*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
TAMBANG, 29 Desember 2011 | 05.52
Uber Target Dengan Pendekatan Personal

Saat ditetapkan sebagai Presiden Direktur (Presdir) PT Pertamina EP, nama Syamsu Alam sudah tidak asing lagi di telinga stakeholders minyak dan gas (migas) Tanah Air. Maklum, beberapa bulan sebelum benar-benar menduduki posisi itu, pria kelahiran Purworejo ini sudah menjadi PTH (Pelaksana Tugas Harian) Presdir Pertamina EP. Presdir sebelumnya, Salis S Aprilian mengemban tugas baru di induk perusahaan, PT Pertamina (Persero) sebagai Senior Vice President of Upstream Strategic Planning and Subsidiary Management. Kini Salis diangkat menjadi Presdir Pertamina Hulu Energi.
Dari perbincangan santai dengan Majalah TAMBANG terungkap, memegang tanggung jawab untuk posisi yang lebih tinggi bukan hal baru bagi Alam, sapaan akrabnya. ”Sejak masih Manajer, saya sudah sering menjadi PTH General Manager maupun Senior General Manager,” ujarnya. Iapun dipaksa belajar dengan cepat, semua urusan seputar eksploitasi isi perut bumi. Pengalaman di lapangan maupun ”di belakang meja” diserapnya lengkap, sejak bergabung ke Pertamina pada 1989.
Percepatan proses belajar itu, kini ditularkan ke jajarannya di Pertamina EP. ”Saya dorong tiap-tiap orang di Pertamina EP berpikir dan berperilaku lebih dari posisinya,” tutur peraih Doktor dari Texas A&M University ini. Terlebih saat ini, Pertamina EP membutuhkan berbagai percepatan agar dapat membayar ”utang” yang tertunggak sejak awal 2011. Toh ditengah kesibukannya mengejar target, bapak satu anak ini menyimpan secercah obsesi untuk bola kaki. Berikut penuturannya.


Waktu awal bergabung dengan Pertamina dulu, di mana Anda ditempatkan?
Saya masuk Pertamina tahun 1989, melalui proses namanya Bimbingan Sarjana Teknik yang dikenal juga dengan istilah PPSD. Pertamina EP dulu namanya Direktorat EP (Eksplorasi dan Produksi), kantornya di Kramat Raya nomor 59 Jakarta, belum ada Direktorat Hulu. Saya sempat menunggu hampir satu tahun untuk mengikuti tes di Pertamina waktu itu, 1988 sampai 1989. Sempat diterima di tempat lain, tetapi saya tidak mau dikirim ke lapangan. Saya bilang masih menunggu hasil tes dari Pertamina. Akhirnya lolos juga.
Awal di Pertamina saya ditempatkan di Cepu. Waktu itu saya memegang posisi ”field supervisor”. Biasanya geologis yang diterima Pertamina ditugaskan di sumur, tapi saat itu saya dikelompokkan di Geofisika. Belum banyak memang tenaga geofisika waktu itu. Kalau di sumur yang di-handle hanya beberapa puluh orang, sedangkan di posisi saya waktu itu sampai ribuan orang. Di situ saya belajar menangani operasi. Asyik bekerja, eh tahun 1992 saya ditawarin sekolah. Ya sudah, saya terima.

Ditawari studi di mana Anda waktu itu?
Saya mengambil S2 di ITB, bukan di geologi lagi, tapi geofisika. Setelah selesai, pada 1994 saya kemudian ditempatkan sebagai staff di Cirebon. Tapi itu cuma sebentar, karena setelah itu Pertamina EP yang di eksplorasi semua dipindahkan ke Jakarta. Tidak ada lagi di unit. Tahun 1996 saya sekolah lagi sampai 2001 di Texas, Amerika Serikat. Jadi dalam rentang masa kerja saya, tujuh tahun saya habiskan untuk sekolah. Senangnya, karena sudah bekerja teori-teori yang didapat di bangku kuliah bisa langsung terekam secara aplikatif di otak saya.

