*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
Warning: getimagesize(news/attachements/4thgolfturnamen.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Alternative content

ARTIKEL
TAMBANG 27 November 2012 | 05.45
Migas non-konvensional dan geopolitik energi di masa depan
Di industri migas, adanya migas non-konvensional, seperti: shale oil, oil sand, shale gas, tight sand, dan coal-bed methane (gas metana batubara), sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Potensi migas non-konvensional yang kaya organik di beberapa perusahaan migas selama ini sudah teridentifikasi, namun relatif diabaikan karena sangat rendahnya permeabilitas. Ini mencerminkan kesulitan untuk mengalirkan migas tersebut.
Migas non-konvensional dan geopolitik energi di masa depan
Di industri migas, adanya migas non-konvensional, seperti: shale oil, oil sand, shale gas, tight sand, dan coal-bed methane (gas metana batubara), sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Potensi migas non-konvensional yang kaya organik di beberapa perusahaan migas selama ini sudah teridentifikasi, namun relatif diabaikan karena sangat rendahnya permeabilitas. Ini mencerminkan kesulitan untuk mengalirkan migas tersebut.
TAMBANG 22 November 2011 | 22.21
Peningkatan Nilai Tambah di Sektor Pertambangan dan Peran Batubara
Sehubungan dengan adanya rencana Pemerintah didalam menerbitkan peraturan menteri ESDM tentang peningkatan nilai tambah di sektor pertambangan serta untuk membantu memberikan penyelarasan pemahaman secara bersama, maka kami ingin menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan rencana tersebut diatas sebagai berikut:
Peningkatan nilai tambah batubara memiliki makna yang berbeda dengan peningkatan nilai tambah mineral. Peningkatan nilai tambah batubara dilakukan dengan cara peningkatan nilai kalori batubara (coal upgradding) dan pengubahan batubara dengan cara pencairan batubara (coal liquefaction) dan gasifikasi batubara (coal gasification). Kegiatan pengolahan yang dilakukan tersebut tentunya tidak mengubah fungsi batubara sebagai sumber energi. Peningkatan nilai tambah batubara ini lebih ditujuan untuk meningkatkan kualitas batubara, kemudahan transportasi dan kemudahan pemanfaatannya.
Peningkatan Nilai Tambah di Sektor Pertambangan dan Peran Batubara
Sehubungan dengan adanya rencana Pemerintah didalam menerbitkan peraturan menteri ESDM tentang peningkatan nilai tambah di sektor pertambangan serta untuk membantu memberikan penyelarasan pemahaman secara bersama, maka kami ingin menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan rencana tersebut diatas sebagai berikut:
Peningkatan nilai tambah batubara memiliki makna yang berbeda dengan peningkatan nilai tambah mineral. Peningkatan nilai tambah batubara dilakukan dengan cara peningkatan nilai kalori batubara (coal upgradding) dan pengubahan batubara dengan cara pencairan batubara (coal liquefaction) dan gasifikasi batubara (coal gasification). Kegiatan pengolahan yang dilakukan tersebut tentunya tidak mengubah fungsi batubara sebagai sumber energi. Peningkatan nilai tambah batubara ini lebih ditujuan untuk meningkatkan kualitas batubara, kemudahan transportasi dan kemudahan pemanfaatannya.
TAMBANG 14 April 2011 | 04.59
Pembatasan BBM dan Momentum Pengembangan EBT
Melonjaknya harga minyak yang menembus angka US$ 100/barel memiliki implikasi yang luas bagi ekonomi Indonesia. Disamping berdampak pada peningkatan penerimaan minyak dan gas (migas), juga berdampak pada peningkatan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Diperkirakan melonjaknya harga minyak ini akan berdampak pada besaran subsidi hingga mencapai Rp 70 triliun termasuk subsidi PT PLN (Persero) yang mencapai 27 triliun. Untuk itu diperlukan pengelolaan keseimbangan penerimaan migas dan subsidi BBM.
