*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 28 Mei 2008 | 21.17
Bupati Suyoto: Bojonegoro Bukan Kabupaten Minyak

TAMBANG, 28 Mei 2008

Bojonegoro berada di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Kota kecil ini terkenal ke seluruh dunia karena kandungan minyak dan gas buminya yang kini dieksploitasi beberapa perusahaan besar, diantaranya Petrochina, Pertamina, dan ExxonMobil. Sayang, hingga saat ini Bojonegoro masih termasuk lima daerah termiskin di Jawa Timur.

Abraham Lagaligo
abraham@tambang.co.id

TAMBANG, 28 Mei 2008

Bojonegoro berada di perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Kota kecil ini terkenal ke seluruh dunia karena kandungan minyak dan gas buminya yang kini dieksploitasi beberapa perusahaan besar, diantaranya Petrochina, Pertamina, dan ExxonMobil. Sayang, hingga saat ini Bojonegoro masih termasuk lima daerah termiskin di Jawa Timur.

Kondisi ini merupakan tantangan besar bagi Bupati Bojonegoro yang baru, Suyoto. “Kami menyadari produksi minyak ini mempunyai nilai tambah bagi rakyat Bojonegoro. Tapi itu tidak bisa diandalkan,” tutur Bupati yang baru menjabat tiga bulan ini. Berikut petikan wawancara Majalah TAMBANG dengan Bupati Bojonegoro Suyoto, di arena Conference & Exhibition IPA ke-32, Jakarta Covention Center, Rabu, 28 Mei 2008.

T: Sejauh mana akselerasi produksi minyak di Bojonegoro dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat?

S: Kami menyadari produksi minyak ini mempunyai nilai tambah bagi perekonomian rakyat Bojonegoro, tapi itu tidak bisa diandalkan. Jadi artinya rakyat Bojonegoro tidak serta merta menjadi makmur gara-gara minyak. Tapi minyak bisa menjadi potensi yang dapat mempercepat kemajuan ekonomi kalau kita bisa mengelola keuangan dengan sebaik-baiknya untuk pembangunan.

T: Berarti daerah yang kaya sumber daya alam belum tentu makmur?

S: Jadi minyak ini kan bukan milik Bojonegoro, tetapi milik Indonesia. Hasil yang masuk ke APBD Bojonegoro hanya 6%. Sektor migas juga tergolong industri yang high teknologi, padat modal, dan butuh keahlian, sehingga tidak mungkin semua rakyat Bojonegoro bisa bekerja di industri minyak yang ada di daerahnya. Mungkin ada peluang lain kalau berdiri industri berbasis migas, namun itu pun tidak besar. Kalau ingin makmur, Bojonegoro harus bisa mengembangkan potensi ekonominya di sektor-sektor yang lain.

T: Sektor apa saja yang dapat dipacu untuk memakmurkan rakyat Bojonegoro?

S: Untuk Bojonegoro, kami sudah menetapkan dua jalur pembangunan ekonomi. Pertama pembangunan ekonomi berbasis migas dengan peningkatan bagi hasil reveniew industri migas antara pemerintah pusat dan daerah. Kedua, pembangunan ekonomi yang berbasis agroindustri. Kita sekarang sedang bekerja keras untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita, padi, melon, dan sebagainya. Demikian pula dengan peternakan. Kita tidak boleh membanggakan Bojonegoro adalah “kabupaten minyak” karena itu hanya akan menjadi ‘mimpi indah’ bagi rakyat. Padahal, meskipun produksi minyak dari Bojonegoro 180.000 barel per hari, APBD Bojonegoro paling tinggi hanya Rp 2,5 triliun. Itu pun kalau dibagi ke masyarakat per kepala cuma dapat Rp 1,5 juta per tahun. Berarti kan tidak bernilai apa-apa.

T: Apakah konsep ini sudah menjadi kesadaran menyeluruh bagi masyarakat Bojonegoro?

S: Ya artinya dengan kenyataan itu maka hasil dari minyak ini tidak boleh dibagi per kepala, melainkan diarahkan untuk akselerasi pembangunan. Perbaikan jalan yang rusak, irigasi, dan sebagainya. Agar menjadi kesadaran yang menyeluruh, saya selalu bilang kepada rakyat saya bahwa Bojonegoro bukan “kabupaten minyak” atau pun “kabupaten jati”. Artinya sumber daya alam yang ada di Bojonegoro adalah milik Indonesia, bukan milik Bojonegoro. Kami lebih senang disebut “kabupaten sapi”, “kabupaten kambing”, “kabupaten melon”, dan sebagainya. Karena potensi-potensi itulah yang akan kami dorong untuk mencapai kemakmuran.

T: Sampai saat ini sejauh mana pertumbuhan ekonomi Bojonegoro?

S: Pertumbuhan ekonomi Bojonegoro lebih kurang 5,6% per tahun. Tapi jangan lupa, Bojonegoro masih termasuk lima daerah termiskin di Jawa Timur. Pertumbuhan 5,6% pada tahun lalu itu hanya terjadi di kota, karena ada proyek besar saat itu. Jadi tidak serta merta pertumbuhan itu berdampak pada perekonomian secara merata.

T: Saat ini, apa saja potensi investasi yang menarik di Bojonegoro?

S: Yang paling menarik sekarang adalah peternakan sapi, kambing, dan pertanian. Selain itu, potensi investasi yang menarik ialah industri support untuk proyek-proyek migas. Kami persilahkan baik investor domestik maupun asing, siapa saja yang mau berinvestasi di Bojonegoro, untuk masuk mencari untung dan menguntungkan rakyat kami.

T: Lantas insentif apa yang diberikan oleh pemerintah daerah bagi investor?

S: Pertama kita akan sungguh-sungguh dan semaksimal mungkin membantu partner lokal. Kedua, masalah perizinan pasti akan kita bantu dan mudahkan sebisa mungkin. Apa pun jenis izinnya, sepanjang itu masih kewenangan Pemkab Bojonegoro, pasti akan kita percepat. Contohnya izin lokasi refinery milik MCL, kami selesaikan hanya dalam beberapa hari. Dalam waktu dekat juga akan kami wujudkan pengurusan perizinan satu atap. Lalu yang ketiga, semua perbankan yang ada di Bojonegoro saya minta mendukung pengusaha lokal yang mau berinvestasi.

icon