*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 23 Juni 2009 | 14.59
PT. Timah ,Tbk: Harga Timah Turun, Laba Bersih Kuartal I-2009 Anjlok

Egenius Soda
egen@tambang.co.id

Jakarta-TAMBANG. PT.Timah,Tbk, (TINS) salah satu perusahaan tambang timah terbesar dunia menghadapi tantangan akibat anjloknya harga timah dunia. Meski volume penjualan logam timah perseroan selama periode triwulan I-2009 mampu tumbuh 8% yoy dan mencapai 11.014 ton dari periode yang sama tahun 2008 sebesar 10.176 ton. Tetapi total pendapatan TINS melemah 12,4% yoy menjadi Rp. 1,587 triliun dari Rp.1,812 triliun. Oleh karenanya saham TINS direkomendasikan untuk HOLD. Berikut Company profil PT. Timah,Tbk dari Mega Capital Indonesia.

Selain timah yang menjadi kontributor utama bagi pendapatan perseroan. Perusahaan yang melantai di bursa Efek Indonesia dengan kode TINS juga melakukan kegiatan pertambangan batubara, aspal serta eksplorasi nikel. Seiring dengan melemahnya permintaan akibat krisis global, harga rata‐rata timah dunia triwulan I-2009 turun 35% yoy menjadi US$ 11.221 per ton.

Padahal diperiode yang sama tahun 2008 harga timah mencapai US$.17.133 per ton. Penjualan logam timah menjadi kontributor terbesar bagi total pendapatan TINS hingga mencapai 90,9% pada triwulan I 2009 ini, disusul penjualan batubara 8,7% serta jasa konstruksi dan lainnya sebesar 0,4%.

Meningkatnya beban pokok penjualan sebesar 54,6% yoy, membuat laba kotor merosot 85,54% yoy menjadi Rp.125,2 miliar dari Rp.866,1 miliar. Beban operasi meningkat tipis 7,13% yoy, sedangkan laba operasi turun 97,57% yoy menjadi Rp.18,67 miliar.

Laba sebelum pajak melemah 94,98% yoy dan laba bersih turun 97,04% yoy menjadi Rp.14,44 miliar dari periode yang sama tahun 2008 Rp. 487,29 miliar.

Sementara itu jumlah aset pada triwulan I-2009 tumbuh 10,5% menjadi Rp.5,723 triliun yang antara lain dikontribusikan oleh piutang usaha, kenaikan
persediaan timah serta peningkatan nilai aktiva tetap.

Jumlah kas dan setara kas menurun 45,51% yoy menjadi Irp. 735,45 miliar dari Rp.1,349 triliun. Jumlah kewajiban meningkat 40,53% yoy menjadi Rp.1,879 triliun yang terutama disumbangkan oleh kenaikan pinjaman jangka pendek menjadi Rp.526,2 miliar dari sebelumnya Rp. 26,4 miliar.

TINS memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank Mandiri dengan perincian kredit modal kerja maksimum Rp. 500 miliar dan US$ 45 juta serta pinjaman non tunai Rp 27,4 miliar. Pinjaman tersebut akan jatuh tempo pada 28 Juni 2009. Selain itu TINS juga memperoleh fasilitas pinjaman dari Bank BNI sebesar US$. 7 juta yang digunakan untuk mendanai kerjasama penyelesaian pembangunan chemical tanker di PT. PAL, yang dijamin dengan deposito.

Rencana Bisnis
Mengingat kondisi perekonomian global yang belum stabil, PT. Timah,Tbk akan fokus melanjutkan proyek‐proyek yang sudah ada dan menunda sebagian proyek lain. Proyek yang dilanjutkan diantaranya pabrik tin chemical, pembangunan tiga kapal isap dan dua kapal keruk serta perluasan dok dan perkapalan. Sedangkan proyek yang ditunda diantaranya pembangunan pabrik ekstraksi aspal murni dan rencana akuisisi tambang batubara.

Belanja modal yang dianggarkan untuk tahun ini sebesar Rp. 350 miliar, dimana sebesar Rp.250 miliar akan dialokasikan untuk membangun pabrik tin chemical di Cilegon dan Bangka Barat. Sedangkan untuk membangun tiga kapal isap dan perluasan dok masing‐masing disiapkan dana sebesar Rp. 80 miliar dan Rp.20 miliar.

Sementara itu untuk pembangunan dua kapak keruk besar diperkirakan baru akan selesai tahun depan dengan kebutuhan dana sebesar Rp.440 miliar yang baru akan dikeluarkan pada tahun 2010.

Rekomendasikan HOLD untuk TINS

TINS memperkirakan permintaan timah dunia pada tahun ini akan turun 20% menjadi sekitar 300 ribu ton. TINS menargetkan penjualan tahun ini sebesar 45.000‐47.000 ton. Jika harga timah membaik pada kisaran USD18.000‐20.000 perton, TINS akan meningkatkan penjualan di pasar spot hingga 50.000 ton.

Meskipun harga timah dunia saat ini masih lebih rendah 40% dari harga tertingginya di level US$.25.000 per ton, namun harga timah sudah relative membaik di kisaran US$.13.000‐15.000 per ton dibandingkan pada awal tahun ini yang berada pada kisaran US$.10.000‐11.000 per ton. Hal tersebut akibat optimisme akan membaiknya ekonomi dan pelemahan dollar AS.

Meskipun demikian, permintaan timah belum mengalami kenaikan yang berarti, hal ini tampak pada stok timah di LME yang masih tinggi. Berdasarkan asumsi harga timah pada kisaran US$.14.000per ton, kami merekomendasikan HOLD untuk saham TINS dengan target harga Rp.1880 per saham yang merefleksikan PER 09 E dan PBV 09E masing‐masing sebesar 17,93X dan 2,39X.

icon