underground secara manual sebenarnya tidak menjadi soal, asalkan ventilasinya diperhatikan. Mengingat lapisan-lapisan batubara mengandung gas metana, berbeda dengan tambang underground untuk mineral.

Alat-alat manual seperti belincong, sekop, dan belt conveyor manual, memang masih sering digunakan khususnya pada tambang underground di Wahalunto. Ini karena tidak ada alat lain lagi yang lebih modern, yang bisa digunakan di tambang-tambang itu. Mengingat tambang batubara di Sawahlunto yang telah ada sejak zaman Belanda (sekitar tahun 1800) itu, memiliki struktur tanah yang berbeda dengan lokasi-lokasi tambang batubara underground lainnya.

Witoro menandaskan, penerapan alat-alat dan teknologi modern pada tambang-tambang underground di Sawahlunto, perlu didahului dengan kajian yang mendalam. Pasalnya struktur tanah di wilayah itu cukup complicated, diantaranya sangat rapuh. ”Teknologi modern seperti PRS (Portable Refuge Stations) mungkin bisa digunakan pada tambang batubara underground di negara lain. Tapi belum tentu cocok buat tambang di Sawah Lunto,” tandasnya.

Ia pun setuju jika suatu saat didirikan pusat kajian tambang batubara underground di Sawah Lunto. Mengingat di daerah seluas 5,86 kilometer persergi itu, banyak obyek yang bisa diteliti untuk pengembangan tambang batubara bawah tanah.

icon
Berita Lain
25 Juni 2009 | 19.27
Hasil Manis Verifikasi
25 Juni 2009 | 19.27
Tambang Jauh Dari Collaps
25 Juni 2009 | 19.27
Tergelincir Minyak Zatapi