Lantas pulang dari studi, tugas apa yang Anda emban?
Selesai sekolah pada 2001 saya full di teknikal, menangani Divisi Teknologi, 2001 sampai 2005 masuk ke struktural, menjadi Manager Eksplorasi di Prabumulih, di situlah saya didorong untuk tahu operasi lebih banyak. Saat itu, Pak Subarkah Kustowo atasan saya dipindah ke Jakarta menjadi Direktur Operasi Pertamina. Jadi saya yang pure di teknik, beberapa kali harus menjadi PTH SGM (Senior General Manager) sehingga mengalami penanganan operasi, produksi, dan sebagainya.
Disitulah saya awalnya dipaksa untuk belajar, meski cuma enam bulan. Masuk 2007 saya ditugaskan jadi General Manager beneran, di JOB Pertamina-Medco Tomori Matindok, Senoro, Luwu, Sulawesi Tengah, 2007-2008 Agustus. Kalau saya hitung mungkin tepatnya 9 bulan 2 minggu di Luwu. Kemudian saya balik ke Pertamina lagi menjadi Direktur Eksplorasi dan Pengembangan, mulai 2008-2011. April 2011 ada RUPS saya diminta menjadi Presiden Direktur.

Apakah perjalanan karir yang penuh tantangan itu Anda tularkan ke jajaran Pertamina EP, saat sekarang Anda menjadi Presdir?
Terus terang saya sering memotivasi kawan-kawan, kalau kita sudah jadi manager, kita harus men-set pemikiran setingkat General Manager atau VP (Vice President). Hal-hal yang di level manager delegasikanlah ke asisten manager Anda. Kalau posisinya sudah manager, lalu pola pikir dan perilakunya juga manager, buat apa? ketika saya sekarang sudah jadi Presdir, maka pemikiran dan sikap sebagai Presdir ini saya tularkan ke teman-teman lain yang di posisi Board of Director atau VP. Ini juga merupakan bagian dari tanggung jawab saya. Kita kan tidak pernah tahu berapa lama berada di suatu tempat. Sehingga ketika saya harus pergi menempati posisi yang lain, kawan-kawan sudah siap.

Jadi Anda tidak pernah kekurangan kader ya?
Harapannya sih seperti itu. Walaupun di Indonesia, secara umum mendidik kader itu tidak gampang. Tapi saya yakin di Pertamina banyak orang-orang yang capable untuk duduk di suatu tempat. Cuma memang kadang-kadang tidak percaya diri, karena merasa sendirian tidak ada teman. Makanya memang kita harus banyak teman, kalau tidak ada teman kita repot. Terlebih di Pertamina EP ini, seseorang kalau sudah di level General Manager, sejatinya dia adalah CEO. Para Field Manager itu juga sebenarnya CEO kalau di perusahaan lain. Mereka harus tahu persis asetnya, potensi lapangannya. General Manager harus tahu aset yang lebih besar lagi. Jadi saya ini membawahi belasan CEO.

Kok CEO, maksudnya bagaimana?
Sekarang kita lihat begini, di Indonesia ini PSC (perusahaan pemegang Production Sharing Contract migas) ada berapa, dan berapa yang produksinya diatas 5.000 BOPD (Barrel Oil per Day)? Bisa dihitung dengan jari. Lainnya sebagian besar 1.000 BOPD. Makanya saya bilang ke para Field Manager dan General Manager Pertamina EP, anda ini memegang aset yang produksinya rata-rata 1.000, yang di-atas 1.000 banyak. Anda ini sebanarnya sama dengan Presdir di PSC lain, asetnya sama kok.
Jadi kalau saya tanya, apa strategi untuk asetnya masing-masing, mereka harus tahu. Saya juga minta mereka berani mengambil tanggung jawab. Kalau memang bisa diputuskan di level dia, segera putuskan. Kalau memang tidak bisa, jangan berlama-lama diam karena takut dianggap tidak mampu. Langsung sampaikan kalau butuh penyelesaian di otoritas yang lebih tinggi. Menunda menyelesaikan persoalan dampaknya besar, proyek bisa delay semua. Kalau itu sudah dipahami dan kita melakukan proses bisnis dengan benar, maka kita bisa mengelola aset dengan optimal.

