*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 16 Mei 2008 | 17.28
Birunya Saham Emiten Berbasis Energi

Saham-saham berbasis energi meraup untung di kuartal pertama 2008. Berbanding terbalik terjadi di emiten pertambangan berbasis logam seperti ANTAM dan INCO, pendapatan dan laba bersihnya menurun. Kinerja ini pun terefleksi dalam pergerakan saham saham tambang di lantai bursa. Tetapi semua ini menjadi indikasi positif ke depan.

Egenius Soda
egen@mtambang.com


Saham-saham berbasis energi meraup untung di kuartal pertama 2008. Berbanding terbalik terjadi di emiten pertambangan berbasis logam seperti ANTAM dan INCO, pendapatan dan laba bersihnya menurun. Kinerja ini pun terefleksi dalam pergerakan saham saham tambang di lantai bursa. Tetapi semua ini menjadi indikasi positif ke depan.

Beberapa waktu lalu, laporan kinerja keuangan kuartal pertama dari beberapa perusahaan telah dipublikasikan. Termasuk beberapa perusahaan pertambangan yang listing di Bursa efek Indonesia. Ada hal menarik yang patut dicermati. Secara umum dapat dikatakan kenaikan harga minyak dunia dan perlambatan ekonomi global turut mempengaruhi kinerja emiten pertambangan di tiga bulan pertama tahun ini.

Bila kita hendak melihat kinerja saham saham pertambangan di kuartal pertama maka perlu memilah emiten emiten atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah emiten pertambangan sektor energi. Termasuk dalam kelompok ini adalah emiten emiten yang berbasis Minyak dan Gas serta Batubara. Kemudian kelompok kedua adalah emitem pertambangan berbasis logam.

Secara umum emiten di sektor energi baik MIGAS maupun batubara menunjukan indikasi pertumbuhan yang relatif cukup baik. Menurut Norico Goman, Head Reserch BNI Securities secara rata rata pertumbuhan laba bersih di atas 30 persen di kuartal pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu. Menurutnya pertumbuhan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak yang selama kuartal pertama mencapai rata rata 105 US$/barel. Kenaikan minyak mentah dunia ini mendongkrak harga gas dan batubara. Harga gas di kuartal pertama tahun ini melambung hingga menembus angka 10 US$/mmbt. Sedangkan harga batubara mengalami penguatan hingga mencapai 93 US$/ton dikuartal pertama ini.

Kondisi ini tentu saja membuat kinerja perusahan perusahan berbasis Gas dan batubara meraup keuntungan. Menurut Norico saat ini kebutuhan batubara terus meningkat secara signifikant. Demand terbesar masih datang dari China dan India. Di dua negara yang digadang gadang sebagai macan asia ini kebutuhan energi untuk listrik meningkat tajam sementara produksi dalam negeri sangat terbatas. Dengan demikian untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka mengimpor dai negara lain. Salah satu negara yang dibidik adalah Indonesia karena Indonesia memiliki cadangan yang besar dan angka produksi yang meningkat.

Situasi ini menjadi berkah tersendiri bagi perusahaan pertambangan khusus pertambangan batubara. Secara spesifik kemudian disebutkan dapat disebutkan beberapa perusahaan berbasis batubara yang diuntungkan seperti PT Bumi Resources, Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam, PT. Indo Tambang Mega. Selain itu juga ada perusahaan perusahan yang belum go public seperti Adaro, KIDECO dan Berau Coal.

Sementara di sektor Minyak dan Gas, yang saat ini perusahaan yang sudah go public di wakili oleh MEDCO Energy dan PT. Energi Mega Persada. Kedua perusahaan ini juga membukukan profit yang lebih baik. Income kedua perusahaan ini distimulasi oleh kenaikan harga minyak dunia. Kedua perusahaan ini juga memproduksi gas. Dengan demikian kenaikan harga gas dunia memberi kontribusi yang cukup significant pada pendapatan mereka. Secara rata rata kenaikan pendapatan kedua perusahaan ini meningkat 25 persen dari sisi penjualan di kuartal pertama. Sementara laba bersih juga meningkat rata rata lebih dari 20 persen. Ini tentu saja menunjukan tren positif.

Emitem Logam turun

Tren positif yang terjadi di sektor pertambangan berbasis energi berbanding terbalik dengan yang ada di sektor logam. Secara khusus kita bila kita melihat kinerja keuangan dari kedua perusahaan logam yang sudah go public, PT Aneka Tambang dan PT. International Nickel Indonesia,Tbk (PT INCO). Dua perusahaan ini menunjukan tren penurunan laba bersih di atas 25 persen. Sementara volume penjualan pun turun.

Penurunan dua emiten ini menurut Ikhsan Binarto dari Optima Securities lebih dikarenakan oleh turunya harga nikel dunia. Saat ini harga nikel dunia turun lebih dari 30 persen dibanding tahun lalu.