Tujuan pemerintah menerapkan pembatasan pemakai konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi disamping untuk menghindari membengkaknya subsidi BBM juga dimaksudkan agar alokasi subsidi tepat sasaran dengan mempertimbangkan faktor kemampuan daya beli masyarakat. Menurut hitung-hitungan kasar, pembatasan konsumen BBM bersubsidi dapat menghemat penambahan BBM hingga Rp10 triliun atau dengan kata lain apabila tidak dilakukan pembatasan maka dapat menambah sub-sidi Rp10 triliun atau sekitar US$1 miliar.
Pembatasan BBM dan Momentum Pengembangan EBT
Melonjaknya harga minyak yang menembus angka US$ 100/barel memiliki implikasi yang luas bagi ekonomi Indonesia. Disamping berdampak pada peningkatan penerimaan minyak dan gas (migas), juga berdampak pada peningkatan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Diperkirakan melonjaknya harga minyak ini akan berdampak pada besaran subsidi hingga mencapai Rp 70 triliun termasuk subsidi PT PLN (Persero) yang mencapai 27 triliun. Untuk itu diperlukan pengelolaan keseimbangan penerimaan migas dan subsidi BBM.
Tujuan pemerintah menerapkan pembatasan pemakai konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi disamping untuk menghindari membengkaknya subsidi BBM juga dimaksudkan agar alokasi subsidi tepat sasaran dengan mempertimbangkan faktor kemampuan daya beli masyarakat. Menurut hitung-hitungan kasar, pembatasan konsumen BBM bersubsidi dapat menghemat penambahan BBM hingga Rp10 triliun atau dengan kata lain apabila tidak dilakukan pembatasan maka dapat menambah sub-sidi Rp10 triliun atau sekitar US$1 miliar.
TAMBANG 25 Oktober 2010 | 09.41
Quo Vadis Kebijakan Energi Nasional?
Dalam beberapa bulan terakhir, gencar pemberitaan secara berturut-turut tentang kebakaran dan kecelakaan akibat meledaknya tabung elpiji 3 kg di rumah-rumah penduduk. Sebagaimana kita ketahui, kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji adalah salah satu upaya pemerintah untuk keluar dari beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak di APBN. Jauh sebelum kebijakan itu digulirkan, pemerintah telah memperkenalkan cara-cara lain untuk keluar dari jeratan subsidi BBM termasuk minyak tanah. Antara lain dengan mengintrodusir “briket batubara”, penggunaan minyak jarak dan biofuel lainnya, serta penggunaan CNG untuk kendaraan umum.
Quo Vadis Kebijakan Energi Nasional?
Dalam beberapa bulan terakhir, gencar pemberitaan secara berturut-turut tentang kebakaran dan kecelakaan akibat meledaknya tabung elpiji 3 kg di rumah-rumah penduduk. Sebagaimana kita ketahui, kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji adalah salah satu upaya pemerintah untuk keluar dari beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membengkak di APBN. Jauh sebelum kebijakan itu digulirkan, pemerintah telah memperkenalkan cara-cara lain untuk keluar dari jeratan subsidi BBM termasuk minyak tanah. Antara lain dengan mengintrodusir “briket batubara”, penggunaan minyak jarak dan biofuel lainnya, serta penggunaan CNG untuk kendaraan umum.
TAMBANG 08 Oktober 2010 | 12.09
Membaca Pergerakan Harga Minyak Dunia
Setelah harga minyak dunia sempat menyentuh pada level USD 83,52 per barel per 7 Januari 2010, kini harga minyak terus mengalami penurunan. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi perkembangan harga minyak mentah di pasar dunia menunjukkan adanya trend penurunan. Pada pertengahan Maret harga minyak dunia sedikit mengalami penurunan ke kisaran USD 82 per barel, namun pada minggu ketiga Mei turun terus mengalami penurunan.
Membaca Pergerakan Harga Minyak Dunia
Setelah harga minyak dunia sempat menyentuh pada level USD 83,52 per barel per 7 Januari 2010, kini harga minyak terus mengalami penurunan. Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi perkembangan harga minyak mentah di pasar dunia menunjukkan adanya trend penurunan. Pada pertengahan Maret harga minyak dunia sedikit mengalami penurunan ke kisaran USD 82 per barel, namun pada minggu ketiga Mei turun terus mengalami penurunan.