Alam pun menuturkan, besarnya aset dan potensi yang dikelola Pertamina EP, merupakan bekal optimisme semua jajarannya untuk mengejar target dan ”utang” produksi di waktu-waktu sebelumnya. Ia mengungkapkan, produksi rata-rata Pertamina EP pada Desember 2010 tinggal 126.000 BOPD dari sebelumnya 135.000 BOPD di Juli – Agustus 2010. Padahal target produksinya di 2010 sebesar 130.000 BOPD.
Walau pencapaian rata-rata tahunan di 2010 sebesar 129.000 BOPD, tetap saja masuk 2011 Pertamina EP berutang produksi 6.000 BOPD. Utang itu semakin menumpuk, karena di 2011 BP Migas menaikkan target produksi Pertamina EP menjadi 132.000 BOPD. Sementara riil di lapangan, produksi terus anjlok sejak Januari 2011 hingga mencapai titik terendahnya 122.000 BOPD di Juli – Agustus 2011. Alam pun memutar otak, bagaimana mengejar ketertinggalan yang begitu jauh.
Apalagi pada 2012, BP Migas menaikkan kembali target produksi Pertamina EP menjadi 134.000 BOPD. Manuver pun dilakukan. Ia minta semua jajarannya melakukan percepatan. Program-program 2012 ditarik untuk dilaksanakan pada Semester II-2011. ”Tahun baru 2012, kita tidak mau lagi utang terlalu banyak. Kalau perlu di 2011 ini kita sudah bisa mencapai 134.000 BOPD,” tandasnya kepada Hidayat Tantan, Abraham Lagaligo, dan fotografer Taufiequrrochman dari Majalah TAMBANG, Jumat, 28 Oktober 2011.


Apakah target 134.000 BOPD di 2012 itu tidak terlalu ambisius. Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) migas lain, targetnya tidak dinaikkan saja pusing?
Saya sih untuk target sepakat saja. Bukan cuma mau show, tapi kalau kita mematok tahun depan sama dengan tahun lalu di 132.000 BOPD, tentu tidak ada tantangannya. Jujur, kita menerima angka dari BP Migas itu, juga dengan melihat beberapa potensi yang ada. Jadi target 134.000 BOPD itu kita anggap challenge (tantangan, red). Kita akan berusaha keras untuk mencapainya.
Saya sudah sampaikan ke kawan-kawan, target 2011 itu kita lupakan. Sudah tidak mungkin kita mencapai rata-rata tahunan 132.000 BOPD di 2011. Tapi kita ingin di November dan Desember 2011, rata-rata bulanan sudah diatas 132.000 BOPD. Bahkan kalau bisa 134.000 BOPD atau lebih. Karena kalau tidak, tahun baru 2012 kita utang lagi. Jadi program-program di 2012 kita tarik untuk dipercepat di 2011, sehingga di akhir 2011 kita sudah bisa mencapai produksi yang tidak jomplang dengan target 2012.

Lalu apa yang membuat target produksi di 2011 sulit dikejar?
Ya karena decline, dan ketika kita mencapai decline tidak mudah untuk segera naik. Karena memang saat decline itu ada unplanned shutdown, ada keterlambatan kita mengeksekusi pengeboran, dan sebagainya. Ada miss strategy lah di situ, kita akui. Nah Januari 2011 sampai Agustus 2011 itu turun terus. Juli-Agustus 2011 itu produksi kita berada pada posisi yang paling rendah, 122.000 BOPD. Se-betulnya bukan kita diam saja. Pada Maret – April 2011 kita sudah sadar target kita 132.000 BOPD di 2011, tapi pick kita masih dibawah itu. Sehingga kita ada beberapa program percepatan.
Hal yang sementara membuat saya puas adalah semua rekan kita di Pertamina EP sadar, harus ada yang berbeda, harus kita lakukan lebih dari biasanya. Harus ada koordinasi yang lebih bagus, harus ada percepatan-percepatan yang kita lakukan, sehingga produksi di akhir tahun ini sudah bisa mendekati angka target di tahun depan. Sebab di tahun depan, 2012, target kita sudah 134.000 BOPD. Pokoknya harus naik terus targetnya kalau Pertamina EP.