Menurut Norico, penurunan ini dikarenakan permintaan saat ini cenderung mencapai titik keseimbangan. Jadi kalau kita lihat harga nikel yang sudah mencapai 29.000 US$/ton pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu yang berada pada kisaran 38.000 US$/ton. Harga saat ini boleh dikatakan cukup rendah tandas Norico.
Kondisi market yang demikian tentu sangat berpengaruh pada pertumbuhan laba bersih dan margin keuntungan dari dua emiten tersebut. Laba bersih tahunan pertambangan dari Sorowako ini di kuartal pertama turun 63%. Oleh kalangan pengamat securities kenaikan harga minyak sangat berpengaruh pada salah satu perusahaan nickel dunia ini karena 40 persen total biaya produksi merupakan biaya energi.
Demikian juga dengan PT. Aneka Tambang. BUMN yang satu mengalami penurunan laba bersih dan volume penjualan khusus untuk komoditi feronikel. Memang penurunannya tidak sebesar yang dialami INCO. Laba bersih turun 37 persen dalam kuartal pertama tahun 2008. Namun perusahaan plat merah ini tertolong oleh laba penjualan komoditi emas sebesar 10 persen.
PT TIMAH Yang Memikat

Hasil positif justru dituai oleh PT. TIMAH. Peningkatan kinerja keuangan perusahaan ini lebih didorong oleh harga timah yang mengalami penguatan. Harga Timah saat ini sudah mencapai 24.000 US$/ton. Kalau dibanding tahun lalu kenaikannya mencapai lebih dari 50 persen. Ini tentu saja berdampak positif pada Indonesia khususnya PT Timah karena PT Timah merupakan salah satu eksportir timah terbesar dunia.

Memang produsen terbesar dunia sebenarnya adalah China tetapi karena konsumsi domestiknya besar, negeri Tirai Bambu ini tidak mampu memenuhi demand domestik apalagi mengeksport. Untuk itu mereka mengimpor dan salah satu negara yang dibidik ada Indonesia. Sementara Pemerintah Indonesia sendiri telah membatasi eksport timah paling banyak 100.000 ton per tahun. Dari jumlah tersebut kontribusi PT Timah kurang lebih sebesar 60 .000 ton.

Kenaikan harga timah dunia inilah yang menjadikan kinerja keuangan PT Timah berada pada zona positif. Diharapkan ini menjadi langkah positif sehingga kinerja perusahaan yang bermarkas di Bangka tahun ini bertumbuh lebih baik. Bahkan diharapkan meningkat lebih dari 40 persen kuartal pertama.

Berdasar kinerja di tiga bulan awal ini, ada optimisme bahwa kinerja dari perusahaan perusahaan pertambangan ke depan masih tetapi cerah. Norico melihat perusahaan perusahaan tambang masih bisa menunjukan kinerja pertumbuhan yang lebih bagus baik dari kinerja pendapatan maupun laba bersih ditengah pergerakan harga komoditas yang cenderung fluktuasi. Meski sektor energi dan timah mengalami kondisi yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan emiten sektor logam.
Sementara Ikhsan melihat pasar masih akan mendatar dan belum bergerak pada tren bearish. Menurutnya semua itu tergantung pada harga komoditi dari perusahaan perusahaan tambang tersebut.

Selain kenaikan harga minyak fenomena perlambatan Ekonomi global dan Amerika Serikat, menurut Norico juga berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan perusahaan tambang. Perlambatan ekonomi global dan perekonomian Amerika Serikat tentu berdampak pada perekonomian Asia ; tandas Norico yang ditemui di ruang kerjanya. Sebagian besar eksport komoditas kita diarahkan ke jepang, China, Eropah dan Eropah Timur .

Perlambatan ekonomi Amerika tentu saja akan berimbas pada menurunnya demand atas produk produk elektronik. selama ini eksport barang elektronik dari negara produsen seperti Jepang masih menggantungkan diri pada pasar Amerika. Hal ini tentu berimbas pada permintaan berbagai komoditi pertambangan yang menjadi bahan baku seperti nikel, tembaga dan lainnya.

Selain itu saat ini muncul beberapa produsen baru seperti negara negara dari Amerika Latin. Beberapa negara seperti Peru dan Chile walau total produksinya masih kecil, namun akan menjadi pesaing bagi Indonesia ke ke depan. Hany timah yang diuntungkan karena cadangannya hanya dimiliki oleh beberapa negara.


Terefleksi Pada Pergerakan Harga Saham

Menurut Norico, kondisi kinerja keuangan ini terefleksi dalam pergerakan saham. Pergerakan saham Timah, Medco, Energi Mega Persada, dan PTBA memang lebih baik dibanding saham Aneka Tambang dan INCO yang mengalami apreasiasi tetapi terbatas.

Dari grafik pergerakan saham selama kuartal pertama hingga awal Mei ini sangat terlihat perbedaan antara emiten berbasis energi dengan emiten berbasis logam. Pergerakan saham BUMI Resources misalnya boleh dikatakan masih menarik. Meski sempat melorot pada awal April namun sekarang sudah mulai kembali bergerak ke arah positif.
Tren yang sama juga ditunjukan oleh PTBA. Perusahaan ini terus memperlihatkan grafik naik. Perusahaan ini telah menaikan volume eksportnya khusus untuk tambang yang di Kalimantan. Demikian juga dengan yang terjadi di emiten Indo Tambangraya Megah (ITRM), walau pergerakannya tidak seagresif emitem lain namun pergerakan saham berkode ITRM ini masih positif dan cenderung mendatar (side ways).

Sementara gambaran berbeda terjadi pada eminten International Nickel Indonesia.Tbk (INCO). Perusahan nikel kelas dunia ini memang sedang terhimpit oleh merosotnya harga nikel dunia. Belum lagi harga minyak dunia yang melambung. Kondisi ini kemudian terefleksi dalam Pergerakan sahamnya yang terus melorot. Keadaan yang tidak jauh berbeda dengan PT. Aneka Tambang (ANTAM). Perusahaan BUMN yang satu ini juga terkena dampak turunya harga nikel dunia karena salah satu produknya adalah feronikel.

Sementara PT. Timah (TINS) yang lagi mengalami situasi yang menguntungkan. Walau produksinya turun namun karena harga timah lagi melambung, kinerja saham Timah pun menarik.

Menurut Ikhsan Binarto, pergerakan saham ini akan side ways belum akan bearish. Dan sama emiten pertambangan khusus sektor energi memang masih tetap menarik khusus di sektor energi.

icon