Kalau sekarang riilnya berapa capaian produksi Per-tamina EP?
Kalau bicara year to date, produksi rata-rata kita di 124.000 BOPD. Tetapi yang saya agak puas, di September 2011 produksi kita sudah mulai naik di 126.000 BOPD. Oktober juga kita harapkan sudah mulai di atas itu. Tapi hasil September lalu merupakan hasil percepatan yang kita mulai di awal-awal 2011. Jadi hasilnya baru kita rasakan di Semester kedua 2011. Saya juga senang karena ternyata stakeholder yang lain juga mendukung. BP Migas, Kementerian ESDM, sampai Kementerian Kehutanan juga mensupport.
Izin-izin kehutanan yang sebelumnya menjadi kendala, sudah bisa dilaksanakan. Begitu pun dengan berbagai persoalan terkait regulasi. Sehingga pengeboran di Semester kedua 2011 ini bisa lebih cepat. Saya sangat mengapresiasi semua rekan di Pertamina EP, baik yang ngebor di lapangan maupun yang berurusan dengan birokrasi sudah aware, kita masih jauh dari target. Itu modal yang besar bagi saya, dan semoga bisa berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Jadi dengan modal itu Anda cukup optimis bisa membayar utang produksi tahun ini dan tahun sebelumnya?
Kita selalu optimis. Tetapi yang menjadi kendala ya unplanned shutdown itu. Belum lagi yang unpredictable. Kalau gelas kan bisa kita lihat isinya sekian, tetapi perilaku reservoir tidak bisa diprediksi seperti apa. Seperti bayi, kalau salah perlakuan sedikit bisa ngambek. Kemudian ada juga di UBEP Ramba, kita masih ada delay beberapa program seperti penambahan rig dan sebagainya. Itu baru bisa kita mulai akhir tahun ini.

Bagaimana dengan upaya meningkatkan produksi lapangan-lapangan tua, seperti lewat program EOR misalnya?
Memang sekitar 90% lapangan kita relatif tua. Pengertian tuanya adalah karena kita masih mengelolanya dengan cara-cara primary. Maka dari itu, untuk lapangan-lapangan seperti Limau, Tanjung, lalu sebagian Rantau dan Lirik, sudah kita lakukan water flood, yang mungkin bisa memberikan tambahan produksi sampai 10.000 BOPD. Tapi kalau ditanya, dari seluruh lapangan tua pick-nya bisa berapa? Saya belum mau sebut angka sekarang. Nanti ditagih-tagih terus, ha...ha...ha...

Kalau target itu tidak tercapai, apakah bakal berpengaruh pada KPI (Key Performance Indicators) Anda sebagai Presiden Direktur?
Terus terang saya tidak pernah bekerja untuk KPI. Kadang-kadang KPI itu juga membelenggu kita, karena gara-gara itu kita tidak bekerja untuk yang lain. Jadi do the best saja. Memang KPI ukuran kinerja. Tapi manusia yang dinilai kan niat dan usahanya. Kalau mengejar KPI, bisa saja saya bilang target produksi yang aman buat saya 130.000 BOPD. Tapi bagaimana dengan Pertamina EP yang punya cita-cita menjadi world class? Ketika 2006 kita mencanangkan bakal world class, sebenarnya kita sudah memaksakan diri, menanamkan keyakinan bahwa kita harus growth. Jadi kalau KPI dari luar itu memberikan target tinggi, ya memang masih in line dengan visi Pertamina EP.

Selain bermodal tekad dan semangat dari seluruh jajarannya, Alam mengatakan potensi lapangan-lapangan Pertamina EP juga masih bisa dioptimalkan. Ia mencontohkan lapangan Pondok Makmur, yang kalau skenarionya tidak meleset, produksinya bisa mencapai 4.000 BOPD. Minyak Pondok Makmur sekarang baru terangkat 1.500 BOPD. Masih ada 2.500 BOPD lagi yang belum bisa di-angkat karena ada ulah reservoir yang berbeda. Semula penambahan sumur diharapkan bisa menyemburkan minyak, tapi ternyata gas yang lebih dulu keluar. ”Itu yang disebut assosiated gas,” kata Alam.
Ibarat sekali dayung, dua-tiga pula terlampaui. Meski terjadi keterlambatan, namun akhirnya dari Pondok Makmur bisa dihasilkan minyak dan gas sekaligus. Saat ini Pertamina EP sedang menyiapkan pembangunan pipa yang dapat mengkoneksikan gas dari Pondok Makmur ke Muara Tawar dan Tegal Gede. Jika gas sudah bisa dialirkan, maka 2.500 BOPD minyak juga terangkat.
Potensi lainnya juga di TAC Pan, Pertalahan, di Natuna. Di sana, sejak Juli sampai sekarang (sekitar 3,5 bulan) produksinya 1.900 sampai 2.000 BOPD distop, karena subsie house-nya putus dihantam gelombang. Ke depan produksi di TAC Pan bisa diaktifkan kembali, sehingga selain 2.500 dari Pondok Makmur, ada tambahan lagi 2.000 BOPD dari di TAC Pan. Maka totalnya tambahan 4.500 BOPD. Harapan juga digantungkan pada lapangan Sukowati yang sudah dibor tiga sumur lagi, dan akan dikembalikan produksinya ke 36.000 BOPD. Pada lapangan yang 80% share-nya dipegang Pertamina EP itu bisa didapatkan 1.000 BOPD lagi.
Selain itu, potensi juga ada di Sanga-sanga yang sedang dibor secara agresif oleh Pertamina EP. Sekarang produksi di Sanga-sanga sudah diatas 8.000 BOPD. Lalu dari lapangan Bunyu, atau lapangan KTI yang termasuk dalam wilayah Bunyu, beberapa saat yang lalu produksinya bisa tembus 10.000 BOPD lebih, dan sekarang bertahan diatas 9.800an.
Terkait pencapaian target produksi, selain unplanned shutdown, menurut Alam yang cukup mengganggu adalah pencurian minyak, terutama di Sumatera Selatan dan Jambi. Sekali kejadian bisa sampai 4.000 barel minyak yang hilang. Akibat tindak kriminal tersebut, bukan hanya produksi yang hilang Lebih dari itu adalah keterlambatan produksi untuk perbaikan, serta kerugian lingkungan akibat tumpahan minyak dari pipa yang digarong. (Soal pencurian minyak telah diulas secara mendalam di Majalah TAMBANG Volume 6 No. 75/September 2011).
Terkait dengan target produksi Pertamina EP yang terus dinaikkan, Alam mengaku maklum. Karena Pertamina EP adalah salah satu tulang punggung Indonesia untuk mencapai produksi satu juta barel equivalen minyak per hari pada 2013. Meski tak menampik pada 2011 ada miss strategy, namun menurutnya kalau diukur dari penurunan produksi alamiahnya yang mencapai 18% per tahun, dan hasil sekarang yang rata-rata meningkat 6% setiap tahun, maka pertumbuhan yang dicapai sebenarnya 24%. Sedangkan untuk produksi gas, tren Pertamina EP selalu naik. Yakni dari 1.054 MMSCFD pada September 2010, menjadi 1.059 MMSCFD pada September 2011.


Ada yang bilang masa depan bisnis migas Indonesia itu di gas, bukan di minyak?
Sebenarnya di Pertamina EP sendiri kita sudah menyadari itu. Makanya simbol Pertamina EP itu E dan P-nya merah. Itu simbol gas. Dari dulu kita aware revenue terbesar Pertamina EP adalah di gas. Kita pun melihat dari temuan-temuan terakhir eksplorasi, dominan gas. Maka kita ke depan perlu perubahan strategi untuk mengembangkan dan mamasarkan gas. Kita pun harus bisa menyeimbang-kan antara pemenuhan domestik dan ekspor. Saat ini semua produksi gas kita baru bisa memenuhi 70-80% dari kontrak, belum bisa 100%.

Apakah Pertamina EP yang termasuk terkena imbas ketika dulu harga gas ke dalam negeri rendah sekitar USD 2 per MMBTU?
Harga gas kita yang terendah memang sampai USD 1,85 per MMBTU. Tetapi kalau dibilang rugi juga tidak. Kita pun harus fair, dulu harga gas rendah karena tidak ada yang mau beli. Walaupun harus diakui dulu kita kurang jeli saat membuat kontrak, tidak dibuat formula yang dikaitkan dengan harga minyak dan sumber energi lainnya. Itu yang sekarang harus diperbaiki, direnegosiasi. Kita akan kejar harga gas Pertamina EP ke depan semuanya diatas USD 4 per MMBTU. Pengguna di dalam negeri seperti PGN dan PLN juga welcome kok.

Apakah untuk renegosiasi itu Pertamina EP bisa bargaining dengan para buyer, mengingat gas sedang banyak dicari orang?
Kita lebih mengedepankan komitmen untuk menghargai kontrak. Yang bisa kita lakukan approach, kalau memang ada untung lebih dari pemakaian gas, tolong di-share lah agar harga gas Pertamina juga memenuhi keekonomian dan investasi pada gas bisa ditingkatkan. Biasanya kita bilang, kita sekarang belum bisa memenuhi kebutuhan dia 100%. Tetapi kita punya potensi yang bisa digarap, dan butuh investasi. Kita bisa memenuhi kebutuhan dia 100% kalau harganya disesuaikan.
Seperti dengan PGN terus terang saja, pemenuhan kebutuhan gas dia dari Sumatera Selatan kan masih kurang banyak. Dari total 250 MMSCFD paling kita baru bisa memenuhi 130-an MMSCFD. Kami kemarin juga ketemu mereka, kita katakan bahwa sekarang ini kan kita masih kurang 120-an MMSCFD nih, kita minta yang 102-an ini harganya jangan yang seperti dulu lah. Saya rasa mereka bisa mengerti itu.

Ngomong-ngomong, apa kiat Anda memimpin perusa-haan migas yang wilayah kerjanya tersebar dari Aceh sampai Papua ini?
Kalau diukur dari luas area kerjanya, mungkin Pertamina EP ini sama dengan 10-13 KKKS. Kalau untuk komunikasi tidak ada masalah. Kita datang ke field bukan cuma inspeksi, melainkan berdialog menjalin chemistry yang lebih. Walaupun daerahnya begitu luas, tetap yang saya kedepankan pendekatan personal. Untuk meningkatkan intensitas dialog, kita lakukan juga “Town Hall Meeting” dan video conference semua bisa kita sapa dan saling melihat satu sama lain.
Intinya saya juga kuatkan pendelegasian, kita punya General Manager (GM), di lapangan kita juga punya Field Manager. Kita coba bangun saling kepercayaan terutama dengan pucuk pimpinan di lapangan yakni “Field Manager”, mereka kan CEO-CEO juga posisi tertinggi yang memegang aset di sana. termasuk GM yang di sana juga CEO.

Untuk saat ini, apa yang Anda lihat perlu ditingkatkan oleh Pertamina EP?
Saya lihat yang urgen adalah internal improvement. Makanya kita punya program “continue improvement”. Untuk benar-benar menjadi world class company kita harus berpikir besar dan maju. Selanjutnya kita harus berpikir bagaimana mencapai itu dengan best practice, baku mutu yang bisa kita pertanggungjawabkan, dan kita lakukan terus-menerus. Tidak boleh berpuas diri. Kemudian kita juga ditransformasi, selalu berubah menjadi lebih baik.
Untuk itu, kita sempat pakai konsultan. Tetapi karena dianggap membuat kerja tambahan, maka kita tiadakan konsultan. Sebagai gantinya kita angkat VP Transformasi, kita rekrut beberapa expert bidang transformasi. Karena transformasi bisa dianggap sukses kalau sudah dilakukan semua orang, maka kita buat agent of change sampai ke field. Saat ini kita punya seratusan agent of change, yang punya akses langusng ke Presdir dan Direksi. Mereka bisa laporkan bila ada pihak-pihak yang tidak mau melakukan transformasi.

icon
Berita Lain
29 Desember 2011 | 05.52
Wanita Harus Lebih Pandai dari Pria
29 Desember 2011 | 05.52
Bisnis itu Sangat Dinamis
29 Desember 2011 | 05.52
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri
29 Desember 2011 | 05.52
Siap Jadi Yang Pertama